RSS

Mental Males vs Hardwork

17 Feb

“Orang Indonesia mental miskin…”

Entahlah, selama ini tercabik antara “kasihan” dan “useless juga kalo ngasih” liat anak2 kecil yang harusnya sekolah dan bermain itu gelayutan di angkot, menjadi bulan2an kehidupan keras. Sementara kalo ngasih, bakal disetor juga ke providernya.

Namun, kontradiksi juga sama definisi ikhlas yang pernah dibahas dalam sebuah kajian. Orang ikhlas kalo sedekah, ngasih aja, ga harap balesan, apalagi yang lebih baik, dia ga mikir uang yang dia kasih buat apa. Itulah orang ikhlas (yang namanya ikhlas, jangan ge-er). Entah saya yang salah ngerti atau memang definisinya begitu?

Baru tadi ngomong sama Mba Mika tentang kehidupan di Australia. tentang orang Jepang yang ga suka nerima pegawai Muslim, karena mereka jenis hardworker dan nganggap solat buang2 waktu. Hal ini juga pernah dimuat di Koran Kampus edisi wawancara dengan Pak Wisnu.

Orang Indonesia yang mental miskin dan malas. Sama seperti Trinity di Naked Nekad Traveller dan ibu Anna yang bilang semakin dekat ke khatulistiwa, orangnya makin males. Semakin jauh, makin rajin, karena dingin.

Mental miskin. Males. Hardworker.

Liat pengemis muda dan kuat, berkata “Mba, buat makan, Mba”.

Come on dude. Wake up and work!! Itulah makanya Pak Fauzi Bowo melarang ngasih sedekah ke pengemis dan pengamen. Instead of, charity and humanity reason.

Kita bisa alokasikan sedekah itu kedalam bentuk yang lebih prospektif dan jelas kebermanfaatannya. Bisa lewat ZIS, beasiswa buat para penuntut ilmu (wohoo.. ini sangat membawa berkah insya Allah, secara Indonesia termasuk yang rendah jumlah Ph.D nya.)

Itulah makanya di film2 jarang yang ilmuwan muke melayu.

Tidak. tidak. Saya bukannya menghujat. Cuma sekali lagi takjub akan cara Allah SWT membuka mata saya terhadap sesuatu yang familiar ini. Sekali lagi teringat “untuk menjadi berhasil, saya harus buktikan bahwa saya lebih rajin dari orang lain”.

~ Pengingatan saat berjuang mengatasi rasa males dan menunda-nunda untuk mengejar milestone selanjutnya.

~ MENTAL MALES VS HARDWORK

~ cukupkah?

 
9 Comments

Posted by on February 17, 2009 in Uncategorized

 

9 responses to “Mental Males vs Hardwork

  1. yud1

    February 18, 2009 at 1:48 am

    Mental miskin. Males. Hardworker.
    Liat pengemis muda dan kuat, berkata โ€œMba, buat makan, Mbaโ€.

    it’s only one side of the story… tapi mungkin benar, kita memang hidup di negeri orang-orang yang tertindas.

     

    ~which is sad

     
  2. rimphy

    February 18, 2009 at 5:02 am

    Contreng aja si Ibu, pusing amat…๐Ÿ˜„

    BTW, I’d prefer the term ‘Seniman jalanan’ instead of ‘pengamen…ada jg lho yg emang bagus suara, lirik atau puisinya.

     
  3. mishbah

    February 18, 2009 at 9:48 am

    hoy!

    apa ya yang ngebuat mereka(baca: orang yang jauh dari katulistiwa) sukses?
    apa karena mereka kapitalis? jadinya sampe mati nyari duit.
    apa karena mereka individualis? mau jadi yang terbaik.
    apa karena mereka idealis?

    ~semuanya bisa membawa kepada kesuksesan(dunia), bukan?

    lantas, untuk mendapatkan itu, berarti kita harus jadi kapitalis, individualis, ataupun idealis, kan?

    tapi, ternyata banyak juga yang milih untuk hidup dan beraktivitas sederhana saja. apa mereka ini pantas disalahkan atas penampakan masyarakat indo yang malas? (seingetku sih, banyak orang indo yang pengen hidupnya sederhana saja, kegiatannya sederhana saja, biar bisa ngurus keluarga dengan baik)…

     
  4. Meri

    February 18, 2009 at 11:08 am

    @yud1: Yes, it’s only one side, there are others.
    Yep, mungkin benar mereka tertindas, mungkin juga memang sudah mentalnya begitu. Senang miskin, lebih enak minta2 daripada kerja banting tulang, toh duitnya sama. Ga berlaku keseluruhan, mungkin ada yang benar2 tak berdaya.

    Ini tulisan ini adalah tentang mental. That’s it. Walau saya ga berhak menghakimi, it’s only opinion.

    @rimphy: yap, saya pernah liat di kereta, full instruments, ada biola dan harpa segala. Huff keren๐Ÿ™‚

    @mishbah: ya, sederhana saja. Baginda Nabi juga orang yang sangat sederhana. Itulah dia, panutan mulia sampai akhir zaman.

    Entah kapitalis, individualis, atau idealis, etos kerjanya itu yang patut ditiru, the best in them.

    Seperti kata2 Omar Mukhtar pada Film Lion of the Desert saat dia membebaskan tawanan terakhir dan muridnya protes bahwa kalo kita yang ditawan musuh, kita pasti sudah dihabisi semuanya, tidak ada yang tersisa.

    Lalu Omar Mukhtar bilang “They Are Not Our Teacher”.
    Yang intinya, Kalau terus niru yang buruk, kapan kita akan maju??

    ~ denger tuh, Mer (*jitak), kerjain TA….!!!

     
  5. VQ

    February 18, 2009 at 11:38 pm

    Yep, setuju dengan mbak meri.

    sederhana atopun tidak penampakannya (baca: gaya hidup dan segala pernak perniknya) sebenernya bukan yg menjadi masalah. etos kerja dan mentalitas “striving for perfection” lah yang harus selalu dikedepankan.

    oke, mereka (yang jauh dari khatulistiwa sana) bergerak karena sebuah underlying motivation yang bernama DUNIA. lantas apakah hal itu menjadikan motivasi dunia sebagai hal yg tabu? bukankah bagi seorang ayah yang berjuang banting tulang menafkahi ekonomi keluarganya keutamaannya disamakan dengan mereka yg berada dijalan Allah SWT (jihad)? dunia adalah proyeksi dari kehidupan akhirat, sebuah sarana bagi kita menunjukkan kesungguhan niat utk menggapai ridho-Nya. salah satunya adalah menunjukkan peran terbaik kita di dunia.

    fenomena yg skrg malah nunjukkin, kalo di negeri kita justru byk yg cari duit ampe mati (dgn menghalalkan sgla cara), tapi sama sekali tidak ada kesungguhan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab. no “striving for perfection”.

    just look at the plethora of faulty road works, 1-month-old crippled out buildings, inefficient and frustrating bureaucracy, the “gampanglaaaaah..” mentality, and so on, and so on.

    nah, marilah mari kita berubah, dari diri sendiri, dan insya Allah lingkungan akan mengikuti… insya Allah. come on, we’re not inferior, just ‘mentally conditioned’ to be inferior. let’s break the myth.๐Ÿ˜‰

    ~maap saya bisanya cuma kritik
    ~just my thoughts
    ~ini pengingat bagi saya juga…=D

     
  6. yud1

    February 19, 2009 at 1:19 am

    Yep, mungkin benar mereka tertindas, mungkin juga memang sudah mentalnya begitu. Senang miskin, lebih enak minta2 daripada kerja banting tulang, toh duitnya sama. Ga berlaku keseluruhan, mungkin ada yang benar2 tak berdaya

    maksud saya bukan itu, sih.๐Ÿ™„

    ketertindasan itu tidak selalu berarti tidak punya harta atau termiskinkan. orang-orang tertindas, bukan cuma mereka yang susah makan atau tidak punya kesempatan untuk melakukan banyak hal.

    ketika seseorang memilih untuk hidup hanya dari belas kasihan orang lain, dia adalah orang yang tertindas. ketika seseorang memilih untuk mengambil keuntungan dari kerugian orang lain, dia adalah orang yang tertindas. kenyataannya, orang-orang dengan harta berlebih, kadang-kadang juga tertindas.

    saya sering melihat ada pengemis; masih muda, kuat, secara fisik seharusnya bisa bekerja. di tempat ibu saya, dulu ada asisten rumah tangga; sudah sepuh, tapi masih bisa dan mau melakukan pekerjaannya dengan baik — sekarang sudah meninggal, sih.

    sementara kita melihat orang-orang dengan mental malas: pengemis entah-benar-atau-tidak, orang-orang yang menipu dengan memanfaatkan perasaan dan kebaikan orang lain… mungkin karena mereka tidak bisa menemukan kebaikan dan sedikit kebahagiaan dari diri mereka sendiri.

    …orang-orang seperti ini, apa namanya kalau bukan orang-orang tertindas?๐Ÿ˜‰

     
  7. Ihsan

    February 22, 2009 at 9:15 pm

    aku dapat indo bahwa situs facebook punya orang yahudi, jadi berguna untuk membantu israel membiayai persenjataannya guna menghabisi kita umat islam,

     
  8. kelok44

    March 6, 2009 at 10:11 am

    i think it is true.
    hope anyone think like this.

     
  9. Meri

    March 23, 2009 at 12:41 pm

    @VQ: “striving for perfection”, love it.
    Benar, ibarat singa yang dibesarkan bersama kambing dan memiliki mental kambing.. dan dia tidak tau bahwa dia sebenarnya adalah Singa, si raja rimba. Very nice inspiration, Mas/Mba VQ๐Ÿ™‚
    thank you so much..

    @yud1: yayaya… mereka memilih untuk menjadi tertindas. It’s all about choice.

    @ihsan: terima kasih infonya, Mas Ihsan.

    @kelok: what does it refer to? Infonya mas Ihsan atau pemikiran2 sebelumnya?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: