RSS

Perguruan Tinggi Orang Miskin

02 May

Ibunda guru, ayahku telah meninggal, besok aku akan ke sekolah.
Salamku, Lintang.

Sebait kalimat di atas adalah cuplikan novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, sebuah novel fenomenal yang mengangkat potret ironi pendidikan negeri ini. Novel ini menceritakan perjuangan sepuluh anak kuli miskin di Belitong untuk bersekolah. Salah satu tokoh sentral adalah Lintang. Anak superjenius didikan alam ini mengobarkan mimpi anak-anak miskin tersebut untuk berani bermimpi melawan nasib, berani bercita-cita. Walaupun melarat, mereka harus sekolah setinggi-tingginya. Namun, sayang Lintang sendiri harus putus sekolah terkendala biaya. Inilah kisah klasik tentang seekor tikus kecil yang mati kelaparan di lumbung yang melimpah ruah.

Lintang bukan satu-satunya anak-anak cemerlang Indonesia yang putus sekolah karena ketiadaan biaya. Menurut data resmi dari 33 kantor Komnas Perlindungan Anak di 33 provinsi, pada tahun 2007 jumlah anak yang yang putus sekolah sudah mencapai 11,7 juta jiwa. Padahal hak setiap warga negera untuk mendapat pendidikan dijamin dalam sumber hukum tertinggi negara ini, UUD 1945, yaitu pasal 28C ayat 1 dan pasal 31 ayat 1. Pendidikan tinggi tentu termasuk di dalamnya. Namun, saat ini pendidikan tinggi seakan diharamkan bagi anak-anak keluarga miskin. Seakan-akan pendidikan tinggi adalah instrumen yang diperjualbelikan di pasar dan mematuhi hukum supply and demand. Bila barang atau jasa semakin diperlukan, harganya semakin mahal. Apakah hal semacam ini juga diberlakukan untuk pendidikan?

Setiap tahun, umat Islam berpuasa, antara lain untuk merasakan lapar dan dahaga seperti yang orang miskin rasakan. Namun, yang sering kali kita lupa bahwa orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan juga lapar akan pendidikan. Dengan pendidikan, orang miskin bisa memperbaiki keadaannya.

Bila ada yang bertanya, seperti apakah perguruan tinggi yang masyarakat indonesia butuhkan saat ini? maka jawabannya tak lain adalah lah adalah perguruan tinggi yang terbuka bagi semua lapisan masyarakat. Perguruan tinggi yang tidak hanya mencari keuntungan finansial dari mahasiswanya. Bukan perguruan tinggi yang seakan menutup akses bagi masyarakat kurang mampu untuk mencicipiĀ  madu pendidikan. Bukankah 60% masyarakat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan? Sementara itu 10-20% berada pada tingkat kemiskinan absolut. Pendidikan adalah ujung tombak melawan kemiskinan. Bila akses mendapat pendidikan itu tertutup, bagaimana mungkin kita bisa memerangi kemiskinan?

Belum perlulah dulu muluk-muluk, mengidamkan universitas berskala internasional, dengan sarana dan prasarana setara bahkan melebihi negara maju yang sudah ratusan tahun merdeka, maupun kualitas riset yang di-cite oleh ilmuwan mahsyur seantero bumi. Kami hanya mengidamkan perguruan tinggi – perguruan tinggi yang terjangkau bagi kantong setiap calon mahasiswa.

Generasi muda adalah tunas-tunas harapan bangsa. Berapa banyak lagi calon mahasiswa yang terenggut impiannya untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi karena biaya perguruan tinggi yang tidak terjangkau bagi mereka? Ataukah memang pendidikan tinggi hanya untuk orang kaya? Jika ya, maka orang-orang miskin, silakan minggir.

sumber gambar

 
Leave a comment

Posted by on May 2, 2010 in Uncategorized

 

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: