RSS

Life is Not Fair, Really?

03 May

Apakah kamu pernah baca artikel tentang Elven Rule of Life yang ditulis oleh Bill Gates? Terlepas dari berita simpang siur tentang author sebenarnya dari rule tersebut, well those rules are coolRule pertama adalah “Life is not fair, get used to it”.

Unfair

Apakah ada saat-saat dalam hidup, kamu mempertanyakan jalan hidupmu? Menyesali kenapa aku melakukan
ini, kenapa bukan itu? Kenapa orang lain bisa seperti itu, sementara aku tidak? Kenapa begini, kenapa begitu? Bila merujuk pada rule pertama itu, kita harus menerima bahwa hidup MEMANG tidak adil, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerimanya dan melanjutkan hidup.

Ternyata, ada cara yang lebih indah, dan (meminjam istilah Mario Teguh) anggun untuk memaknai hal
ini. Islam punya istilah yang lebih tepat untuk itu. Ridho.

Menurut wikipedia, ridho berarti perasaan puas yang sempurna terhadap keinginan dan perintah Tuhan. Ambil contoh para sahabat Rasul. Ada Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf yang luar biasa kaya. Ada Umar bin Khattab yang kuat. Ada Aisyah yang cerdas, hafal ratusan hadits. Dan ada Bilal, seorang budak hitam asal Habsyi.

Menurut saya, perbudakan adalah hal yang amat sangat kejam. Bayangkan kamu diculik dari kampungmu, dijual (uangnya buat si penculik lagi!!), dan disuruh kerja tanpa upah. Kadang dipukuli, bahkan mungkin lebih kejam daripada itu. Orang yang merasakannya, lebih dari berhak untuk mempertanyakan kenapa saya dijadikan budak? Apakah tuhan tidak sayang pada saya? Bilal memberikan teladan dalam hal ini. Bilal, seorang budak hitam, dijamin masuk surga, bersama dengan Abu Bakar yang menginfakkan SELURUH hartanya dan membersamai Nabi dari awal dakwah Islam.

Apa hikmah yang bisa kita ambil? Bilal ridho dengan posisinya dan meng-utilisasi maksimal posisinya. Pada posisinya sebagai budak yang tidak punya uang, tentu dia tidak bisa berinfak, maka dia harus mencari amalan lain, amalan yang bisa dijadikan amalan unggulannya. Apa itu? Dengan menjaga wudhu, seumur hidupnya. Dan Nabipun mendengar suara sendalnya di surga.

Begitulah, casing/peran dunia tidak membuatnya minder, kerdil. Peran/pekerjaan sekarang adalah kehendak Allah, Bilal berpikir bahwa hendaknya dia ridho dan bersyukur. Semua ini sudah ditata oleh Allah, tinggal saya mengambil yang terbaik dari setiap keadaan. Setiap orang punya peran sendiri, baik besar maupun kecil, bila ditunaikan dengan baik, diganjar dengan pahala. Bilal tidak berkata “ntar deh, kalau saya udah kaya, saya akan infak.” Dia mulai saat ini, dengan apa yang dia punya.

Apa yang kita punya? Bakat dan kemampuan yang diberikan Allah merupakan modal yang lebih dari cukup. Sekecil apapun pasti ada yang bisa kita lakukan. Para sahabat Nabi dengan latar belakang dan kemampuan yang beraneka ragam adalah teladan yang baik dalam berbuat baik. Sebagai wanita, kita bisa mencontoh Siti Hajar yang berjuang sendiri untuk anaknya saat ditinggalkan suami di lembah tandus tanpa apapun untuk dimakan dan tempat berlindung. Ummu Umarah/ Nusaibah binti Ka’ab, muslimah kuat yang menjadi pelindung nabi dalam perang ( Oh, I love her, she is my heroinne). Siti Khadijah seorang pedagang sukses yang membuka banyak lowongan kerja. Dan banyak lagi yang lain.

Saya sering banget menemukan di media sosial ayat terkenal dari surat Ar Rahman ini “Maka nikmat manakah yang kamu dustakan?” diiringi dengan kalimat Alhamdulillah, mengindikasikan orang tersebut sedang mendapat nikmat. Well, there is more than that. Di yaumul hisab, kita kan diminta pertanggungjawabannya, saat kita diciptakan sebagai manusia, sebagai muslim/ah, apa yang telah kita lakukan untuk mencapai ridho Allah? Kita diberi banyak sekali nikmat dan kemampuan, mana yang tidak kita gunakan secara maksimal untuk mencapai ridho Allah. Mana yang kita dustakan? Menyia-nyiakan segenap kemampuan dan nikmat yang diberikan Allah tanpa timbal balik untuk berbuat baik adalah suatu bentuk pendustaan terhadap nikmat Allah.

Hal buruk terjadi dan akan selalu terjadi, untuk menguji apakah kita ridho dengan kehendak Allah. Tidak mungkin Allah memberikan takdir yang buruk, yang buruk adalah prasangka manusia. Jangan berpikir bahwa kalo jabatan/pekerjaan saya baik maka rezeki saya juga baik. Tapi hendaklah bekerja dengan sunnatullah: bekerja baik dan bertanggung jawab, apapun pekerjaan kita. Lalu insya Allah, rezeki kita akan dicukupkan, sehingga kita tidak akan takabur dengan jabatan dan menghalalkan segala cara.

“While you are hating your life because you can’t get what you want, someone is wishing to have a
life like yours” – Ustadh Nouman Ali Khan

~sumber gambar: sini

 

 
Leave a comment

Posted by on May 3, 2013 in renungan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: