RSS

Suatu Saat Nanti

Ada suatu potongan cerita dalam novel fiksi yang saya baca waktu muda dulu. Ceritanya tentang seorang ibu yang melihat putra remajanya termenung memandang bulan, seorang diri, pada malam hari nan sendu, di ayunan berkarat di samping rumahnya. Sambil berpura-pura mengecek apakah rumput sudah disiram, sang ibu menghampiri putranya.

Ibu: “Ibu lihat kamu lesu sekali sejak makan malam tadi. Apa yang sedang mengganggu pikiranmu?”

Si anak diam saja. Tangannya menelusuri tulisan namanya yang dia buat di tiang ayunan. Tulisan yang dibuatnya saat baru saja pandai menulis dan merayakan euphoria tersebut dengan menulis dimana-mana.

Ibu: “Hhh… akhirnya datang juga saat itu, saat-saat dimana ibu sudah menjadi terlalu tua sebagai tempatmu bercerita”

Si anak memandang ibunya, mulutnya bergerak-gerak seperti ikan mas koki direnggut dari air. Namun, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.

Ibu: “Baiklah, ibu mengerti, kamu sedang ingin sendirian, bukan? Kamu tahu dimana mencari ibu kalau kamu ingin bercerita, tentang apapun itu”. Sambil mengacak rambut putranya dengan sayang, si Ibu berlalu, tidak sebelum menyampirkan sehelai kain di punggung putranya.

Saya dan semua orang dewasa pasti pernah mengalami menjadi remaja. Masa-masa ingin menunjukkan keakuan, masa ingin diakui, masa ingin mandiri, ingin jauh dari orang tua. Sekarang saya bukan anak kecil lagi. Saya tidak lagi ingin dikekang, dilarang, dan diperlakukan selayaknya anak kecil. Saya punya kemampuan dan sangat gatal untuk menjajalnya. Saat ini, remaja lebih percaya pada temannya, lebih peduli pada penerimaan temannya, lebih butuh gengnya. Selain memberi uang saku dan memenuhi kebutuhan pokok, remaja tidak butuh orang tuanya. Mereka punya dunia sendiri. Itulah saya saat remaja.

Namun, menjadi orang tua dari anak remaja, hmmm… belum pernah. Anak saya baru akan berumur 3 tahun saat ini. Masih sangat bergantung dan suka sekali bermanja-manja pada saya. Kadang, terlalu bergantung. Secara harfiah, benar-benar bergantung, terutama di tempat umum, atau saat masak atau terutama sekali saat saya memegang telepon genggam, anak minta digendong. Sambil menggendong anak, mata membandingkan harga dan netto di rak, tangan mencari-cari varian produk yang disukai anak, sementara jilbab ditarik-tarik, tak saya pedulikan jilbab yang miring kesana kemari, tidak ada waktu untuk itu.

Itu belum seberapa, karena belanja adalah kegiatan yang menyenangkan dan (hampir) tidak ada tekanan. Lain lagi ceritanya saat saya masih kuliah S2. Batas akhir penyerahan tugas adalah tengah malam, lewat daripada itu, tidak diterima lagi. 15 menit menjelang batas akhir pengumpulan saya masih mengerjakan tugas online yang rumit tersebut, anak bangun dari tidurnya. Ayahnya berusaha menenangkan anak, anak terus menangis  memanggil ibunya. Ayah menggendong anak dan sambil menyanyikan lagu, tangis anak semakin kencang. Karena takut ditimpuki oleh tetangga, anak diletakkan di pangkuan saya, namun masih tetap belum sepenuhnya tenang, sementara batas akhir pengumpulan tugas 2 menit lagi. Anak mengacak-acak keyboard saya, saya kalut meng-zip tugas yang belum kelar tersebut dan mengirimnya. Saat proses upload dijalankan, saya harap-harap cemas, menatap countdown di situs tersebut. Apakah tugas yang saya kerjakan berhari-hari ini bisa terkirim, sebelum link pengumpulan diblokir? Suasananya bisa disandingkan dengan adegan seorang aktor sedang memilih kabel mana yang harus dipotong untuk menghentikan bom, kuning atau hijau? Sementara, waktu tersisa tinggal 10 detik lagi, sebelum bom nuklir tersebut meledak dan menimbulkan korban jiwa yang jumlahnya setara dengan korban penyakit Pes di Eropa Abad Pertengahan.   Ok, mungkin agak berlebihan, tapi kamu pasti mengerti apa maksudku kan?

Lain lagi, ceritanya saat anak sakit dan dirawat di rumah sakit. Saya dan ayahnya menginap di RS dan bolak-balik kantor-RS selama anak dirawat. Selama anak dirawat, di tangannya diperban sebagai tempat lewat cairan infus. Mungkin tangannya berdenyut-denyut, sehingga anak terus meminta saya untuk meniup tangannya, sambil menangis, sampai dia tertidur. Kalau saya berhenti meniup tangannya, dia akan terbangun, menangis, dan minta ditiup lagi. Setiap saat, selama di rumah sakit.

Dunia berputar 180 derajat sejak anak lahir. Kurang waktu tidur, kurang waktu untuk diri sendiri, semuanya berputar di sekeliling anak. Semuanya demi anak. Sepanjang hari untuk anak. Kadang sebagai ibu, saya merasa lelah. Sebagai anak yang ditinggal ibunda sejak kecil, saya terbiasa melakukan segala sesuatu sendiri. Saya terbiasa untuk mengandalkan diri sendiri. Itu yang adang saya harap anak bisa pelajari dan terapkan. Untuk mandiri dan mengandalkan diri sendiri. Tidak terlalu bergantung pada saya.

Saya berharap agar anak cepat mandiri. “Karena satu-satunya orang yang akan selalu ada untukmu, adalah dirimu sendiri, bohong kalau ada yang bilang bahwa dia akan selalu ada untukmu. Tidak ada, karena semua orang punya kehidupannya sendiri, begitu juga orang tuamu,” batin saya, sembari menepuk-nepuk punggung anak yang terbangun agar dia tidur lagi. Di luar kamar, terdengar suami sedang berbicara di telpon. Saya tajamkan telinga, oh sedang menelpon orang tuanya. Ayah mertua saya memang berulang tahun hari ini dan suami sedang mengucapkan selamat via telepon.

Saya membayangkan keadaan mertua saya, tinggal bertiga bersama anak bungsu yang sibuk dengan kuliah dan kerja sambilan. Pasti sepi sekali, tinggal berdua saja bersama pasangan, tanpa anak tempat mencurahkan kasih sayang. Sebuah kesadaran menghantam saya. Jika umur sampai, akan tiba pula saatnya bagi saya dan suami untuk tinggal berdua saja, tanpa anak-anak. Mereka akan punya pekerjaan, kehidupan, dan keluarga sendiri. Saat dimana mereka tidak membutuhkan kami lagi. Saat-saat menatap melalui jendela dan berharap anak-anak datang membawa cucu yang lucu, untuk kemudian menyadari itu adalah suara mobil tetangga atau penjual remote TV yang sering lewat siang hari. Kami hanya tinggal berdua. Saya akan merajut, suami akan membaca sambil mengeluhkan encok di pinggangnya. Saya juga akan mengurus kebun kecil di depan rumah, sementara suami mengecat pagar dan mengeluhkan encok di pinggangnya. Setelah itu, saya akan mengerjakan pekerjaan lain sampai tidak ada lagi yang bisa dikerjakan sementara suami berbaring di ranjangnya setelah seharian mengeluhkan encok di pinggangnya. Di penhujung hari, kami akan membuka album foto dan menatap gambar anak-anak kami sambil mengenang mereka merengek, meminta digendong, dipeluk, dibersihkan setelah buang air. Membayangkan wajah mereka saat menyambut kami pulang kerja, wajah serius mereka saat mendengarkan cerita dongeng sebelum tidur (walaupun cerita itu tidak akan bisa lebih tidak masuk akal lagi. Saya pernah bercerita tentang anak tetangga yang menemukan lubang ke luar angkasa dan menyelamatkan koloni Yeerk di planet Helgrind bersenjatakan alat pembersih toilet). Membayangkan saat mereka jatuh ke pelukan kami ketika belajar berjalan. Saat mereka menari diiringi musik. Mengingat suara cadelnya saat bernegosiasi dengan ayahnya agar diperbolehkan makan kerupuk padahal sedang batuk. Saat kata paling sering yang dia sebutkan dalam sehari adalah “Ummi… Ibu..”

Dan sayapun memeluk anak, erat sekali.

kucing

 

Sumber gambar

 

 
3 Comments

Posted by on June 20, 2013 in Uncategorized

 

Life is Not Fair, Really?

Apakah kamu pernah baca artikel tentang Elven Rule of Life yang ditulis oleh Bill Gates? Terlepas dari berita simpang siur tentang author sebenarnya dari rule tersebut, well those rules are coolRule pertama adalah “Life is not fair, get used to it”.

Unfair

Apakah ada saat-saat dalam hidup, kamu mempertanyakan jalan hidupmu? Menyesali kenapa aku melakukan
ini, kenapa bukan itu? Kenapa orang lain bisa seperti itu, sementara aku tidak? Kenapa begini, kenapa begitu? Bila merujuk pada rule pertama itu, kita harus menerima bahwa hidup MEMANG tidak adil, tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerimanya dan melanjutkan hidup.

Ternyata, ada cara yang lebih indah, dan (meminjam istilah Mario Teguh) anggun untuk memaknai hal
ini. Islam punya istilah yang lebih tepat untuk itu. Ridho.

Menurut wikipedia, ridho berarti perasaan puas yang sempurna terhadap keinginan dan perintah Tuhan. Ambil contoh para sahabat Rasul. Ada Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf yang luar biasa kaya. Ada Umar bin Khattab yang kuat. Ada Aisyah yang cerdas, hafal ratusan hadits. Dan ada Bilal, seorang budak hitam asal Habsyi.

Menurut saya, perbudakan adalah hal yang amat sangat kejam. Bayangkan kamu diculik dari kampungmu, dijual (uangnya buat si penculik lagi!!), dan disuruh kerja tanpa upah. Kadang dipukuli, bahkan mungkin lebih kejam daripada itu. Orang yang merasakannya, lebih dari berhak untuk mempertanyakan kenapa saya dijadikan budak? Apakah tuhan tidak sayang pada saya? Bilal memberikan teladan dalam hal ini. Bilal, seorang budak hitam, dijamin masuk surga, bersama dengan Abu Bakar yang menginfakkan SELURUH hartanya dan membersamai Nabi dari awal dakwah Islam.

Apa hikmah yang bisa kita ambil? Bilal ridho dengan posisinya dan meng-utilisasi maksimal posisinya. Pada posisinya sebagai budak yang tidak punya uang, tentu dia tidak bisa berinfak, maka dia harus mencari amalan lain, amalan yang bisa dijadikan amalan unggulannya. Apa itu? Dengan menjaga wudhu, seumur hidupnya. Dan Nabipun mendengar suara sendalnya di surga.

Begitulah, casing/peran dunia tidak membuatnya minder, kerdil. Peran/pekerjaan sekarang adalah kehendak Allah, Bilal berpikir bahwa hendaknya dia ridho dan bersyukur. Semua ini sudah ditata oleh Allah, tinggal saya mengambil yang terbaik dari setiap keadaan. Setiap orang punya peran sendiri, baik besar maupun kecil, bila ditunaikan dengan baik, diganjar dengan pahala. Bilal tidak berkata “ntar deh, kalau saya udah kaya, saya akan infak.” Dia mulai saat ini, dengan apa yang dia punya.

Apa yang kita punya? Bakat dan kemampuan yang diberikan Allah merupakan modal yang lebih dari cukup. Sekecil apapun pasti ada yang bisa kita lakukan. Para sahabat Nabi dengan latar belakang dan kemampuan yang beraneka ragam adalah teladan yang baik dalam berbuat baik. Sebagai wanita, kita bisa mencontoh Siti Hajar yang berjuang sendiri untuk anaknya saat ditinggalkan suami di lembah tandus tanpa apapun untuk dimakan dan tempat berlindung. Ummu Umarah/ Nusaibah binti Ka’ab, muslimah kuat yang menjadi pelindung nabi dalam perang ( Oh, I love her, she is my heroinne). Siti Khadijah seorang pedagang sukses yang membuka banyak lowongan kerja. Dan banyak lagi yang lain.

Saya sering banget menemukan di media sosial ayat terkenal dari surat Ar Rahman ini “Maka nikmat manakah yang kamu dustakan?” diiringi dengan kalimat Alhamdulillah, mengindikasikan orang tersebut sedang mendapat nikmat. Well, there is more than that. Di yaumul hisab, kita kan diminta pertanggungjawabannya, saat kita diciptakan sebagai manusia, sebagai muslim/ah, apa yang telah kita lakukan untuk mencapai ridho Allah? Kita diberi banyak sekali nikmat dan kemampuan, mana yang tidak kita gunakan secara maksimal untuk mencapai ridho Allah. Mana yang kita dustakan? Menyia-nyiakan segenap kemampuan dan nikmat yang diberikan Allah tanpa timbal balik untuk berbuat baik adalah suatu bentuk pendustaan terhadap nikmat Allah.

Hal buruk terjadi dan akan selalu terjadi, untuk menguji apakah kita ridho dengan kehendak Allah. Tidak mungkin Allah memberikan takdir yang buruk, yang buruk adalah prasangka manusia. Jangan berpikir bahwa kalo jabatan/pekerjaan saya baik maka rezeki saya juga baik. Tapi hendaklah bekerja dengan sunnatullah: bekerja baik dan bertanggung jawab, apapun pekerjaan kita. Lalu insya Allah, rezeki kita akan dicukupkan, sehingga kita tidak akan takabur dengan jabatan dan menghalalkan segala cara.

“While you are hating your life because you can’t get what you want, someone is wishing to have a
life like yours” – Ustadh Nouman Ali Khan

~sumber gambar: sini

 

 
Leave a comment

Posted by on May 3, 2013 in renungan

 

Tiga Kesalahan Besar Orang Tua dalam Mendidik Anak

1. Orang tua tidak membiarkan anaknya mengambil resiko

sumber gambar

Studi menunjukkan anak-anak dengan orang tua yang terlalu protektif menghasilkan nilai yang lebih rendah daripada ortu yang lebih toleran terhadap resiko. Anak yang tidak banyak bermain di luar dan tidak mengalami luka karena bermain atau kecelakaan lain, seringkali mengalami phobia setelah dewasa. anak-anak perlu mengalami jatuh untuk menyadari bahwa jatuh itu normal. Ortu menghambat anak untuk menghadapi dunia yang sama sekali tidak tanpa resiko.

Remaja lebih siap untuk menghadapi resiko daripada kelompok umur lain. Mereka perlu untuk menguji batas-batas kemampuan mereka, nilai- nilai, dan menemukan identitas diri. Ini adalah saat-saat dimana mereka menemukan konsekuensi dari suatu tindakan, melalui pengalaman.

2. Orang tua menyelamatkan anaknya terlalu cepat

Ortu perlu mempersiapkan anaknya untuk melakukan pekerjaan sendiri tanpa bantuan. Bila orang tua
memberi tahu semua langkah yang harus diambil, menyelesaikan semua permasalahan anaknya, hal ini akan
membuat anak tidak berpikir jauh sebelum melakukan sesuatu, karena mereka berpikir “cepat
atau lambat orang tuaku akan menyelamatkanku dan membereskan segalanya”. Sama sekali bukan cara
kerja dunia.

3. terlalu banyak memuji

Studi menunjukkan, seseorang yang mendapatkan terlalu banyak pujian, tidak akan menunjukkan
konsistensi dalam usaha. Dia akan berhenti berusaha saat tidak mendapat reward.

Pada saat ortu terlalu gampang memuji, sebenarnya anak belajar untuk menipu dan berbohong serta
menghindari kesulitan. Anak tidak disiapkan untuk menghadapi kesulitan. Layaknya vaksin, anak harus
mendapatkan dosis kesulitan tertentu agar bisa membangun kekuatan untuk menghadapinya.

Akan tiba masanya, anak ingin mengembangkan sayapnya sendiri, orang tua harus membiarkannya.
Berikut beberapa ide:

1. bantu anak mengkalkulasi resiko
2. bantu anak belajar membuat pilihan
3. ceritakan pengalaman orang tua mengenai resiko yang pernah dihadapi ortu dan bagaimana ortu mengatasinya
4. alih-alih memberikan hadiah materi, bagaimana dengan menghabiskan waktu bersama?
5. pilih resiko positif dan dorong anak untuk melakukannya, seperti olah raga, bekerja dll
6. jangan biarkan rasa bersalah menghalangi orang tua untuk membimbing anaknya ke arah yang benar.
Bukan tugas orang tua untuk merasa bahagia dengan memberikan hal yang bisa membuat mereka senang,
tapi sebenarnya tidak baik untuk mereka. Misalnya membelikan motor untuk anak di bawah umur. Anak mungkin akan merajuk bila tidak dikabulkan saat minta dibelikan motor, hal ini membuat orang tua selalu mengabulkan permintaan anak.
7. jangan memberikan hadiah untuk pencapaian kecil.

Mungkin akan ada waktu-waktu dimana anak marah pada ortunya karena tidak mendapatkan semua yang
dia inginkan. Biarkan anak merasakan kekecewaan, kerja keras, jatuh, dan gagal. Bila ortu memperlakukan anaknya sebagai benda yang rapuh, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang rapuh. Ortu harus mempersiapkan anaknya untuk dunia yang sedang menanti mereka. Dunia membutuhkan manusia dewasa yang tahan banting bukan yang rapuh.

Referensi: http://growingleaders.com/blog/3-mistakes-we-make-leading-kids/

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2013 in Uncategorized

 

Selayang Pandang Fremantle

Fremantle. Kata Fremantle mengingatkan saya pada closing segmen suatu acara di TV, Fremantle Media. Acaranya apa, lupa, sejenis idol2an kali. Usut punya usut, ternyata Fremantle itu nama kota pelabuhan di Australia Barat, yang sempet saya singgahi akhir November lalu.

Web ttg Fremantle menggambarkan betapa serunya Fremantle:

“Fremantle provides a unique opportunity for visitors to experience and enjoy a range of cultural activities in a relaxed atmosphere. A browse through the markets or leisurely stop at one of the numerous cafes and restaurants will complement your exploration of the arts, making a visit to Fremantle a rich and rewarding experience. ”

Sounds fun. Itulah sebabnya walo acaranya di pusat kota Perth, saya pilih hotel di Fremantle, karena banyak objek wisata.

Ternyata, Fremantle itu sepi sodara2.. mulai rame jam 9 pagi, jam 5 sore udah sepi, sementara di musim semi, matahari terbenam jam 7 sore. Kebayang donk jam 5 udah pada sepi padahal masih terang. Jam 5 saya jalan2 sama temen2 keliling Fremantle, membatin: ini orang2 pada kemanaa… jalanan sepi, rumah kaya ga ada penghuninya, ga ada suara TV dari rumah2 yang saya lewati.. Hiii.. jadi ceyem.

Setiap malam, saya mengharuskan udah sampe di hotel jam 8 malam, yang beberapa kali dilanggar karena salah naik bus -_-“. Kalau naik kereta atau berhenti di pemberhentian terakhir bis dari pusat kota Perth, harus jalan dari stasiun Fremantle ke Hotel. Jaraknya  sekitar sekilo lah. Nah di jalan pulang itu, di atas jam 8, banyak orang mabuk. Waktu itu saya jalan sendiri, dan di depan saya ada orang mabuk. Saya ketakutan setengah mati, sampai baca ayat kursi. Ga pernah liat orang mabuk alkohol sebelumnya, kalo mabuk perjalanan sih sering liat dan ngalamin. mabuk cinta? mabuk duit? mabuk kekuasaan? halah jadi panjang.

Intinya pada hari kerja, jauhi jalanan Fremantle di atas jam 8 malam, kalau ga mau cari masalah.

Anyhow, Fremantle punya beberapa hal yang melipur lara saya. Ada pantai dan restoran di pinggir pantai, jadi kita bisa makan sambil menikmati angin pantai dan suara deburan ombak. Ada Fremantle Prison, sesuai dengan namanya tempat nyimpen tahanan. Pada masanya, penjara ini punya pengamanan super ketat dan banyak alat penyiksaan. Bagi penggemar horor, bisa menikmati torch light tour, yang diadakan malam hari di fremantle prison. Me? No thank you. ~senyum monalisa

Bagi penikmat arsitektur, ada banyak gedung2 bergaya klasik yang bisa diobservasi. Bagi para pecinta fotografi, silakan puas2in untuk foto di depan gedung2 tersebut.

Berhubung Fremantle adalah kota pelabuhan dan biasanya di kota manapun terutama negara barat, museum adalah tempat wajib kunjung, tentu saja ada museum ttg maritim disini, namanya Maritime Museum. Museum ini berisi berbagai jenis model kapal, perlengkapan melaut, meriam, dan cerita tentang awal mula kedatangan bangsa Inggris di Fremantle. Harga tiket masuk kalo ga salah AUD 10, tapi kalo masuk di setengah jam terakhir, ga bayar (berdasarkan pengalaman pribadi 😀 )

Lalu ada round house, bangunan tertua di Australia Barat. Yang pernah digunakan untuk penjara. Sekarang dijadikan museum.

Lalu ada eshed market, tempat belanja barang yang katanya murah2.. Tapi sayang waktu saya kesana udah tutup huhu.

Salah satu daya tarik utama Fremantle adalah Fremantle market yang buka Jumat, Sabtu, Minggu. Fremantle Market adalah pasar di dalam gedung yang menjual berbagai kerajinan khas australia, kaos, makanan dll.

Itu tentang objek wisata. Gimana tentang makanan. Ada banyak variasi makanan di Capucino strip, sejenis kafe pinggir jalan dengan payung2, jadi berasa kaya di Paris (kaya pernah kesana aja :p )

Transportasi dari Fremantle ke Pusat Kota Perth paling cepet naik kereta, sekitar 30 menit. Kalau naik bus minimal 45-50 menit. Saya pernah naik bus dari Perth ke Fremantle, butuh waktu 1.5 jam, ga pake macet, cuma dia berhenti2 di stasiun2 tertentu.

Udah sih gitu aja, cerita tentang Fremantle kali ini. Post berikutnya saya berencana untuk nulis ttg Perth. Enjoy. 😀

 
Leave a comment

Posted by on December 11, 2012 in Uncategorized

 

Indonesia is Superpower

Suatu saat, kita tidak hanya akan berperang karena emas hitam, tapi juga untuk emas biru.”

Negeri ini indah. Itu yang selalu saya imani. Cerita2 sebelumnya, Bukittinggi, Teluk Kuantan, Payakumbuh, lalu tempat2 yang belum sempat saya kunjungi (how much I am longing to experience Sulawesi and Kalimantan ), belum bagian terakhir pentalogi yang belum selesai itu . Seems like the place you want to spend the rest of your life.

Zamrud Khatulistiwa. Gelar yang memang pantas disandang negeri kita. Dahulu, saya kira hanya karena keindahannya yang luar biasa, karena harta karun ragam budaya, karena kesuburan yang hingga tongkatpun ditanam bisa tumbuh.

Hanya itu. Sampai tahu bahwa ternyata kompleksitas ekologi paling padat di dunia terdapat di Indonesia!! Negeri ini memiliki hutan yang paling luas dan paling kaya di dunia. EMPAT HEKTAR hutan di BORNEO (atau Kalimantan bagi kita) memiliki lebih banyak spesies pohon daripada KESELURUHAN AMERIKA UTARA. 4 hektar berbanding 2.470.900.000 hektar? Empat hektar tidaklah terlalu luas. Sebagai perbandingan luas UI adalah 320 hektar.

Kita memiliki beragam spesies yang tidak ditemukan dimanapun, kecuali Indonesia. Orangutan, Harimau Sumatera, hingga 23.28% dari total spesies burung contohnya.

Disamping itu, keragaman hewan dan tanaman laut Indonesia juga yang tertinggi di planet ini. Keragaman laut tertinggi untuk semua kategori utama!!!

(semakin tinggi kepekatan warna menunjukkan semakin tinggi keragaman hewan dan tumbuhan (biodiversity) laut)

Bisakah kita temukan tempat lain yang menyamainya?

Anugerah seagung ini, yang bahkan gunung dan laut minder untuk memikulnya, dipercayakan ke manusia. Malaikat sampai bertanya2, kenapa kekuatan sebesar ini diserahkan kepada manusia? Padahal manusia itu sangatlah zhalim. Dan akibatnya, bumilah yang menanggung derita. Dimana-mana terjadi kerusakan lingkungan. Guinness Book of Record mencatat, setiap tahun 1.5 juta hektar hutan bernilai tinggi Indonesia lenyap, ekivalen dengan 6 kali lapangan bola setiap menitnya. Deforestasi besar-besaran sedang terjadi tepat di depan hidung kita.

Sedih sekali mendengar Indonesia menempati urutan ketiga sebagai penyebab perubahan Iklim setelah USA dan China. Mereka karena industrinya, kita karena pembakaran hutan. Ironis…

Ini adalah gambar pulau Kalimantan, warna hijau menandai daerah hutan. See, setidaknya setengah wilayah hutan Kalimantan sudah hilang.

“Yah, setidaknya kan masih ada setengah lagi..”

Eh eh, jangan salah. Yang setengah itu adalah daerah tebing dan jurang, yang kemiringannya mencapai 90 derajat, belum bisa sempat ditebangi saja.

Illegal logging, konversi hutan menjadi lahan, kebakaran, dan pemerintahan yang lemah dituding sebagai penyebab utama deforestasi. Laut Indonesia yang terkaya semuka Bumi inipun tidak luput dari perusakan menggunakan dinamit dan cyanide fishing.

Pada gambar kedua, cyanide disemprotkan ke sarang2 ikan. Ikan2 akan teler dan melayang2 ke atas. Saat itulah ditangguk. Bahayanya disini, ikan2 bocah juga ikut jadi korban. Bahkan kode etik para pemancing adalah melepaskan kembali ikan2 kecil yang terpancing. Kalo ikan2 kecil juga mati, lalu apa yang akan jadi ikan besar nantinya?

Lebih jauh lagi, mau tidak mau kita berhadapan dengan si populer, climate change. Perubahan ikllim akan membuat cuaca tidak menentu, kenaikan temperatur dan curah hujan. Lalu tentu saja kenaikan permukaan laut. ITB (2007) menyatakan setiap tahun, permukaan laut naik 1 cm.

“Wah wah wah, laut naik, tanah berkurang dunk.”

Absolutely!! Air perlu tempat dan dia akan menggusur kita dari rumah lebih efektif dari Pamong Praja. Inilah profil Jakarta pada tahun 2050.

Yang biru adalah banjir akibat naiknya permukaan laut karena pemanasan global. Daerah mana saja itu? Adakah rumahmu termasuk yang (akan) berwarna biru?

Setelah beruang kutub yang tewas kelelahan, berenang mencari daratan untuk ditinggali, kitakah selanjutnya? Mungkin sebaiknya kita mulai belajar berenang.

Itu baru Jakarta, daerah lain segera menyusul. Indonesia akan kehilangan pulau2 kecil dan daerah2 rendah. Rumah dan kampung halaman kita mungkin saja. Topan, kekeringan, kebakaran, banjir, penyakit juga seakan tak mau kalah ikut ambil bagian.

Degradasi lingkungan ini menyebabkan menurunnya pemasukan, penurunan keamanan makanan dan kesehatan. Ini tidak lain akan membawa kepada konflik. Setiap orang butuh makan, udara segar, tanah, air bersih, dan uang. Saat semua elemen kehidupan ini terus tergerus, sementara jumlah manusia akan mencapai tujuh miliar tiga tahun lagi, kita akan semakin bersaing untuk memperebutkannya.

Saat itulah, emas biru alias air (dan elemen2 kehidupan lainnya) akan lebih berharga dari minyak, si emas hitam. Tinggal menunggu waktu pecahnya perang jenis baru.

Sigh, kenapa terdengar pesimis ya?

Padahal dengan semua potensi alam: kompleksitas ekologi terpadat, hutan terkaya, biodiversity laut tertinggi, keindahan dan kesuburan alam, bersama dengan kekuatan 238 juta penduduk, Indonesia is (supposed to be) superpower.

Tapi kenapa?

Kenapa kita ibarat tikus yang mati di lumbung penuh padi?

~~~

Referensi: presentasi Bp. Alfred Nakatsuma pada Get Together Goodwill Oktober 2008

 
10 Comments

Posted by on December 2, 2012 in Uncategorized

 

Jalan-Jalan ke Seoul (part 2/2)

Postingan ini lanjutan dari cerita jalan2 ke Seoul part 1.

8. Layaknya Jakarta dengan Monasnya, Paris dengan Eiffelnya, KL dengan Petronasnya, Seoul juga punya menara, namanya Seoul tower/ Namsan Tower. Dari Namsangol Hanok Village kita bisa naik bis ke Seoul Tower ini. Bis ini berhenti di beberapa titik, dan pemberhentian terakhir adalah Seoul Tower ini. Jadi ga perlu takut kelewatan, seperti yang saya alami waktu itu. Jadi kan jalan2nya sendiri, karena takut kelewatan, saya nanya2 ke sopirnya. Karena sopirnya ga bisa bahasa Inggris, dan sebel saya tanyain, dia marah2. Saya keder. Balik ke kursi dan tanya ke orang yang duduk di belakang saya. eh, dia bisa bahasa inggris :D, dijelasin deh.

Seoul Tower ini terletak di sebuah bukit. Dari pemberhentian bis ke pintu masuk tower ini perlu mendaki bukit dulu. Jadi ga langsung berhenti di depan pintu gitu. Berita baiknya, jalan dari pemberhentian bis ke pintu masuk, ada banyak pohon sakura dan kita bisa liat kota Seoul dari atas, bagus deh :D. Sayangnya waktu saya kesana, cuaca kurang mendukung, hujan dan berangin, payung saya sampe kebalik2. Tower ini sering jadi lokasi syuting film2 korea.

 

9. Saya sempet ke Mesjid Agung Seoul di Ittaewon. Di sekitar mesjid ini banyak restoran2 halal.

10. Istana berikutnya yang saya kunjungi adalah Changdeokgung. Changdeokgung ini dinobatkan sebagai warisan dunia/world heritage dari UNESCO sebagai “outstanding example of Far Eastern palace architecture and garden design”

 

11. Finally, istana terbesar dan atraksi utama kota Seoul, Geyongbokgung Palace. Istana ini punya 6 pintu masuk dan pintu masuk utama namanya Gwanghwamun. Di pintu masuk ini ada penjaga dengan pakain tradisional, pengunjung bisa berfoto bersama mereka.

Kebetulan pas disana, liat upacara penggantian pejaga. Juga bisa nyobain Hanbok, baju tradisional Korea. untuk bisa nyobain Hanbok harus antri 2 jam!! Yah, demi sekali seumur hidup nyobain Hanbok di Korea, saya tungguin. Ternyata pas pulang, di bandara Incheon ada lokasi dimana kita bisa foto dengan memakai Hanbok… cape deh

   
12. Deket dari pintu masuk utama Gyeongbokgung, tinggal jalan kaki ke Insadong. Sama kaya Myeong-Dong, Insadong sejenis pasar, bedanya kalau Myeong Dong menjual barang kebutuhan sehari2 ky pakaian, kosmetik atau makanan, Insadong lebih ke arah barang2 seni, sehingga tatanannya lebih artistik, harganyapun lebih mahal.

 
13. Kalau mau cari oleh2, bisa cari di pasar Namdaemun. Barangnya lebih murah daripada Myeong Dong atau Insadong.

 

14. Selain tempat wisata, Korea terkenal akan satu hal lagi, yaitu Kimchi. Apa itu kimchi? Kimchi itu makanan tradisional Korea yang disajikan hampir dalam setiap kesempatan makanan. Kimchi terbuat dari kubis yang difermentasikan dengan berbagai bumbu.

 

Untuk kesempatan kali ini, itu dulu yang bisa diceritakan dari membolang di Seoul. Sampai ketemu di cerita berikutnya. 😀

 
2 Comments

Posted by on November 13, 2012 in Uncategorized

 

Jalan-Jalan ke Seoul (part 1/2)

Setelah sebelumnya cerita tentang persiapan ke Korea Selatan disini, kali ini aku mo cerita pengalaman pas di Seoulnya sendiri. Padahal udah 7 bulan kesana, baru cerita sekarang :P..

1. Saya nginep di daerah Myeong-Dong, pusat keramaian. Disini banyak berjejeran toko2 kosmetik, pakaian, makanan, dll. Kawula muda Seoul sering main kesini.

   

2. Sempet mampir ke KT Internet Computing Center. KT ICC ini mengclaim diri sebagai the best korea internet hub. Sempet dengerin presentasi dari representatifnya. Karena sangat rahasia, di dalam gedung ini ga boleh ambil foto.

3. Di Seoul ada 5 istana besar yang dibangun oleh dinasti Joseon, yang paling besar adalah Gyeongbokgung Palace. Saya kesana hari senin, ternyata tutup T_T, jadinya jalan2 ke Deoksugung Palace yang paling deket dari sana. Di dalam istana Deoksugung, ada national museum of art Deouksugung. Di dalam istana ini, ada sejenis alat yang digunakan orang Korea jaman dulu untuk mengetahui waktu. Juga ada patung King Sejon, yang menciptakan huruf Korea, Hangeul.

    

4. Ini adalah Town Hall. Sejenis taman tengah kota gitu, ada bunga, rumput dan air mancur. Disini banyak orang bersantai. Untuk melewati rumput, dikasih sejenis keset berlubang2 sehingga rumputnya ga banyak keinjek2.

  

5. ini adalah monumen memperingati Korean War. Poster2 perang ditaruh di jalan yang ramai.


6. Ini adalah Cheonggyecheon, aliran air di tengah kota Seoul.

 

7. Besoknya, saya jalan2 ke Namsangol Hanok Village. Ini merupakan komplek perumahan tradisional Korea/Hanok.

   

Bersambung ke episode 2

 
3 Comments

Posted by on November 13, 2012 in Uncategorized