RSS

Category Archives: Uncategorized

Ada Apa dengan Masa Depan Mereka?

I am worried, extremely worried. Not for me, but for my kids.

2014-10-09 01.15.22

Saat menatap wajah anak-anak yang sedang tidur, saya terpikir masa depan seperti apa yang menunggu mereka. Apakah masa depan dimana mereka diajar prinsip dan nilai kehidupan oleh orang yang berbeda keyakinan dengan mereka? Tidak hanya saat pulang sekolah, mereka menolak untuk shalat dan puasa, serta malah meminta lauk babi, hanya karena guru mereka mengatakan it’s ok kalo ga solat dan puasa serta makan babi, tapi lebih jauh lagi, bagaimana bila mereka diajar oleh penganut sekte sesat yang tidak sekedar mengatakan Jibril akan hinggap di Monas tapi mengajarkan harus meminum darah manusia agar hidup abadi atau harus berhubungan dan menyiksa anak di bawah umur bahkan bayi? Atau ajaran bahwa kedamaian baru didapat setelah memutilasi, menggantung diri atau minum racun atau agar masuk surga harus membunuh orang banyak? Guru matematika SMP saya pernah cerita, anaknya menolak mentah-mentah cara penyelesaian problem matematika yang dia ajarkan hanya karena berbeda dengan yang diajarkan gurunya, padahal itu soal SD sedangkan ibunya punya gelar sarjana di bidang Matematika. Itulah urgensinya perkataan seorang guru. *

Saya bergidik membayangkan mereka membawa pulang calon pasangannya yang berbeda agama. Bukan apa-apa, orang tuanya yang satu agama dan satu visi saja beberapa kali berbeda pendapat dalam berbagai hal. Apalagi yang sama sekali memiliki visi dan nilai-nilai yang bertolak belakang. Bagaimanalah sebuah bahtera akan sampai tujuan, bila tujuan yang ditujupun berseberangan, pun cara mengemudikan bahtera yang bertentangan? That’s because I wish no less than the best for them.

Lain lagi cerita di grup Whatsapp yang saya ikuti, ada berita seorang anak berumur 4 tahun, masuk ke kamar menungging dan menggoyang-goyangkan pantatnya serta suka memegang-megang dada ibunya. Itu saja, anggota grup langsung riuh apalagi saat pornografi beredar tanpa malu-malu. Saat gambar wanita tanpa pakaian dengan pose menantang terpampang di billboard jalan protokol ibukota atau video pria bersenggama dengan wanita (atau sesama pria, atau binatang, bahkan anak di bawah umur?) diputar di sekolahan? Bagaimana saya merasa tenang saat anak laki-laki saya masuk kamar tertutup dan membuka laptop sedangkan dia melihat hal-hal seperti itu setiap hari? Bagaimana saya merasa aman saat melepas anak perempuan saya saat penculikan, penyiksaan, dan perkosaan adalah berita sehari-hari? Jangankan melepasnya sekolah ke luar negeri, melepasnya ke rumah tetangga atau naik angkot pun, seperangkat pengaman dan selaksa doa akan saya panjatkan tanpa henti.

IMG_20130702_120022

Saya semakin khawatir. Namun akan semakin tidak tertahankan saat menyadari bagaimana kalau saya tidak melakukan apa-apa untuk mencegah itu terjadi bahkan turut berkontribusi agar semakin cepat datang? Bagaimana saya menghabiskan sepanjang sisa hidup saya, menyalahkan dan marah pada diri sendiri. Marah pada orang lain bisa sejenak dilupakan dengan meninggalkan orang itu, tapi bagaimana bila marah pada diri sendiri? Saat melihat apa yang diyakini oleh anak lelaki atau terjadi pada anak perempuan saya, sebagian juga saya penyebabnya? Saat semua sudah terlambat.

I am totally, totally worried.

* perlu digaris bawahi, bahwa konteks paragraf pertama ini adalah specifically guru agama di sekolah formal yang wajib diikuti anak-anak yang belum bisa berpikir kritis. Saya sama sekali tidak melarang anak saya berteman dengan orang yang berbeda agama, justru mendorong mereka membuka kemungkinan untuk bergaul dengan orang berbagai latar belakang dan keyakinan serta menghormati apa yang mereka percayai tanpa harus ikut-ikutan, karena ada pelajaran yang bisa kita dapatkan dari siapapun. 

Referensi:

Arief Munandar, “Umat Sayang, Umatku Malang”. 

Tempo, “tag: ajaran sesat”.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on June 20, 2016 in Uncategorized

 

Kilas Balik tahun 2015

Tahun 2015 hampir berakhir. Saya bukan jenis orang yang suka membuat review tahunan, tapi tahun 2015 sangat spesial sehingga layak mendapat kehormatan untuk di-review.

Menelusuri jalan kenangan di tahun 2015, tidak lengkap rasanya tanpa memasukkan satu kejadian di akhir bulan Desember 2014, yaitu tes IELTS untuk pertama kalinya. Kenapa penting? Karena dengan mengikuti tes IELTS menandakan lebih seriusnya saya dalam mempertimbangkan untuk lanjut sekolah. Mengikuti tes, menandakan meningkatnya level dari sekedar pengen sekolah lagi atau benar-benar konkrit mempersiapkannya.

Memasuki bulan Januari, langkah konkrit berikutnya diambil berupa daftar beasiswa LPDP, tes substansial di bulan Februari, hanya untuk gagal di bulan Maret.

Bulan April adalah bulan beasiswa, karena saya daftar tiga buah beasiswa sekaligus di bulan ini. Beasiswa pertama adalah Stuned dari Neso Nuffic Indonesia. Ini adalah beasiswa kuliah singkat di Belanda. Saya memilih kuliah bisnis di Utrecht untuk menambah pengetahuan saya di bidang bisnis, berhubung ditempatkan di stream Sistem Informasi di kampus.

Beasiswa spacerkedua adalah Fujitsu, berupa training selama 3,5 bulan di 4 negara: Jepang, Hawaii (USA), Thailand, dan Singapura.

Beasiswa ketiga adalah Australia Awards Scholarship (AAS) untuk melanjutkan S3 di Australia.

Bulan Mei adalah bulan kesukaan saya, disamping bulan ultah, juga bulan pengumuman bahwa saya berhasil lulus seleksi beasiswa Stuned dan Fujitsu. Dimulailah proses persiapan belajar ke negeri Kincir Angin. Hal berharga lain yang saya dapatkan, adalah bertambahnya teman-teman baru sesama Stuned Awardee dan pemenang lomba Holland Writing Contest, penulis cakap, Dianita Rizkiani, yang sama-sama mendapat beasiswa Short course di Belanda.

Untuk beasiswa Fujitsu, terpaksa saya tolak, karena berbagai hal :(, mudah-mudahan ada kesempatan lain yang lebih baik.

Bulan Juni adalah bulan pelaksanaan Summer Camp yang saya menjadi ketua panitia untuk ketiga kalinya, setelah dipersiapkan dari bulan Januari. Tahun ini semakin besar dari tahun-tahun sebelumnya dengan jumlah industri dan kegiatan yang semakin banyak dengan jumlah panitia hanya 10 orang.

10983852_965979070100219_2018259983178572418_n

Penyerahan plakat kepada pembicara pada acara Summer Camp

Bulan Juli, saya cuss ke Belanda. setelah menempuh penerbangan panjang 14 jam, akhirnya mendarat di Schiphol. Walaupun menggeret koper besar, saya nekat ke Zansee Schan untuk melihat deretan kincir angin tua yang cantik. Selama dua minggu di Belanda, saya mengunjungi kota-kota seperti Amsterdam, Gouda, Delft, Denhag, Leiden, Wesp, disamping Utrecht. Ini juga pengalaman pertama saya merayakan lebaran di Eropa.

11061194_10153993380982004_2347533979990073724_n

Di Zansee Schan

inilah kali pertama saya menginjakkan kaki di benua Eropa. Saya memang mempunyai cita-cita menginjakkan kaki di kelima benua dan Eropa adalah benua keempat. Mudah-mudahan ada rezeki mengunjungi Afrika.

September, saya diminta jadi moderator sebuah acara yang cukup besar yaitu Compfest, menemani COO Tokopedia dan diminta jadi reviewer di sebuah jurnal, yang saya terima. There is room for improvement of course. Pengalaman berharga bagi saya.

12141756_10154195815332004_4042967736703982160_n

Seminar Compfest

Oktober, saya diajak jadi bagian dari tim konsultan untuk merumuskan IT master plan di UI. Banyak sekali pengalaman teknis maupun nonteknis yang saya pelajari dari kesempatan ini. Mulai dari bagaimana mengekstrak critical Success factor dalam membuat blueprint, hingga aspek berhubungan dengan orang lain seperti bagaimana menjadi pemimpin yang meng-encourage timnya, dan untuk menjadi pemimpin yang baik, kita harus ahli dulu di segi teknisnya agar bisa mengarahkan tim. Proyek ini berlangsung sampai bulan Desember

Bulan Oktober juga saya mencoba kembali peruntungan dengan mendaftar LPDP. Seleksi administratif yang lebih ketat yang menyaratkan surat keterangan sehat, bebas narkoba, dan bebas tbc dari RS pemerintah. Lulus seleksi administratif, masuk seleksi substansial di bulan November. LPDP terus berbenah dengan terus mengetatkan proses seleksinya. Di fase seleksi subtansial yang saya hadapi ada 4 tahap, yaitu verifikasi berkas (ada berkas tambahan: SKCK yang masih berlaku), leaderless group discussion, wawancara dengan 3 org interviewer, dan yang baru yaitu on the spot essay writing.

Bulan Desember menutup tahun ini dengan sukacita berupa kabar lulusnya saya sebagai salah satu penerima beasiswa LPDP. Di bulan ini, juga dipercaya menjadi salah satu juri lomba Business IT case for Fasilkomers. Kinda fun.

12366375_10154342346162004_1802171645993194287_n

Bersama tim juri dan peserta Business IT Case Competition

Seperti hidup yang tidak hanya berisi senang, juga ada sedih. Begitu juga tahun 2015. Namun, rugi sekali kalau tidak mengambil pelajaran dari kegagalan dan kesedihan. Pelajaran yang saya dapatkan tahun ini adalah:

1. Zona nyaman membunuh kreativitas dan peluang untuk berkembang.
2. Perlakuan buruk orang lain, walaupun menyakitkan, bisa berarti bahwa, kita harus menjadi lebih humble, lebih rendah hati. Itu adalah cara dari Allah untuk mengikis kesombongan kita, agar menjadi lebih dewasa.

3. kurangi baper alias bawa perasaan. Baper sering terjadi karena kita terlalu fokus pada diri sendiri atau self centered. Saat menghadapi rekan kerja misalnya, tidak perlu baper, selesai saja pekerjaanmu dengan profesional. Jangan hiraukan perasaan tidak nyaman dengan seseorang, atau pendapat orang lain tentang dirimu, simply finish works at hand.

4. Saat kita belum berhasil mendapatkan sesuatu, berarti kita belum siap mendapatkannya. Saya bersyukur gagal beasiswa LPDP di bulan Januari. Bila berhasil, mungkin tahun ini tidak akan penuh pengalaman berharga seperti sekarang.

5. Sebagian besar orang hanya peduli pada kebahagian mereka masing-masing. Tidak ada orang lain yang bertanggungjawab untuk membuat kita bahagia. Jadi kitalah yang bertanggungjawab terhadap kebahagiaan kita sendiri. Berharap pada manusia hanya akan membuat kecewa.

Suara petasan dan kembang api sudah banyak terdengar. Berakhirlah tahun penuh kejutan ini. Tahun 2016, saya prediksi, tidak akan kalah dalam hal menyimpan kejutan. Kita lihat saja. 🙂

 
2 Comments

Posted by on December 31, 2015 in Uncategorized

 

Move On

Move on atau berjalan terus adalah kata yang sering diasosiasikan dengan mulai menata hidup kembali pasca patah hati karena putus cinta. Saking lekatnya citra move on dengan putus cinta, begitu kita mendengar kata move on, pasti yang teringat dalam benak kita adalah dia udah mulai sembuh dari patah hati.

Padahal arti move on sebenarnya lebih luas dari itu. Move on tidak sekedar bangkit lagi dari patah hati tapi juga bisa berarti melupakan hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu, mengambil pelajarannya, dan mulai hidup baru. Move on juga berarti menerima keadaan sekarang yang tidak bisa diubah lalu berusaha mengambil yang terbaik dari kondisi yang ada.

Semua orang pasti pernah berbuat kesalahan yang mereka sesali. Entah itu melibatkan orang lain atau kesalahan yang hanya berdampak pada diri sendiri. Bila kesalahan itu tidak bisa diperbaiki, tidak ada yang bisa diperbuat selain menerima bahwa diri ini pernah melakukannya lalu berusaha agar tidak mengulanginya.

Atau mungkin kita berada dalam suatu keadaan yang tidak kita inginkan. Lalu kita mulai berandai2 dulu tidak pernah berbuat begini sehingga tidak berada dalam keadaan ini atau dulu akan berbuat lebih baik agar tidak berada dalam kondisi ini. Lalu kita mulai melamunkan keadaan diri yang lebih baik. Namun, seindah apapun lamunan tersebut, kita tetap harus bangun dan menghadapi realita. Tidak ada gunanya berandai-andai. Dalam kondisi tersebut, ada 2 pilihan:
1. Menerima kondisi tersebut (berhenti menyalahkan diri sendiri atau orang lain karena menempatkan kita dalam kondisi tersebut) dan mulai menunjukkan kinerja terbaik sehingga suatu saat kondisi yang lebih baik akan datang.
2. pindah dari kondisi tersebut. Bila tidak nyaman dengan pasangan, misalnya dikasari, pindah ke lain hati. Bila tidak nyaman dengan pekerjaan, cari tempat atau pekerjaan lain. Bila tidak nyaman dengan tetangga, pindah ke lingkungan lain.

Pilihan manapun yang diambil, tetap langkah pertama yang harus ditempuh adalah penerimaan. Bahwa kita berada dalam kondisi ini (mungkin) karena kesalahan kita sendiri atau keadaan yang tidak bisa dihindari. Ibarat sakit, kita menerima kita sedang sakit dan ingin berobat agar sembuh. Hanya dengan penerimaan, kita bisa move on. Insya Allah.

 Image

 
1 Comment

Posted by on January 20, 2014 in Uncategorized

 

Mudik Nyaman dan Aman? Ini Tipsnya

Beberapa hari ini bibi ART rumah kami selalu antusias membicarakan tentang rencananya mudik ke kampung halaman. Selidik punya selidik ternyata bibi akan ikut mudik gratis yang diselenggarakan oleh Kementerian Perhubungan. Uniknya, mudik gratis yang diadakan Kemenhub juga mengakomodasi sepeda motor. Maksudnya? Para pemudik akan naik bis, sementara sepeda motor akan ditampung dalam truk khusus. Sangat bijaksana, menilik statistik kecelakan mudik tahun 2012, sebanyak 75.5% korban tewas adalah pengguna sepeda motor.

motor

Ingatan saya melayang ke kenangan mudik 2 tahun silam. Kami menempuh Depok-Bukittinggi sejauh 1391 km selama 3 hari perjalanan menggunakan mobil, melewati daerah berbahaya yang terkenal dengan bajing loncatnya. Total pulang pergi, menempuh waktu 6 hari, setelah itu saya tidak bisa lagi naik mobil tanpa merasa mual, selama sebulan lamanya. Anyway, berhubung tahun ini kami tidak mudik T_T , saya hanya akan berbagi tips mudik aman dan lancar kepada teman-teman.

Sebelum mudik:

1. Cari informasi mudik gratis :D. Bila teman-teman ingin bepergian dengan angkutan umum, alternatif mudik gratis bisa jadi pilihan yang cukup ekonomis. Selain kemenhub, pemerintah Jabar juga menyediakan mudik gratis. Vendor seperti CarrefourBNI,Hypermart, dan Telkomsel juga mengadakan mudik gratis, syarat dan ketentuan berlaku.

2. Amankan tiket anda, jangan sampai kehabisan. Tiket kereta sudah bisa dipesan 90 hari dari keberangkatan, dan bisa dipesan online, jadi tidak perlu capek2 antri. Tiket pesawat yang agak-agak tricky. Saya lihat harga tiket pesawat 3 bulan sebelum lebaran, sudah mahal, 3 kali lipat harga normal 😦

3. Bila membawa mobil pribadi, wajib hukumnya check up mesin dan membawa spare part cadangan. Teman2 tidak mau kan tiba2 mobil mogok di tengah malam, di tempat bajing loncat beroperasi? Hii.. ceyem. Tapi musibah memang tidak bisa disangka, kita wajib menyiapkan payung sebelum hujan. In case, ada kerugian dan kerusakan pada kendaraan bermotor baik karena tabrakan, pencurian, kebakaran dll bisa hati jadi lebih tenang karena sudah ada asuransi kendaraan. Salah satu asuransi kendaraan kredibel adalah Garda Oto. Garda Oto menyediakan layanan Garda Siaga 24 jam yang memiliki jaringan bengkel dan kantor cabang yang luas. Kalau mobil mogok, tinggal telepon 500 112 atau sms ke 08118 500 112. No hectic. Enaknya kita bisa mendapatkan bonus bila tidak ada klaim selama masa perlindungan.

garda

4. Persiapakan semua barang bawaan. Belanja beberapa hari sebelum berangkat, karena h-1 pasti sibuk packing. Bawalah barang seperlunya. Barang bawaan terlalu banyak akan membebani mobil, bahaya.

5. Persiapan fisik dan emosi. Kondisi fisik pengemudi dapat mempengaruhi keselataman seluruh penumpang. Pastikan pengemudi tidur dengan cukup di malam sebelumnya (minimal 6 jam). Disamping fisik, persiapan emosi juga tidak kalah penting. Hendaknya pengemudi tidak dalam keadaan marah, terburu-buru atau dalam kondisi emosi yang kurang baik.

6. Bila harus menginap di hotel, lakukan reservasi sebelumnya, karena pada saat mudik, hotel di sepanjang jalur mudik biasanya penuh.

7. Beberapa hari sebelum mudik, buat daftar barang bawaan.

Hari H:

1. Sebelum berangkat pastikan rumah sudah terkunci, kompor sudah padam, dan listrik yang tidak diperlukan sudah dicabut. Kamu tidak mau kan, pulang mudik, rumah sudah kosong melompong atau terbakar ludes?

2. Susun barang berdasarkan skala kemungkinan terpakai di perjalanan. Barang seperti snack, air, tisu, uang sebaiknya diletakkan di tempat yang mudah dijangkau.

3. Berdoa sebelum berangkat. Man proposes, God disposes.

4. Hati-hati mengemudi dalam cuaca buruk dan patuhi peraturan lalu lintas dan rambu jalan.

5. Seorang pengemudi sebaiknya jangan mengemudi terlalu lama. Idealnya setiap 4 jam istirahat atau digantikan oleh orang lain. Jangan paksakan mengemudi bila sudah terasa lelah.

6. Waspadai tindak kejahatan pembiusan dan tolak pemberian makanan/minuman dari orang tak dikenal.

7. manfaatkan posko mudik. Posko mudik biasanya menyediakan cek kendaraan, makanan, minuman, sampai kursi pijat.

posko

Dua tahun lalu, saya mudik bersama anak yang masih berumur 1 tahun, hmmm seru dan menantang. Ada beberapa tips agar mudik tetap nyaman, walaupun membawa bayi atau balita:

1. Periksakan bayi/anak ke dokter untuk memastikan dia dalam kondisi sehat untuk mudik. Tanyakan/siapkan obat2 yang diperlukan.

2. persiapkan mental. Membawa anak tentu lebih berat daripada sekedar membawa diri sendiri. Saat sadar bahwa si kecil bisa bosan dan rewel, afirmasikan pada diri sendiri “semuanya akan lancar2 saja”. Kebahagiaan saat si kecil bertemu keluarga akan menghapus kekhawatiran kamu.

3. keperluan anak sebaiknya selalu dalam fase siap sedia. Makanan, tisu basah, popok ganti hendaknya dapat dijangkau dalam waktu cepat.

4. siapkan hiburan atau ajak anak bermain agar dia tidak rewel

5. agar anak tidak sakit karena mudik, kebersihan sebaiknya selalu dijaga dengan hand sanitizer misalnya, atau menyediakan pakaian hangat, atau obat2an. Sebaiknya juga tidak membeli makanan/minuman dari pinggir jalan.

6. sering tanyakan pada si kecil (bila dia sudah mengerti), apakah dia ingin buang air, sakit perut, mual dll. Jangan lupa sering-sering memeriksa popok si kecil.

7. bayi berumur di bawah 3 bulan masih rentan mengalami pecah gendang telinga bila dibawa naik pesawat, karena perubahan tekanan saat landing/take off. Tapi kalau terpaksa naik pesawat, bayi bisa disusui atau ditutup telinganya dengan kapas.

Saya juga pernah bepergian jauh pada saat hamil 7 bulan. Aman dan nyaman, asal tau tips dan trick-nya:

1. Konsultasi ke dokter apakah kandungan cukup kuat untuk bepergian. Mungkin dokter akan memberikan obat penguat kandungan bila diperlukan.

2. Trimester kedua (18-24 minggu) adalah saat terbaik untuk bepergian jauh, karena masa itu sudah tidak mengalami morning sickness tapi kandungan belum terlalu berat. Jangan tiru saya yang udah hamil 7 bulan masih pergi2 ya :p

3. bawa bekal makanan dan minuman yang cukup. Juga jangan lupa bawa multivitamin kehamilan.

4. Istirahat yang cukup.

5. Tetap jaga pikiran dan hati tenang dan senang. Kalau ibu tenang dan senang, dedek bayi juga senang kan? 😀

6. Utamakan kenyamanan: kendaraan, pakaian, bawaan, hiburan.

Secara umum, barang yang perlu dibawa bisa menjadi penentu nyaman/lancarnya mudik. Berikut kira-kira barang2 yang perlu dibawa;

1. Obat2an pribadi: obat masuk angin, obat anti muntah, obat magh dll.

2. hiburan, seperti buku, vcd, games dll

3. peta/GPS (bila membawa mobil sendiri) Peta mudik biasanya bisa didapatkan di gerbang tol.

4. Travel charger untuk menjaga agar GPS/HP tetap nyala. Kita tidak pernah terlalu berhati-hati.

5. Baterai dan pulsa (untuk keadaan darurat)

6. kantong muntah dll

 Fiuhh, itu tips yang bisa saya share kali ini. Wah, banyak juga ya yang perlu disiapkan. Eitss, ga perlu stres dulu, nikmati saja perjalanan ini. Berjam-jam lamanya dalam kendaraan, kamu bisa ngobrol dan bercanda bersama keluarga atau teman seperjalanan. Dengan begitu, waktu perjalanan terasa lebih singkat dan hubungan jadi lebih dekat. Disamping itu, kalau kamu bosan macet di jalan, bisa sambil #ngaBlogburitMenulis itu menyembuhkan, daripada ngomel ke orang tidak berdosa, lebih baik nulis blog :D. Dan yang paling penting, utamakan keselamatan, tetap jaga emosi walaupun macet. Dan happy travelling. 😀

The world is a book and those who do not travel read only one page.

sumber gambar:

1. 

2.

3. 

~Alhamdulillah, tulisan ini jadi salah satu pemenang di lomba ngaBlogburit blogdetik :). 

 
3 Comments

Posted by on July 22, 2013 in Uncategorized

 

Tags: , ,

Spesial

Bulan puasa selalu menjadi bulan yang spesial. Disamping obral pahala, jam kerja juga diperpendek, sehingga aku bisa pulang lebih awal untuk berbuka puasa bersama keluarga. Hal ini spesial karena pekerjaan seringkali menyebabkanku pulang setelah maghrib, apalagi kalau harus mengajar kelas malam, bisa sampai jam 10 malam baru sampai rumah. Bidadari kecilku sudah terlelap, meninggalkanku merasa bersalah karena telah pulang begitu larut.

Di Bulan puasa, jam kerja hanya hingga 3 sore, sehingga pukul 4 sore aku dan nafisa sudah bisa berjalan-jalan di pasar kaget di dekat rumah, memborong berbagai penganan untuk berbuka bersama.

Menjelang azan maghrib, semua anggota keluarga sudah lengkap dan kami sudah siap dengan makanan dan minuman masing-masing, memastikan begitu detik pertama azan berkumandang, minuman langsung diteguk. Ahh… segarnya.

Kami berbuka puasa sambil bercengkrama sambil menyaksikan Fisa beraksi. Si kecil ini senang sekali berjoget atau bergaya bila dia tahu kami sedang memperhatikannya. Saya dan suami akan bertukar cerita mengenai hari kami sementara si kecil mengalihkan perhatian kami sehingga dia bisa menjangkau kerupuk (dia tidak dibolehkan makan kerupuk warung kalau sedang batuk) atau menghabiskan makanan di piring kami.

Hampir mirip keadaannya saat kami menghabiskan weekend lalu di rumah orang tua. Orang tua memang tinggal berdua saja karena anak pertama dan keduanya sudah menikah dan tinggal terpisah sementara anak bungsu sedang KKN di luar kota. Nafisa dan sepupunya yang berumur 4 tahun, segera menjadi primadona mbahti dan mbahkungnya.

Saat kami harus kembali ke rumah minggu malam, orang tua terlihat sedih karena akan tinggal berdua lagi, sepi. Tidak tega memang, tapi kami harus bekerja keesokan harinya dan nafisa harus sekolah.

Ramadhan selalu spesial. Bukan hanya karena obral pahalanya, tapi kesempatan berbuka puasa bersama yang jarang bisa didapatkan di bulan lain. Kami akan berebut makanan, fisa ikut-ikutan padahal tidak puasa, lalu menikmati sensasi berbuka puasa dimana hanya orang yang berpuasa yang bisa menikmatinya. Itulah dia. Berbuka puasa bersama tidak ada hanya sekedar makan, tapi lebih daripada itu: kesempatan membahagiakan orang tua, kebersamaan, kedekatan emosi, dan silaturahmi yang kian erat. Oleh karena itu, berbuka puasa bersama akan selalu menjadi momen spesial bagi saya.

eating-dinner-clipart

 

sumber gambar. 

 
2 Comments

Posted by on July 19, 2013 in Uncategorized

 

Suatu Saat Nanti

Ada suatu potongan cerita dalam novel fiksi yang saya baca waktu muda dulu. Ceritanya tentang seorang ibu yang melihat putra remajanya termenung memandang bulan, seorang diri, pada malam hari nan sendu, di ayunan berkarat di samping rumahnya. Sambil berpura-pura mengecek apakah rumput sudah disiram, sang ibu menghampiri putranya.

Ibu: “Ibu lihat kamu lesu sekali sejak makan malam tadi. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?”

Si anak diam saja. Tangannya menelusuri tulisan namanya yang dia buat di tiang ayunan. Tulisan yang dibuatnya saat baru saja pandai menulis dan merayakan euphoria tersebut dengan menulis dimana-mana.

Ibu: “Hhh… akhirnya datang juga saat itu, saat-saat dimana ibu sudah menjadi terlalu tua sebagai tempatmu bercerita”

Si anak memandang ibunya, mulutnya bergerak-gerak seperti ikan mas koki direnggut dari air. Namun, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.

Ibu: “Baiklah, ibu mengerti, kamu sedang ingin sendirian, bukan? Kamu tahu dimana mencari ibu kalau kamu ingin bercerita, tentang apapun itu”. Sambil mengacak rambut putranya dengan sayang, si Ibu berlalu, tidak sebelum menyampirkan sehelai kain di punggung putranya.

Saya dan semua orang dewasa pasti pernah mengalami menjadi remaja. Masa-masa ingin menunjukkan keakuan, masa ingin diakui, masa ingin mandiri, ingin jauh dari orang tua. Sekarang saya bukan anak kecil lagi. Saya tidak lagi ingin dikekang, dilarang, dan diperlakukan selayaknya anak kecil. Saya punya kemampuan dan sangat gatal untuk menjajalnya. Saat ini, remaja lebih percaya pada temannya, lebih peduli pada penerimaan temannya, lebih butuh gengnya. Selain memberi uang saku dan memenuhi kebutuhan pokok, remaja tidak butuh orang tuanya. Mereka punya dunia sendiri. Itulah saya saat remaja.

Namun, menjadi orang tua dari anak remaja, hmmm… belum pernah. Anak saya baru akan berumur 3 tahun saat ini. Masih sangat bergantung dan suka sekali bermanja-manja pada saya. Kadang, terlalu bergantung. Secara harfiah, benar-benar bergantung, terutama di tempat umum, atau saat masak atau terutama sekali saat saya memegang telepon genggam, anak minta digendong. Sambil menggendong anak, mata membandingkan harga dan netto di rak, tangan mencari-cari varian produk yang disukai anak, sementara jilbab ditarik-tarik, tak saya pedulikan jilbab yang miring kesana kemari, tidak ada waktu untuk itu.

Itu belum seberapa, karena belanja adalah kegiatan yang menyenangkan dan (hampir) tidak ada tekanan. Lain lagi ceritanya saat saya masih kuliah S2. Batas akhir penyerahan tugas adalah tengah malam, lewat daripada itu, tidak diterima lagi. 15 menit menjelang batas akhir pengumpulan saya masih mengerjakan tugas online yang rumit tersebut, anak bangun dari tidurnya. Ayahnya berusaha menenangkan anak, anak terus menangis  memanggil ibunya. Ayah menggendong anak dan sambil menyanyikan lagu, tangis anak semakin kencang. Karena takut ditimpuki oleh tetangga, anak diletakkan di pangkuan saya, namun masih tetap belum sepenuhnya tenang, sementara batas akhir pengumpulan tugas 2 menit lagi. Anak mengacak-acak keyboard saya, saya kalut meng-zip tugas yang belum kelar tersebut dan mengirimnya. Saat proses upload dijalankan, saya harap-harap cemas, menatap countdown di situs tersebut. Apakah tugas yang saya kerjakan berhari-hari ini bisa terkirim, sebelum link pengumpulan diblokir? Suasananya bisa disandingkan dengan adegan seorang aktor sedang memilih kabel mana yang harus dipotong untuk menghentikan bom, kuning atau hijau? Sementara, waktu tersisa tinggal 10 detik lagi, sebelum bom nuklir tersebut meledak dan menimbulkan korban jiwa yang jumlahnya setara dengan korban penyakit Pes di Eropa Abad Pertengahan.   Ok, mungkin agak berlebihan, tapi kamu pasti mengerti apa maksudku kan?

Lain lagi, ceritanya saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit. Saya dan ayahnya menginap di RS dan bolak-balik kantor-RS selama anak dirawat. Selama anak dirawat, di tangannya diperban sebagai tempat lewat cairan infus. Mungkin tangannya berdenyut-denyut, sehingga anak terus meminta saya untuk meniup tangannya, sambil menangis, sampai dia tertidur. Kalau saya berhenti meniup tangannya, dia akan terbangun, menangis, dan minta ditiup lagi. Setiap saat, selama di rumah sakit.

Dunia berputar 180 derajat sejak anak lahir. Kurang waktu tidur, kurang waktu untuk diri sendiri, semuanya berputar di sekeliling anak. Semuanya demi anak. Sepanjang hari untuk anak. Kadang sebagai ibu, saya merasa lelah. Sebagai anak yang ditinggal ibunda sejak kecil, saya terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Saya terbiasa untuk mengandalkan diri sendiri. Itu yang adang saya harap anak bisa pelajari dan terapkan. Untuk mandiri dan mengandalkan diri sendiri. Tidak terlalu bergantung pada saya.

Saya berharap agar anak cepat mandiri. “Karena satu-satunya orang yang akan selalu ada untukmu, adalah dirimu sendiri, bohong kalau ada yang bilang bahwa dia akan selalu ada untukmu. Tidak ada, karena semua orang punya kehidupannya sendiri, begitu juga orang tuamu,” batin saya, sembari menepuk-nepuk punggung anak yang terbangun agar dia tidur lagi. Di luar kamar, terdengar suami sedang berbicara di telpon. Saya tajamkan telinga, oh sedang menelpon orang tuanya. Ayah mertua saya memang berulang tahun hari ini dan suami sedang mengucapkan selamat via telepon.

Saya membayangkan keadaan mertua saya, tinggal bertiga bersama anak bungsu yang sibuk dengan kuliah dan kerja sambilan. Pasti sepi sekali, tinggal berdua saja bersama pasangan, tanpa anak tempat mencurahkan kasih sayang. Sebuah kesadaran menghantam saya. Jika umur sampai, akan tiba pula saatnya bagi saya dan suami untuk tinggal berdua saja, tanpa anak-anak. Mereka akan punya pekerjaan, kehidupan, dan keluarga sendiri. Saat dimana mereka tidak membutuhkan kami lagi. Saat-saat menatap melalui jendela dan berharap anak-anak datang membawa cucu yang lucu, untuk kemudian menyadari itu adalah suara mobil tetangga atau penjual remote TV yang sering lewat siang hari. Kami hanya tinggal berdua. Saya akan merajut, suami akan membaca sambil mengeluhkan encok di pinggangnya. Saya juga akan mengurus kebun kecil di depan rumah, sementara suami mengecat pagar dan mengeluhkan encok di pinggangnya. Setelah itu, saya akan mengerjakan pekerjaan lain sampai tidak ada lagi yang bisa dikerjakan sementara suami berbaring di ranjangnya setelah seharian mengeluhkan encok di pinggangnya. Di penhujung hari, kami akan membuka album foto dan menatap gambar anak-anak kami sambil mengenang mereka merengek, meminta digendong, dipeluk, dibersihkan setelah buang air. Membayangkan wajah mereka saat menyambut kami pulang kerja, wajah serius mereka saat mendengarkan cerita dongeng sebelum tidur (walaupun cerita itu tidak akan bisa lebih tidak masuk akal lagi. Saya pernah bercerita tentang anak tetangga yang menemukan lubang ke luar angkasa dan menyelamatkan koloni Yeerk di planet Helgrind bersenjatakan alat pembersih toilet). Membayangkan saat mereka jatuh ke pelukan kami ketika belajar berjalan. Saat mereka menari diiringi musik. Mengingat suara cadelnya saat bernegosiasi dengan ayahnya agar diperbolehkan makan kerupuk padahal sedang batuk. Saat kata paling sering yang dia sebutkan dalam sehari adalah “Ummi… Ibu..”

Dan sayapun memeluk anak, erat sekali.

kucing

 

Sumber gambar

 

 
3 Comments

Posted by on June 20, 2013 in Uncategorized

 

Tiga Kesalahan Besar Orang Tua dalam Mendidik Anak

1. Orang tua tidak membiarkan anaknya mengambil resiko

sumber gambar

Studi menunjukkan anak-anak dengan orang tua yang terlalu protektif menghasilkan nilai yang lebih rendah daripada ortu yang lebih toleran terhadap resiko. Anak yang tidak banyak bermain di luar dan tidak mengalami luka karena bermain atau kecelakaan lain, seringkali mengalami phobia setelah dewasa. anak-anak perlu mengalami jatuh untuk menyadari bahwa jatuh itu normal. Ortu menghambat anak untuk menghadapi dunia yang sama sekali tidak tanpa resiko.

Remaja lebih siap untuk menghadapi resiko daripada kelompok umur lain. Mereka perlu untuk menguji batas-batas kemampuan mereka, nilai- nilai, dan menemukan identitas diri. Ini adalah saat-saat dimana mereka menemukan konsekuensi dari suatu tindakan, melalui pengalaman.

2. Orang tua menyelamatkan anaknya terlalu cepat

Ortu perlu mempersiapkan anaknya untuk melakukan pekerjaan sendiri tanpa bantuan. Bila orang tua
memberi tahu semua langkah yang harus diambil, menyelesaikan semua permasalahan anaknya, hal ini akan
membuat anak tidak berpikir jauh sebelum melakukan sesuatu, karena mereka berpikir “cepat
atau lambat orang tuaku akan menyelamatkanku dan membereskan segalanya”. Sama sekali bukan cara
kerja dunia.

3. terlalu banyak memuji

Studi menunjukkan, seseorang yang mendapatkan terlalu banyak pujian, tidak akan menunjukkan
konsistensi dalam usaha. Dia akan berhenti berusaha saat tidak mendapat reward.

Pada saat ortu terlalu gampang memuji, sebenarnya anak belajar untuk menipu dan berbohong serta
menghindari kesulitan. Anak tidak disiapkan untuk menghadapi kesulitan. Layaknya vaksin, anak harus
mendapatkan dosis kesulitan tertentu agar bisa membangun kekuatan untuk menghadapinya.

Akan tiba masanya, anak ingin mengembangkan sayapnya sendiri, orang tua harus membiarkannya.
Berikut beberapa ide:

1. bantu anak mengkalkulasi resiko
2. bantu anak belajar membuat pilihan
3. ceritakan pengalaman orang tua mengenai resiko yang pernah dihadapi ortu dan bagaimana ortu mengatasinya
4. alih-alih memberikan hadiah materi, bagaimana dengan menghabiskan waktu bersama?
5. pilih resiko positif dan dorong anak untuk melakukannya, seperti olah raga, bekerja dll
6. jangan biarkan rasa bersalah menghalangi orang tua untuk membimbing anaknya ke arah yang benar.
Bukan tugas orang tua untuk merasa bahagia dengan memberikan hal yang bisa membuat mereka senang,
tapi sebenarnya tidak baik untuk mereka. Misalnya membelikan motor untuk anak di bawah umur. Anak mungkin akan merajuk bila tidak dikabulkan saat minta dibelikan motor, hal ini membuat orang tua selalu mengabulkan permintaan anak.
7. jangan memberikan hadiah untuk pencapaian kecil.

Mungkin akan ada waktu-waktu dimana anak marah pada ortunya karena tidak mendapatkan semua yang
dia inginkan. Biarkan anak merasakan kekecewaan, kerja keras, jatuh, dan gagal. Bila ortu memperlakukan anaknya sebagai benda yang rapuh, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh. Ortu harus mempersiapkan anaknya untuk dunia yang sedang menanti mereka. Dunia membutuhkan manusia dewasa yang tahan banting bukan yang rapuh.

Referensi: http://growingleaders.com/blog/3-mistakes-we-make-leading-kids/

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2013 in Uncategorized