RSS

Erami telurmu

15 Dec

Rasulullah SAW bersabda “Apabila kamu melewati taman surga, maka bersenang-senanglah kamu”. Sahabat bertanya “Wahai Rasullullah, apakah kebun surga itu?” Beliau menjawab “yaitu tempat-tempat mencari ilmu” (HR Thabrani)

Setiap majelis yang mempelajari, mendiskusikan dan mengembangkan ilmu adalah taman surga yang penuh kenikmatan. Setiap kalimahnya bernilai sama dengan satu kebajikan. Bayangkan, banyaknya kebajikan yang didapat berbanding lurus dengan banyaknya perkataan yang disampaikan, dan setiap kebajikan tidak kurang ganjarannya adalah kenikmatan surga.

Islam sangat menjunjung tinggi ilmu. Hamba-hamba Allah SWT yang berilmu akan ditinggikan beberapa derajat. [QS 58:11] Bahkan tinta para ulama pun lebih berat timbangannya dari darah para syuhada. Baginda Nabi juga berujar bahwa meninggalnya satu kampung lebih ringan daripada meninggalnya seorang ulama [1]. Itulah, sobat, keutamaan menuntut ilmu. Dengan menuntut ilmu, Allah SWT memudahkan jalan kita menuju surga [HR Muslim].

Masa perkuliahan kita insya Allah berada di Sabilillah, jalan Allah. Periode yang telah lewat, jangankan kembali, menolehpun dia tidak sudi. Layaknya orang Inggris berkata “Waktu ibarat kikir yang terkikis tanpa suara”. Sungguh, hanya waktu yang kita miliki, bahkan orang yang tidak punya apapun, memiliki waktu.

Allah SWT, Sang Khalik, tahu sepenuhnya kecendrungan kita untuk menyia-nyiakan waktu. Kata “sungguh” yang mengikuti “Demi Masa” itu adalah suatu kata “pasti”, bahwa “pasti” kita, manusia, berada dalam kerugian. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui menjamin pasti kita berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan beramal soleh, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Beramal soleh, saling menasehati, semuanya tentang tindakan. Hanya agar tidak merugi. [Q.S 103:1-3]

Marilah kuceritakan padamu, sobat, sebuah cerita tentang seorang gadis kecil dan telur ayam.

Seorang gadis kecil sedang bermain di pertanian orang tuanya. Tiba-tiba dia melihat rombongan ayam melintas. Dia mengikuti ayam-ayam tersebut dan tiba di sebuah lumbung dengan lebih banyak ayam. Dia memainkan telur-telur yang ada disana. Bertanyalah dia, “Ibu, apakah ini?”.

“Ini adalah telur ayam, Sayang. Di dalamnya ada anak ayam yang akan memecah telur itu, bila ia menetas”.

Esoknya sang gadis kecil kembali, menyentuh telur-telur itu, dan kecewa mendapati rasanya masih sama. Esoknya, ia datang lagi, masih sama. Demikian juga hari berikutnya. Akhirnya di hari kelima, dia memutuskan telur itu harus menetas. Saat ia hampir membanting telur itu, Ibunya datang, “Sayang, apa yang kamu lakukan dengan telur-telur itu?”

“Anak ayam itu sudah terlalu lama di dalam, aku akan mengeluarkannya”

Dengan penuh sayang, ibunya mengelus rambut si gadis kecil dan berkata, “Sayang, kita akan mendapatkan anak ayamnya bila ia siap menetas, bukan dengan membanting telur”.

Deq, kalimat terakhir si Ibu sangat mengena, bukan? Kita akan mendapatkan anak ayamnya bila ia siap menetas, bukan dengan membantingnya. Aku termenung, pernahkah aku sangat menginginkan ayam, namun yang kulakukan adalah membanting telurnya? Berapa banyakkah telur yang kupecahkan sekian tahun ini? Berapa banyak telur yang berhasil kutetaskan?

Tak usahlah dipikirkan masalah telur, apalagi menanyakan mana yang lebih dulu telur atau ayam. UAS di ambang pintu!! Sobat, setujukah engkau bila kukatakan masa UAS kita adalah masa kita mengerami telur-telur? Bukan hanya UAS, kuliah juga. Hidup kita adalah saat-saat mengerami telur-telur. Sobat, manakah yang engkau mau, melihat anak-anak ayam berlari riang atau gumpalan putih kuning lengket di lantai? Manapun pilihanmu, aku percaya, engkau akan memilih dengan bijak. Ciap! Ciap!!

Selamat menempuh ujian akhir semester. 🙂

Rabbi dzidni ilman, warzuqni fahman

Referensi:

– Bakar , A. Zabrina. 2007. Satu Tiket ke Surga. Ufuk

– [1] Kitab Ihya Uluumuddiin susunan Imam Al Ghazali, www.media-islam.or.id

 
6 Comments

Posted by on December 15, 2008 in Ilmu, Islam

 

6 responses to “Erami telurmu

  1. havban

    December 15, 2008 at 3:09 am

    hm.. telor ceplok setengah mateng..

    sedaaap… ^^

     
  2. ikpoe

    December 15, 2008 at 3:11 am

    Selamat UAS juga!!!🙂

     
  3. good

    December 15, 2008 at 4:44 am

    met UAS ya🙂

     
  4. iLm@N

    December 15, 2008 at 11:23 pm

    kuncinya menuntut ilmu itu sabar dan konsisten juga ya mer.. konsisten dalam menuntut ilmu, dan sabar menjalaninya..

    saya itu haus dengan ilmu dunia, tapi ga haus dengan ilmu agama.. gimana ya caranya supaya haus ilmu agama?

     
  5. suharjono

    December 16, 2008 at 11:53 am

    Sejujurnya, ini adalah postingan dengan bahasa paling enak yang pernah saya baca di blog ini..

    Mengalir… bagai air..

    ~visit suharjono.wordpress.com

     
  6. Ikhma

    December 16, 2008 at 1:24 pm

    aslm.

    keren kak postingannya..🙂

    kayaknya saya juga lebih sering memecahkan telur daripada menunggu sampai telur menetas.. huff..

    ayo semangat untuk jadi pribadi yang lebih baik lagi!🙂 ganbatte kudasai,,😀

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: