RSS

Suatu Saat Nanti

20 Jun

Ada suatu potongan cerita dalam novel fiksi yang saya baca waktu muda dulu. Ceritanya tentang seorang ibu yang melihat putra remajanya termenung memandang bulan, seorang diri, pada malam hari nan sendu, di ayunan berkarat di samping rumahnya. Sambil berpura-pura mengecek apakah rumput sudah disiram, sang ibu menghampiri putranya.

Ibu: “Ibu lihat kamu lesu sekali sejak makan malam tadi. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?”

Si anak diam saja. Tangannya menelusuri tulisan namanya yang dia buat di tiang ayunan. Tulisan yang dibuatnya saat baru saja pandai menulis dan merayakan euphoria tersebut dengan menulis dimana-mana.

Ibu: “Hhh… akhirnya datang juga saat itu, saat-saat dimana ibu sudah menjadi terlalu tua sebagai tempatmu bercerita”

Si anak memandang ibunya, mulutnya bergerak-gerak seperti ikan mas koki direnggut dari air. Namun, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.

Ibu: “Baiklah, ibu mengerti, kamu sedang ingin sendirian, bukan? Kamu tahu dimana mencari ibu kalau kamu ingin bercerita, tentang apapun itu”. Sambil mengacak rambut putranya dengan sayang, si Ibu berlalu, tidak sebelum menyampirkan sehelai kain di punggung putranya.

Saya dan semua orang dewasa pasti pernah mengalami menjadi remaja. Masa-masa ingin menunjukkan keakuan, masa ingin diakui, masa ingin mandiri, ingin jauh dari orang tua. Sekarang saya bukan anak kecil lagi. Saya tidak lagi ingin dikekang, dilarang, dan diperlakukan selayaknya anak kecil. Saya punya kemampuan dan sangat gatal untuk menjajalnya. Saat ini, remaja lebih percaya pada temannya, lebih peduli pada penerimaan temannya, lebih butuh gengnya. Selain memberi uang saku dan memenuhi kebutuhan pokok, remaja tidak butuh orang tuanya. Mereka punya dunia sendiri. Itulah saya saat remaja.

Namun, menjadi orang tua dari anak remaja, hmmm… belum pernah. Anak saya baru akan berumur 3 tahun saat ini. Masih sangat bergantung dan suka sekali bermanja-manja pada saya. Kadang, terlalu bergantung. Secara harfiah, benar-benar bergantung, terutama di tempat umum, atau saat masak atau terutama sekali saat saya memegang telepon genggam, anak minta digendong. Sambil menggendong anak, mata membandingkan harga dan netto di rak, tangan mencari-cari varian produk yang disukai anak, sementara jilbab ditarik-tarik, tak saya pedulikan jilbab yang miring kesana kemari, tidak ada waktu untuk itu.

Itu belum seberapa, karena belanja adalah kegiatan yang menyenangkan dan (hampir) tidak ada tekanan. Lain lagi ceritanya saat saya masih kuliah S2. Batas akhir penyerahan tugas adalah tengah malam, lewat daripada itu, tidak diterima lagi. 15 menit menjelang batas akhir pengumpulan saya masih mengerjakan tugas online yang rumit tersebut, anak bangun dari tidurnya. Ayahnya berusaha menenangkan anak, anak terus menangis  memanggil ibunya. Ayah menggendong anak dan sambil menyanyikan lagu, tangis anak semakin kencang. Karena takut ditimpuki oleh tetangga, anak diletakkan di pangkuan saya, namun masih tetap belum sepenuhnya tenang, sementara batas akhir pengumpulan tugas 2 menit lagi. Anak mengacak-acak keyboard saya, saya kalut meng-zip tugas yang belum kelar tersebut dan mengirimnya. Saat proses upload dijalankan, saya harap-harap cemas, menatap countdown di situs tersebut. Apakah tugas yang saya kerjakan berhari-hari ini bisa terkirim, sebelum link pengumpulan diblokir? Suasananya bisa disandingkan dengan adegan seorang aktor sedang memilih kabel mana yang harus dipotong untuk menghentikan bom, kuning atau hijau? Sementara, waktu tersisa tinggal 10 detik lagi, sebelum bom nuklir tersebut meledak dan menimbulkan korban jiwa yang jumlahnya setara dengan korban penyakit Pes di Eropa Abad Pertengahan.   Ok, mungkin agak berlebihan, tapi kamu pasti mengerti apa maksudku kan?

Lain lagi, ceritanya saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit. Saya dan ayahnya menginap di RS dan bolak-balik kantor-RS selama anak dirawat. Selama anak dirawat, di tangannya diperban sebagai tempat lewat cairan infus. Mungkin tangannya berdenyut-denyut, sehingga anak terus meminta saya untuk meniup tangannya, sambil menangis, sampai dia tertidur. Kalau saya berhenti meniup tangannya, dia akan terbangun, menangis, dan minta ditiup lagi. Setiap saat, selama di rumah sakit.

Dunia berputar 180 derajat sejak anak lahir. Kurang waktu tidur, kurang waktu untuk diri sendiri, semuanya berputar di sekeliling anak. Semuanya demi anak. Sepanjang hari untuk anak. Kadang sebagai ibu, saya merasa lelah. Sebagai anak yang ditinggal ibunda sejak kecil, saya terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Saya terbiasa untuk mengandalkan diri sendiri. Itu yang adang saya harap anak bisa pelajari dan terapkan. Untuk mandiri dan mengandalkan diri sendiri. Tidak terlalu bergantung pada saya.

Saya berharap agar anak cepat mandiri. “Karena satu-satunya orang yang akan selalu ada untukmu, adalah dirimu sendiri, bohong kalau ada yang bilang bahwa dia akan selalu ada untukmu. Tidak ada, karena semua orang punya kehidupannya sendiri, begitu juga orang tuamu,” batin saya, sembari menepuk-nepuk punggung anak yang terbangun agar dia tidur lagi. Di luar kamar, terdengar suami sedang berbicara di telpon. Saya tajamkan telinga, oh sedang menelpon orang tuanya. Ayah mertua saya memang berulang tahun hari ini dan suami sedang mengucapkan selamat via telepon.

Saya membayangkan keadaan mertua saya, tinggal bertiga bersama anak bungsu yang sibuk dengan kuliah dan kerja sambilan. Pasti sepi sekali, tinggal berdua saja bersama pasangan, tanpa anak tempat mencurahkan kasih sayang. Sebuah kesadaran menghantam saya. Jika umur sampai, akan tiba pula saatnya bagi saya dan suami untuk tinggal berdua saja, tanpa anak-anak. Mereka akan punya pekerjaan, kehidupan, dan keluarga sendiri. Saat dimana mereka tidak membutuhkan kami lagi. Saat-saat menatap melalui jendela dan berharap anak-anak datang membawa cucu yang lucu, untuk kemudian menyadari itu adalah suara mobil tetangga atau penjual remote TV yang sering lewat siang hari. Kami hanya tinggal berdua. Saya akan merajut, suami akan membaca sambil mengeluhkan encok di pinggangnya. Saya juga akan mengurus kebun kecil di depan rumah, sementara suami mengecat pagar dan mengeluhkan encok di pinggangnya. Setelah itu, saya akan mengerjakan pekerjaan lain sampai tidak ada lagi yang bisa dikerjakan sementara suami berbaring di ranjangnya setelah seharian mengeluhkan encok di pinggangnya. Di penhujung hari, kami akan membuka album foto dan menatap gambar anak-anak kami sambil mengenang mereka merengek, meminta digendong, dipeluk, dibersihkan setelah buang air. Membayangkan wajah mereka saat menyambut kami pulang kerja, wajah serius mereka saat mendengarkan cerita dongeng sebelum tidur (walaupun cerita itu tidak akan bisa lebih tidak masuk akal lagi. Saya pernah bercerita tentang anak tetangga yang menemukan lubang ke luar angkasa dan menyelamatkan koloni Yeerk di planet Helgrind bersenjatakan alat pembersih toilet). Membayangkan saat mereka jatuh ke pelukan kami ketika belajar berjalan. Saat mereka menari diiringi musik. Mengingat suara cadelnya saat bernegosiasi dengan ayahnya agar diperbolehkan makan kerupuk padahal sedang batuk. Saat kata paling sering yang dia sebutkan dalam sehari adalah “Ummi… Ibu..”

Dan sayapun memeluk anak, erat sekali.

kucing

 

Sumber gambar

 

 
3 Comments

Posted by on June 20, 2013 in Uncategorized

 

3 responses to “Suatu Saat Nanti

  1. ilmanakbar

    June 24, 2013 at 6:24 am

    nice one, mer! :’)
    bener2 ya, ternyata begini rasanya menjadi orang tua

     
  2. yud1

    June 30, 2013 at 12:37 pm

    Saya pernah bercerita tentang anak tetangga yang menemukan lubang ke luar angkasa dan menyelamatkan koloni Yeerk di planet Helgrind bersenjatakan alat pembersih toilet).

    what?! Yeerk?! apa ini. mbok ya mending menyelamatkan Hork-Bajir gitu. lagian kok ke Helgrind sih?😐 #kemudiandisambit

    anyway… bicara tentang anak waktu remaja, ya. mereka akan menyebalkan. sungguh. tapi mereka akan butuh disayang tanpa terlalu banyak kata-kata. uh, dan mereka nggak bakal ngaku. udah percaya aja. saran saya? tahan. tahan aja semua ketidakenakan itu (yes, there will be tension), and reach out to them anyway. jangan lupa dipeluk, ya. kira-kira 4-6 tahun sampai kira-kira usianya 20 tahun. she will be your best friend after that. hopefully.😉

    disclosure: (1) I was a problematic-angsty-teenager (okay, don’t ask mom) (2) let’s say I’ve had quite much observation (3) I have no first-hand experience being a parent, so take with pinch of salt.

    ~btw, paragraf pertama itu
    ~Jake sama ibunya, kan?:mrgreen:

     
  3. lola

    July 17, 2013 at 2:35 am

    mengharukan sekali meri… uni sampai nangis bacanya.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: