RSS

Walimah di Teluk Kuantan

02 Nov

bagian keempat dari sebuah pentalogi

Sesuai dengan iklan, bagian keempat ini akan berkisah tentang walimahan (resepsi pernikahan). Apa yg menarik dari walimahan? Makanannya salah satunya😀 . Kali ini saya akan berkisah tentang suatu aspek walimahan di kota kecil, yang saya jamin sudah punah di kota besar. Begini ceritanya.

Ayah saya berasal dari sebuah kota kecil, Teluk Kuantan, Riau, dekat perbatasan dengan Sumatera Barat. Bulan Juli lalu, keponakan kesayangan papa nikah dan saya disuruh pulang. With a great pleasure, Pa😀 .Singkat cerita sampai di Teluk Kuantan. Persiapan pernikahan sudah digelar. Dinding rumah sudah ditempeli kain-kain warna-warni khas, pelaminan sudah stand by.

Masih ada yang saya tunggu. Esoknya, datenglah rombongan malaikat itu, siapa mereka?

Jreng jreng …

Rombongan ibu-ibu!!!

Trus?😕

Mereka ibu-ibu sekampung yang akan membantu eksekusi walimahan ini!!! Jadi, sudah tradisi, di setiap hajatan besar seperti walimahan atau khatam qur’an atau khitanan, masyarakat sekampung akan turun tangan membantu tuan rumah. Ibu-ibu gotong royong memasak di dapur. Saya akan mengajak teman2 berkelana mengujungi pos-pos persiapan.

Pos 1: Pos produksi rendang. Coba liat kompornya. Ga pake gas ato minyak tanah, pake sumber daya alam yg bisa diperbaharui: sabut kelapa.😀

Memang lebih lama, tapi dengan cara ini daging menjadi lebih empuk dan rasanya lebih mangstap, gan. Wajannyapun khusus.

Sama juga dengan pos kedua, menanak nasi. Ga di rice cooker, tapi pake kayu bakar.

Pos ketiga, membuat rebung atau bahasa Minangnya “rabuang”. Pos ini sekuensial dengan tugas berikutnya mengiris2 cempedak / nangka muda buat dibikin gulai rebung+nangka. Enak loh..

Mari bertandang ke pos berikutnya. Pos ini mengembalikan kenangan buruk masa kecil. Motongin akar toge!! Percayalah, sobat. Bagi seorang anak kecil sanguinis (waktu itu), motongin toge kecil2 banyak itu, mengerikan!! Secara anak kecil tak rancak megang pisau, tidak ahli mengayunkan sodet, dan matanya keburu perih walo Cuma deket2 orang yg lagi menggiling cabe, meri kecil selalu diberi pekerjaan motongin akar toge. Takdir digariskan, 13 tahun kemudian anak kecil yang sama akan duduk di kelas SDA dan menyadari bahwa teknik yg diajarin waktu kanak2 untuk motongin ekor toge itu bernama divide and conquer. Betewe, apa yang akan terjadi 13 tahun lagi ya?😕

Pos ngupas bawang. Setiap pos dibekali tiga piring cemilan, sapa tau tiba2 laper, itu yg di kursi. Ibu2 itu udah resistant terhadap gas air mata. Kalo ikut aksi, udah kebal kali ya sama gas air mata…..

Juga ada pos memeras santan, beginilah cara tradisional, tidak pakai mesin. Dengan begini sari pati santan itu lebih keluar.

Dan pos goreng kerupuk ketela. Orang2 di tanah Jawa bilangnya keripik, tapi taukah kau, di Sumatera Barat, kami menganut paham Shakespeare untuk yang satu ini. Kerupuk dan keripik, sama saja. Kerupuk ini setelah digoreng akan dibaluri dengan cabe giling. Mmm…. Enak sekali. Kami para anak kecil suka sekali nyuri2 gadoinnya, karena rulenya jelas ”kalo mo kerupuk, ambil nasi, makan sekalian”.

Itu seksi lapangan, divisi serbet di dalam ruangan tidak mau kalah. Biasanya serbet2 itu dibentuk jadi seperti setandan pisang sama bentuk lainnya, saya lupa. Tapi kadang kepikiran pengen ngambil yg ditengahnya,ambruk ga ya? kaya di iklan pepsoden.😛

Para ibu2 itu saat datang bawa tas kecil. Namanya “kampiah” atau “buntiah”. Saat datang, tas kecil berisi gula dan beras buat digabung bantu2 tuan rumah. Secara sunnah Nabi, balaslah kebaikan dengan kebaikan yang lebih baik setidaknya setara, saat pulang, ibu2 itu bawa satu bungkus kecil lauk siap makan.

Trus bapak2nya mana? Nah, ini nih bagian yg paling saya suka. Bapak2 itu turun tangan di pekerjaan2 yg membutuhkan tenaga dan ketegaan yg sangat besar: menyembelih kambing. Oh, kambing yg malang.

Oiya, betewe, semua pekerjaan itu di halaman belakang, turun sedikit, ada sungai kecil yang keliatan dasarnya, beriak lembut. Guys, don’t you want a clean little river at your back yard?

Nah, sejauh ini, apakah kau setuju dengan, hal tersebut diatas sudah hilang di kota besar? Masihkah ada di kota besar, sekelurahan datang membantu persiapan walimahan? Or you don’t even know the name of family whose garage besides yours? Saya juga kurang kenal siapa aja anak kosan sebelah. Tapi agak merasa kaget juga, waktu mudik dibilang “oh, iko si Meri anak A***” di Taluk Kuantan atau “anak E*****” di Bukittinggi, waktu ketemu orang yang bahkan saya bingung harus manggil etek-uni-mak-makwo. Jadi berasa tenar banget, padahal emang semua orang pada saling kenal juga.😛

Guys, itulah yg bisa kuceritakan tentang masyarakat Taluk Kuantan, tentang rasa kekeluargaan mereka. Inilah potret nyata nilai2 PPKn, yang kita terima terkantuk2, tentang bangsa kita bangga akan kebiasaan gotong royong dan tepa selira. Walo mahasiswa UNRI yang KKN ke sana menempelkan stiker “keluarga miskin” di pintu rumah mereka, setiap orang yg berpapasan di jalan akan berseru agar singgah dulu dan memuliakan tamu dengan hidangan, walaupun alakadarnya. Mereka orang-orang sederhana dan hangat. Itulah kebahagiaan dan kedamaian, tempatnya di hati. Masyarakat dan alam Taluk Kuantan menyimpan pesona tak terperikan. Karenanya sedikit cerita tentang mereka insya Allah akan muncul sebagai penutup pentalogi ini.

 
24 Comments

Posted by on November 2, 2008 in Uncategorized

 

24 responses to “Walimah di Teluk Kuantan

  1. franova

    November 2, 2008 at 9:41 am

    meri says : Masihkah ada di kota besar, sekelurahan datang membantu persiapan walimahan?

    di jakarta masih ada koq, cuma ya nggak sekelurahan juga. Cuma se-RT aja. Ya spiritnya sama tolong menolong dalam senang dan susah. Walaupun nggak seheboh di desa, masih bersyukur juga masih ada orang yang peduli sama tetangganya.

    jadi inget tetangga..Yuk kita peduli sama tetangga kita :p

     
  2. iLm@N

    November 2, 2008 at 2:23 pm

    ngomen ah..
    #1 cara meres santannya, itu semua tangan nyampur2 di santannya? bukankah katanya kalo masak itu tangannya ga boleh banyak2 ya? ntar jadi nggak enak dan gampang basi..

    #2

    Secara anak kecil tak rancak megang pisau

    rancak = ahli?

    #3

    Guys, don’t you want a clean little river at your back yard?

    Nah, sejauh ini, apakah kau setuju dengan, hal tersebut diatas sudah hilang di kota besar?

    kalau di Bukittinggi, apakah masih kaya ada yang seperti ini mer? apa jangan2 Bukittinggi mulai berevolusi menjadi seperti Depok?

     
  3. iLm@N

    November 2, 2008 at 2:26 pm

    huhu.. gara2 ga teliti, salah kode HTML tuh..
    mer, tolong edit komen saya di atas yah.. tolong tambahin tag blockquote buka di depan “Nah,”, terus tolong benerin tag penutup blockquotenya yah..

    maaf merepotkan..

     
  4. Meri

    November 3, 2008 at 1:37 am

    @franova: beneran masih ada? dimananya?

    @ilman:
    1. o,ya? ibu2nya udah pada cuci tangan..
    2. yap.
    3. clean little river? masih ada di Bukittinggi, ngarai sianok ada sungainya,
    trus kalo naik ke lantai 2 tempat les dulu, bisa liat sawah dan sungai.
    di daerah koto baru, waktu itu ngadain acara disana, ada sungai kecil yang melewati sebuah sekolah.

    berevolusi seperti depok? sepertinya..
    tau niy ilman ngerepotin aja😛

     
  5. Chandra Prasetyo Utomo

    November 3, 2008 at 9:15 am

    Jadi ingat kampung halaman orang tua. Saya rasa di Indonesia masih banyak nilai-nilai seperti itu.

    Btw… kok banyak foto-fotonya ya, berarti ga ikutan kerja nih🙂

     
  6. yanssukmapratama

    November 3, 2008 at 9:17 am

    hmmm, depok kota besar juga nggak ya?
    spt yang smile bilang, meri.
    di jakarta/depok masih ada hal seperti itu.
    tapi saya yakin suasananya berbeda.

    btw, meri berperan jadi apa di acara itu?
    ikut masak2?

     
  7. ikpoe

    November 3, 2008 at 9:53 am

    Pertanyaan yang gak jauh beda, Bagianmu di pos mana Mei!?🙂

    Tradisi itu InsyaAllah akan tetap ada, kalo kita menjaganya!

     
  8. irvan

    November 3, 2008 at 1:46 pm

    sama Meeeer…saya juga cinta kampung sayaaaa…

    jadi pengen cepet2 pulang kampung lagi…

     
  9. Meri

    November 4, 2008 at 1:33 am

    @chandra: baguslah, seru berada di tengah kesibukan seperti itu.

    @irvan: kampungnya dimana, Van?

    @chandra, yans, dan ikpoe: sama seperti di organisasi, ada yg jadi ketua, ada korbid, ada yg jadi staf. kalo semua jadi ketua, yang ngelaksanain siapa dunk?

    Sama juga, pada kepanitiaan, kalo masak semua, ga ada divisi humas, publikasi dan dokumentasi, siapa yg akan mendokumentasikannya?
    akankah kita biarkan nilai2 ini hilang ditelan arus hedonis dan globalisasi? harus ada yang menempati pos dokumentasi..

    lalu yang menyosialisasikannya ke dunia? Kalo tidak disosialisasikan, semua orang akan menyangka nilai2 mulia ini sudah punah. itu yang kita mau?

    HPD adalah tugas yang penting…
    camkan itu, Anak muda..
    😛

     
  10. kamal

    November 4, 2008 at 3:36 am

    waahh…. jadi makin berhasrat untuk pulang nengok kampung di padang pariaman…

    udah 21 tahun baru 2 kali kesana. terakhir kelas 3 sd.
    udah kayak apa ya bentuknya kampuang awak tu…🙂

     
  11. agunfirmansyah

    November 4, 2008 at 2:08 pm

    Hoho…

    Seru rasanya kalau lagi ada di sana….😀

    Ternyata, ga cuma Jawa yang ribet kalo lagi nikahan.😀

    Btw, ttg divide and conquer, rasanya lebih tepat kalo ditujukan untuk Bapak2 yang nyembelih kambing. Divide the head from the body and you will conquer it.😎

    Bagaimana 13 belas tahun lagi?
    13 tahun lagi paling2 Meri nyuruh anaknya buat motongin akar toge:mrgreen: .

     
  12. Meri

    November 5, 2008 at 7:04 am

    @kamal: beneran dari padang pariaman?
    btw, di bagian pertama ada plang kota padang pariaman.. mudah2an bisa sedikit menggambarkan…

    @agung: he-eh, saya denger prosesi di Jawa ribet banget, lebih ribet dari di Sumbar.

    13 tahun lagi paling2 Meri nyuruh anaknya buat motongin akar toge:mrgreen: .

    😀 hehe.. mungkin juga..

     
  13. Hendra pake D pake H

    November 16, 2008 at 4:21 pm

    waktu pertama baca judulnya kirain ulasan tentang loe nikah Mer.. gak ngundang2..:p Itu masak kambingnya bener2 utuh gak dipotong-potong dulu??

    @Franova:
    Kalo maksud loe Ciracas dan kelurahan sekitarnya, itu bukan kota besar Mel..:p

     
  14. Meri

    December 2, 2008 at 4:27 am

    @hendra: iya deh insya Allah diundang,
    berlaku biimplikasi ya…😛

    he-eh masak kambingnya cuma dipotong kepalanya, trus dipanggang deh, abis tuh baru dipotong2..

     
  15. marliyus

    December 24, 2008 at 7:56 am

    Saya juga dari Taluk lo, nama desa tempat saya tinggal koto namanya.

     
  16. Benillah

    January 2, 2009 at 7:28 am

    Terimakasih Mery, Cerita dari kampung bisa dipublikasikan. Tolong ceritakan yang lain-lainnya, dan kapan ke kampung lagi.Sukses selalu…

     
  17. Ronaldo Rozalino

    January 29, 2009 at 2:59 am

    Seluruh Blogger di Kuantn Singingi. Minggu mlam jam 8, 2 Februari 2009. Kta ada prtemuan (KOPDAR) Di TAMAN JALUR, diharapkan kdatngnnya. OKE.Wassalam.

     
  18. Razak

    March 1, 2009 at 4:23 am

    tempat asal datuk sebelah bapa saya.kalau ada peluang saya ingin ke sini suatu hari nanti. (saya dari Pahang ,Malaysia)
    khabarnya ramai datuk nenek kami berasal dari sini .

     
  19. ayu citra dewi

    May 23, 2009 at 4:44 am

    membaca blog ini jadinya aku terkenang sewaktu thn 1979-1980 menyusuri sepanjang jalan dari
    Pekanbaru-Teratak bulu-Lipat Kain-Muara lembu-Peranap-Lagos-Taluk Kuntan ,waktu itu jembatan
    blm ada,mobil hrs naik rakit,kalau hujan mobil bisa terpuruk di kubangan lumpur,dan sepanjang
    jalan sering bersua binatang antara lain monyet,babi hutan,landak juga raja hutan harimau,dan
    kalau ada event pacu jalur,kota Taluk Kuantan sangat ramai sekali,sdh hampir 30 thn sdh aku
    tinggalkan Taluk,kepingin sih balik lihat lagi yg tentunya sdh banyak berubah……………

     
  20. affirdaoes3

    June 18, 2009 at 12:35 am

    Ini acara walimahan yang meri pake baju pink itu ? Yang fotonya ga jadi dipake.. (maaf, mer.. setelah bersusah payah memilih foto, fotonya ga dipake..).

    Hmm.. 13 tahun lalu bagian motong ekor toge.. sekarang ? Naik pangkat masak rendang ga ? Ato malah ga naik2 pangkat.. masih tetep aja motong toge ? [ ga naik pangkat karena ga bisa-bisa masak ya v^^ ).

    Pas ditanya untuk gabung ke pos 1 saya kepala suku : “Bisa masak rendang ? ” Meri jawabnya gini ya ” Jawabannya fuzzy logic. Tidak bisa jawabannya ya atau tidak” Akhirnya karena sang kepala suku bingung dg jawaban meri ” Ya, udah potong ekor toge aja sana v ^^ “

     
  21. Meri

    June 18, 2009 at 3:34 am

    @uni marliyus: oya? wah kita sekampung😀

    @Benillah: iya, insya Allah, bagian kelima dari pentalogi ini tentang Taluk Kuantan lagi, tapi ga tau kapan bisa diselesaikan hehe😛

    @Ronaldo: wah, maaf saya ga bisa dateng, lagi ga di Taluk

    @Razak: wah ada yg dari Malaysia. jadi terharu😥
    iya, mas. Kita serumpun🙂

    @mba Ayu: harimau?
    serem abiz.. lagi puasa ga harimaunya, Mba?
    iya, udah lumayan banyak yg berubah, hutan2 ditebangi😦

    @Fajar: bukan yg pake pink itu.

    Hahaha…. masa itu aja ga ngerti,😀

     
  22. MI STT-US kuansing

    July 29, 2009 at 3:24 am

    Makasih udah mau berbagi cerita tentang tradisi di Teluk Kuantan.. Tp saya kurang jelas ini di daerah mana ya?? Saya juga orang Teluk Kuantan..

     
  23. Dan Foresta

    February 14, 2011 at 8:07 am

    saya suka membaca tulisannya… sangat menarik…
    saya pun pernah menyaksikan itu semua.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: