Bukittinggi. Bukittinggi hanyalah kota kecil pada ketinggian 909-941 m dari permukaan laut, sehingga udaranya sejuk sekali. Dan karena diapit oleh tiga gunung yaitu Gunung Singgalang, Gunung Merapi dan Gunung Sago, Bukittinggi dijuluki kota Tri Arga. Teksturnya yang berbukit-bukit dan berlembah2 menjadi asset pariwisata yang potensial, menjelaskan kenapa Bukittinggi terkenal sebagai Kota Wisata.
Ini adalah jalan kenangan. Kalo pulang sekolah, SMP dan SMA, hampir selalu lewat sini. Liat pohon-pohon rindangnya. Kalo sore, akan banyak jualan lewat sana, sandwich/roti bakar, sate, somay, pisang molen, dll. Udaranya sejuk. Kadang lewat para pelari sore, mereka memakai jaket parasut dan celana panjang. Emang ga panas ya? Menurut kabar burung, katanya itu para petinju yang lagi nurunin berat badan, ya olahraga pake jaket parasut efektif buat membakar lemak. Hmmm…..

Ini jalan Sudirman Bukittinggi. Di ujung belokan sana adalah SMA 2 Bukittinggi. Pohon-pohon rindang ini yang melindungi kulit dari sengatan mentari saat pulang jam 13.45 untuk masuk sekolah sore jam 14.30. ada yang Bike to work tuh….

Terus berjalan akan sampai di Lapangan Wirabraja, atau yang lebih dikenal dengan nama Lapangan Kantin. Denger-denger nama itu karena dulu ada sebuah kantin disana trus tutup. Hah, cerita yang tidak bertanggungjawab
. Lapangan rakyat ini sore akan dipenuhi anak muda yang main basket di lapangan sudut, yang berlari di track atletik, ataupun orang-orang yang agak tua yang memilih berjalan saja, serta yang main bola di lapangan rumput.

Shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, juga diadakan disini. Upacara 17an, dan upacara membosankan lainnya juga sering diadakan disini. Waktu SMA dan SMP sering olahraga disini, dan saya liat teman2 saya ngeceng. Yah, namanya juga anak muda
. Saya inget dulu main tolak peluru, ujian atletik, main kasti, lempar cakram, main bola kaki, main bola tangan, main kejar-kejaran disini. Waktu SMP, lomba drumband disini, mempertaruhkan nama baik dan perang mendarah daging antara SMP 1 dengan SMP Xaverius. Tapi hanya untuk soal drumband saja.
Di sudut kanan ada jembatan refleksi. Dulu pada awal-awal baru dibangun, jembatan ini jadi primadona, bahkan sampai dari luar kota. Sedemikian populernya jembatan ini sampai dibangun satu lagi, di depan SD 43 Belakang Balok, SD saya. Layaknya popularitas selebritis, lambat laun pudar, jembatan ini lama kelamaan sepi peminat, mudah-mudahan karena memang yang dulu aktif menggunakannya sudah pada sembuh. Ya mudah-mudahan begitu.

Ternyata sudah ada pemisahan sampah. Kecil saja dulu, sampah kering dan sampah basah. Mudah-mudahan di tempat pengumpulannya nanti sudah ditindaklanjuti.

Jangan2 pemda Bukittinggi baca postingan saya yang ini
, hehe ga deng. Tong sampahnya udah lama, postingannya baru seumur jagung. Yehee.. bolehlah ge-er daripada minder.
Ini adalah tugu Tuanku Imam Bonjol, da’i melawan kaum adat yang waktu itu suka berjudi. Belanda menunggangi Kaum adat ini sehingga baru bisa menaklukkan Tuanku Imam Bonjol dengan cara licik usulan Kompeni. Diajak berunding, tapi sesampai disana ditangkap, dibuang dan akhirnya wafat di pengasingan. Perilaku yang tidak asing, bukan?

Finally, inilah dia jantung hati Bukittinggi. Jam Gadang!!

Ini adalah gambar kota yang baru dibasuh hujan. Di bawah jam gadang ada taman kota. Tempat piknik keluarga, mungkin berkeinginan mampir di Plaza Bukittinggi yang baru berdiri. Saya kurang suka adanya mall atau plaza di Bukittinggi. Plaza ini menandai dituntunnya masyarakat untuk bersikap konsumtif dan menghabiskan banyak waktu berputar-putar disana. Walaupun tidak bisa ditampik, plaza ini membuka banyak lapangan kerja.

Belum cape kan? Mari jalan-jalan agak jauh sedikit ke Garegeh, ke Balaikota Bukittinggi. Pada keempat sisi Balaikota ini terdapat pintu masuk dengan atap bergonjong khas Minangkabau. Udah pada tau kan kenapa atap bergonjong dijadikan simbol kebanggaan masyarakat Minang?

Balaikota terletak di tempat yang lebih tinggi dari perumahan sekitar. Tempat ini salah satu alternatif warga buat jalan-jalan sore. Karena dari sana akan terlihat pemandangan kota Bukittinggi.

Masih di dalam komplek Balaikota ada Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Bukittinggi begitu bangga pada tokoh nasional ini sehingga setidaknya ada empat situs Bung Hatta, yaitu perpustakaan Bung Hatta, Monumen Bung Hatta, rumah kelahiran Bung Hatta dan Istana / Balai Sidang Bung Hatta. Di padang ada Universitas Bung Hatta disingkat UBH.

Angkatan yang sedang merayakan kelulusan akan merasa bangga sekali dan terangkat gengsinya bila mengadakan perpisahan di Istana Bung Hatta. dulu Bung Hatta pernah tinggal disini makanya dinamakan istana Bung Hatta.
Lalu ada kompleks pasar atas. Kalau mau barang bagus, carilah di Pasar atas, kalo mau barang murah carilah di Pasar Aur Kuning. Yah, trade off untuk pasar atas yang relative lebih nyaman. Di kaki lima akan ditawarkan benda-benda kerajinan setempat: modifikasi sandal khas anak daro (mempelai perempuan) warna-warni macam-macam model, tas dari tempurung kelapa, gantungan kunci rumah gadang, pigura dan tempat pulpen dengan hiasan rumah gadang, hiasan rumah gadang beraneka ukuran dan bahan dan masih banyak lagi yang lain, termasuk kaos bercirikan Minang.
Di lantai dua ada kerajinan tekstil, seperti mukena (harganya bisa sampe jutaan, fiuhh…., tapi sepadanlah kalo denger proses pembuatan bordirannya yg bisa makan waktu berbulan2), songket, kebaya, kain bahan, hasil tenunan Pandai Sikek, hiasan dinding dll. Lantai tiga adalah Niagara, tempat ngabisin duit di arena permainan dan food court.
Disebut Pasar Atas karena ada Pasar Bawah. Beda dengan pasar atas yang merupakan pasar turis, pasar bawah untuk beli kebutuhan masak harian seperti belut, daging, ayam potong dll. Dari pasar atas terlihat sebagian kota Bukittinggi.
Turun dari Pasar Atas ada tugu untuk mengenang perjuangan melawan penjajah, dan papan peringatan ini.

Di depannya ada taman monument Bung Hatta.

Lanjut turun menyusuri jalan Sudirman, ketemu SMPN 1 Bukittinggi, SMP saya..

Selain itu ada Benteng Fort De Cock, Kebun Binatang Kinantan, Kampung Cina, Panorama, Lubang Jepang, Ngarai Sianok, Jenjang Seribu yang belum sempat saya kunjungi liburan kemaren, jadi ga ada fotonya. Mungkin teman2 saja yang cerita dan majang fotonya kalo berkenan mengunjungi kota kecil ini.
Sungguh menyenangkan punya tempat yang bisa kita sebut Rumah. Itulah Bukittinggi, kota kecilku yang sejuk.
Here I stand in the northern rain
And I can’t believe I am home again
And I can’t believe how’s nothing change
I am finding my way
Old park bench where I carved my name
Now it doesn’t stand alone
Now the trees all over grown
Many roads that I’ve travelled
Lead me astray
Here’s where my heart gonna stay
This is where I Belong
This is where I come from
All of the land I’ve roamed
Memories of my home
They keep beating strong
Coz this is where I belong…
~oleh Boyzone
Bagian kedua dari sebuah tetralogi.. (direncanakan begitu, mungkin juga pentalogi)
Senang, akhirnya bisa posting juga bagian ini.


















