RSS

This is Where I Belong

15 Aug

Bukittinggi. Bukittinggi hanyalah kota kecil pada ketinggian 909-941 m dari permukaan laut, sehingga udaranya sejuk sekali. Dan karena diapit oleh tiga gunung yaitu Gunung Singgalang, Gunung Merapi dan Gunung Sago, Bukittinggi dijuluki kota Tri Arga. Teksturnya yang berbukit-bukit dan berlembah2 menjadi asset pariwisata yang potensial, menjelaskan kenapa Bukittinggi terkenal sebagai Kota Wisata.

Ini adalah jalan kenangan. Kalo pulang sekolah, SMP dan SMA, hampir selalu lewat sini. Liat pohon-pohon rindangnya. Kalo sore, akan banyak jualan lewat sana, sandwich/roti bakar, sate, somay, pisang molen, dll. Udaranya sejuk. Kadang lewat para pelari sore, mereka memakai jaket parasut dan celana panjang. Emang ga panas ya? Menurut kabar burung, katanya itu para petinju yang lagi nurunin berat badan, ya olahraga pake jaket parasut efektif buat membakar lemak. Hmmm…..

Ini jalan Sudirman Bukittinggi. Di ujung belokan sana adalah SMA 2 Bukittinggi. Pohon-pohon rindang ini yang melindungi kulit dari sengatan mentari saat pulang jam 13.45 untuk masuk sekolah sore jam 14.30. ada yang Bike to work tuh….

Terus berjalan akan sampai di Lapangan Wirabraja, atau yang lebih dikenal dengan nama Lapangan Kantin. Denger-denger nama itu karena dulu ada sebuah kantin disana trus tutup. Hah, cerita yang tidak bertanggungjawab 😛 . Lapangan rakyat ini sore akan dipenuhi anak muda yang main basket di lapangan sudut, yang berlari di track atletik, ataupun orang-orang yang agak tua yang memilih berjalan saja, serta yang main bola di lapangan rumput.

Shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, juga diadakan disini. Upacara 17an, dan upacara membosankan lainnya juga sering diadakan disini. Waktu SMA dan SMP sering olahraga disini, dan saya liat teman2 saya ngeceng. Yah, namanya juga anak muda 😀 . Saya inget dulu main tolak peluru, ujian atletik, main kasti, lempar cakram, main bola kaki, main bola tangan, main kejar-kejaran disini. Waktu SMP, lomba drumband disini, mempertaruhkan nama baik dan perang mendarah daging antara SMP 1 dengan SMP Xaverius. Tapi hanya untuk soal drumband saja.

Di sudut kanan ada jembatan refleksi. Dulu pada awal-awal baru dibangun, jembatan ini jadi primadona, bahkan sampai dari luar kota. Sedemikian populernya jembatan ini sampai dibangun satu lagi, di depan SD 43 Belakang Balok, SD saya. Layaknya popularitas selebritis, lambat laun pudar, jembatan ini lama kelamaan sepi peminat, mudah-mudahan karena memang yang dulu aktif menggunakannya sudah pada sembuh. Ya mudah-mudahan begitu.

Ternyata sudah ada pemisahan sampah. Kecil saja dulu, sampah kering dan sampah basah. Mudah-mudahan di tempat pengumpulannya nanti sudah ditindaklanjuti.

Jangan2 pemda Bukittinggi baca postingan saya yang ini😛 , hehe ga deng. Tong sampahnya udah lama, postingannya baru seumur jagung. Yehee.. bolehlah ge-er daripada minder. :mrgreen:

Ini adalah tugu Tuanku Imam Bonjol, da’i melawan kaum adat yang waktu itu suka berjudi. Belanda menunggangi Kaum adat ini sehingga baru bisa menaklukkan Tuanku Imam Bonjol dengan cara licik usulan Kompeni. Diajak berunding, tapi sesampai disana ditangkap, dibuang dan akhirnya wafat di pengasingan. Perilaku yang tidak asing, bukan?

Finally, inilah dia jantung hati Bukittinggi. Jam Gadang!!

Ini adalah gambar kota yang baru dibasuh hujan. Di bawah jam gadang ada taman kota. Tempat piknik keluarga, mungkin berkeinginan mampir di Plaza Bukittinggi yang baru berdiri. Saya kurang suka adanya mall atau plaza di Bukittinggi. Plaza ini menandai dituntunnya masyarakat untuk bersikap konsumtif dan menghabiskan banyak waktu berputar-putar disana. Walaupun tidak bisa ditampik, plaza ini membuka banyak lapangan kerja.

Belum cape kan? Mari jalan-jalan agak jauh sedikit ke Garegeh, ke Balaikota Bukittinggi. Pada keempat sisi Balaikota ini terdapat pintu masuk dengan atap bergonjong khas Minangkabau. Udah pada tau kan kenapa atap bergonjong dijadikan simbol kebanggaan masyarakat Minang?

Balaikota terletak di tempat yang lebih tinggi dari perumahan sekitar. Tempat ini salah satu alternatif warga buat jalan-jalan sore. Karena dari sana akan terlihat pemandangan kota Bukittinggi.

Masih di dalam komplek Balaikota ada Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Bukittinggi begitu bangga pada tokoh nasional ini sehingga setidaknya ada empat situs Bung Hatta, yaitu perpustakaan Bung Hatta, Monumen Bung Hatta, rumah kelahiran Bung Hatta dan Istana / Balai Sidang Bung Hatta. Di padang ada Universitas Bung Hatta disingkat UBH.

Angkatan yang sedang merayakan kelulusan akan merasa bangga sekali dan terangkat gengsinya bila mengadakan perpisahan di Istana Bung Hatta. dulu Bung Hatta pernah tinggal disini makanya dinamakan istana Bung Hatta.

Lalu ada kompleks pasar atas. Kalau mau barang bagus, carilah di Pasar atas, kalo mau barang murah carilah di Pasar Aur Kuning. Yah, trade off untuk pasar atas yang relative lebih nyaman. Di kaki lima akan ditawarkan benda-benda kerajinan setempat: modifikasi sandal khas anak daro (mempelai perempuan) warna-warni macam-macam model, tas dari tempurung kelapa, gantungan kunci rumah gadang, pigura dan tempat pulpen dengan hiasan rumah gadang, hiasan rumah gadang beraneka ukuran dan bahan dan masih banyak lagi yang lain, termasuk kaos bercirikan Minang.

Di lantai dua ada kerajinan tekstil, seperti mukena (harganya bisa sampe jutaan, fiuhh…., tapi sepadanlah kalo denger proses pembuatan bordirannya yg bisa makan waktu berbulan2), songket, kebaya, kain bahan, hasil tenunan Pandai Sikek, hiasan dinding dll. Lantai tiga adalah Niagara, tempat ngabisin duit di arena permainan dan food court.

Disebut Pasar Atas karena ada Pasar Bawah. Beda dengan pasar atas yang merupakan pasar turis, pasar bawah untuk beli kebutuhan masak harian seperti belut, daging, ayam potong dll. Dari pasar atas terlihat sebagian kota Bukittinggi.

Turun dari Pasar Atas ada tugu untuk mengenang perjuangan melawan penjajah, dan papan peringatan ini.

Di depannya ada taman monument Bung Hatta.

Lanjut turun menyusuri jalan Sudirman, ketemu SMPN 1 Bukittinggi, SMP saya..🙂

Selain itu ada Benteng Fort De Cock, Kebun Binatang Kinantan, Kampung Cina, Panorama, Lubang Jepang, Ngarai Sianok, Jenjang Seribu yang belum sempat saya kunjungi liburan kemaren, jadi ga ada fotonya. Mungkin teman2 saja yang cerita dan majang fotonya kalo berkenan mengunjungi kota kecil ini.

Sungguh menyenangkan punya tempat yang bisa kita sebut Rumah. Itulah Bukittinggi, kota kecilku yang sejuk.

Here I stand in the northern rain

And I can’t believe I am home again

And I can’t believe how’s nothing change

I am finding my way

Old park bench where I carved my name

Now it doesn’t stand alone

Now the trees all over grown

Many roads that I’ve travelled

Lead me astray

Here’s where my heart gonna stay

This is where I Belong

This is where I come from

All of the land I’ve roamed

Memories of my home

They keep beating strong

Coz this is where I belong…

~oleh Boyzone

Bagian kedua dari sebuah tetralogi.. (direncanakan begitu, mungkin juga pentalogi)

Senang, akhirnya bisa posting juga bagian ini. 🙂

 
29 Comments

Posted by on August 15, 2008 in fenomena

 

29 responses to “This is Where I Belong

  1. dodol

    August 15, 2008 at 10:08 am

    boleh tuh kapan2 maen..🙂

     
  2. agungfirmansyah

    August 15, 2008 at 2:52 pm

    Wah…,
    Rasanya ini sudah cukup untuk modal backpacking kesana…😀 . Makin bersemangat😛 😛 😛 😛 .

    Bakalan panjang nih komentar saya Mer. Kalau kepanjangan, disensor aja🙂 .

    Tempatnya keren! G nahan pingin menjajaki lingkungan balaikota. Muter2 Bukittinggi, berwisata kuliner (paling makan nasi padang juga..🙂 . Ada g warteg? Yg bener2 Warung Tegggal??😛 ).

    Ada 3 hal yg membuat saya sangat “bernafsu” menjejakkan kaki di Bukittinggi.
    1. Jelas, “Adat basandi syara’. Syara’ basandi kitabullah”. Pernah mikir juga, knp kok sy g dilahirkan di tempat yg berbudaya spt itu. Tp sekarang sudah nemu alasannya: krn membudayakan hal tersebut adalah amanah kita😛 .
    Poin ke-2 dan ke-3 berkaitan dg Surabaya. Lho kok?
    2. Bung Hatta lahir di Bukittinggi. Agung umur 6 th berpikir, hanya seorang Bukittinggi yang mampu menandingi Arek Suroboyo, Soekarno (lahir dan tumbuh di Sby). Makanya, pas pertamakali tahu kalau ente anak Bukittinggi, saya seneng bgt. Puas ketemu sama makhluk Bukittinggi yg masih hidup😀 .
    3. Dari namanya, Bukittinggi menjelaskan kalau konturnya berbukit2 dan berada jauh berada di atas permukaan laut. Sangat berbeda dg Surabaya. Alhasil, semakin tertarik saya dg hal yang “beda” tersebut.

    Fiuh…, cukup sudah😀 . Mau siap2 dulu untuk ber-backpack ria. Tapi bukan ke Bukittinggi. Belum…,insya Allah😀 .

     
  3. Meri

    August 16, 2008 at 6:49 am

    @dodol: ya, mainlah kapan2, mas/mbak.🙂

    @Agung: warteg? mungkin ada tapi saya belum nemuin disana, Gung. banyak makanan khas loh disana, sayang kalo masih nyariin warteg.

    ngerti kan arti: adat basandi syara, syara basandi kitabullah?

    ya, bawa makanan banyak2 buat backpackingnya..

    insya Allah masih akan ada dua-tiga bagian lagi. mudah2an ga bosen🙂

     
  4. suharjono

    August 16, 2008 at 8:10 am

    ooo… sudah ada toh episode 2 nya… Biar nggak bosen dibikin alur cerita aja, semacam cerpen.

    BtW iseng2 saya semalem jadi tuh cerita bersambung menggunakan informasi yang Uni sampaikan pada episode 1. Cek aja disini:

    http://suharjono.wordpress.com/2008/08/16/perjalanan-ke-bukittinggi/

    Nanti kalo ada waktu saya terusin deh. Tapi masih belum kepikiran juga kelanjutannya seperti apa nanti.

     
  5. ikhsanpk

    August 16, 2008 at 10:46 am

    nice pics😀
    i’ve changed it. don’t forget to put ur comment,
    hehehe😀
    thx

     
  6. yuan

    August 17, 2008 at 4:00 pm

    wah saya belom pernah ke sumatera, jadi pingin nih😀

     
  7. franova

    August 18, 2008 at 12:56 pm

    @agung: di bukittinggi ada yang lebih hebat lagi gung..Tan Malaka, bapak Republik Indonesia..

    Malahan beliau satu sma sama meri..

    kalau mau tau tentang beliau, smile kasih ringkasan ceritanya di blog..

    ~ikutan promosi blog🙂

     
  8. Meri

    August 19, 2008 at 4:15 am

    @suharjono: saya udah baca, ditunggu episode 2nya.

    @ikhsan: great. i have put one..

    @yuan: hehe… kalo belum sempat kesana, insya Allah masih akan ada (setidaknya) dua cerita lagi dalam tetralogi ini ..
    stay tune🙂

    @franova: dulu pas belajar sejarah di sekolah menengah, kesan Tan Malaka ga begitu bagus, malah sebaliknya. sekali lagi manipulasi sejarah.
    thanks, Smile

     
  9. suharjono

    August 19, 2008 at 12:38 pm

    setelah pulang dari Medan ya…

     
  10. agungfirmansyah

    August 19, 2008 at 2:03 pm

    @Meri
    Wah.., makanan khas? Hmm….,nyam-nyam-nyam. Saya bersyukur dianugerahi mulut&perut yg bisa menerima hampir semua jenis makanan😀 .
    Yup, mengenai adat basandi syara, syara basandi kitabullah, insya Allah saya sedikit mengerti. Saya sudah tertarik dg kalimat itu sejak lama, spt yg sudah saya bilang.

    Sip, saya tunggu babak berikutnya😀 .

    @franova
    Wah, betul. Sepakat! Tan Malaka. Saya sudah baca di blog nt Bang. Dan juga sedikit berkomentar, sedikit menceritakan pikiran saya🙂 .

     
  11. freelonk

    August 25, 2008 at 8:11 am

    wahh, saya jg blm pernah ke sana tuh..
    klo ngeliat poto2 nya, hm,,asri banget yak,,

    kapan yahh kira2 bisa ke sana..

     
  12. Meri

    August 25, 2008 at 10:15 am

    @jono: sudah pulang,..

    @agung: ngulang lagi, artinya: adat bersendikan agama (Islam), agama bersendikan kitab Allah.

    @franova: saya komen dikit…

    @freelonk: arti namanya apa?
    ya mudah2an ada kesempatan..🙂

     
  13. rifi ipb

    August 28, 2008 at 7:31 am

    asw meri…

    it’s nice to see ur blog ^_^

     
  14. yanssp

    August 30, 2008 at 7:38 am

    Meri, bukittinggi sedemikian indah. Pingin nanya nih.
    Gimana budaya merantau disana?
    Memangnya ga afdol ya meri bagi masyarakat sana kalo blm pernah menjelajah k daerah lain-walau sdh hidup d kota yg indah?

     
  15. suharjono

    August 30, 2008 at 11:35 am

    episode 2 sudah ada tuh.. tapi blm masukin informasi yang ada di postingan ini. Baru sekedar membuat plotnya lebih baik aja.

    http://suharjono.wordpress.com/2008/08/30/perjalanan-ke-bukittingi-2/

     
  16. eva yanti

    September 12, 2008 at 12:09 am

    wow…. keren bgt….padahal saya punya rencana mo buat cerita bukittinggi….LAgi numpilin foto2 nya.
    …tapi dah keduluann deh….
    Tapi gak papa kok Uni….. ini sebagai tanda cinta kita kepada BUKITTINGGI

     
  17. Meri

    September 23, 2008 at 4:37 am

    @rifi: nice to see yours too.may I link it into mine?

    @yans: silakan merujuk ke postingan tentang si katak.. hope it helps.

    @jono: saya udah baca yg itu, lanjutannya ?

    @eva: salam kenal🙂
    saya main2 ke blognya ya..

     
  18. akhdaafif

    September 24, 2008 at 11:45 am

    hmm, baru sekali bertandang nih saya. langsung tertarik baca postingan yang ini. mau numpang nanya ah…

    1. sampe sekarang gimana “adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah” di sana? masih mantap seperti dulu? ataukah sudah terkikis hilang di tengah hegemoni kapitalis?

    2. hmm, di sana bung hatta bener2 dihargai ya. selain penghargaan lewat bentuk fisik, apa ada usaha dari pemerintah daerah buat menanamkan ideologinya bung hatta? mungkin caranya lewat dimasukkan ke kurikulum sekolah ato apa lah.

    matur nuwun buat jawabannya…

     
  19. Meri

    September 26, 2008 at 8:40 am

    @afif:
    1. dulu masih kuat banget, sekarang saya kurang tau.

    2. kalo menurut saya pribadi, ideologi Bung Hatta mungkin tertanam pada para petinggi. di mata masyarakat awam seperti saya tidak melihat penanaman ideologi Bung Hatta secara besar-besaran, di sekolah biasa2 aja, penghargaan terhadap bung hatta ya dari fasilitas2 bertajuk namanya, masyarakat bisa menikmati.

     
  20. akhdaafif

    September 28, 2008 at 9:03 am

    hm… makasih jawabannya… sangat2 membantu…

     
  21. hyakken

    January 6, 2009 at 7:55 am

    hmm warna jam gadangnya persis sama pas mudik kemarin. Memang suka diubah ya catnya..
    Sayang waktu naik keatas, teropongnya sudah tidak berfungsi.

     
  22. Fikri

    January 25, 2009 at 12:54 am

    Assalamualaikum. salam kenal.

    Terus terang saya senang foto-foto dan ceritanya. Klo bisa ditambahkan foto2. saya juga punya beberapa koleksi foto bagus pas pulang kmrn.
    Bukittinggi adalah kota kenangan yang indah. ingat dulu masa2 kecil. so sweeeeettt😉

    yarsi, belakang balok, bukik cangang, panorama, tangah sawah, birugo, tigo baleh, pasa ateh pasa bawah, mandiangin, rumkit achmad muchtar, padang lua, ck ck…. sering banget pindah rumah.

    Saya juga ga setuju dg mall di bkt. mendidik masyarakat jadi + konsumtif !!

    Ada beberapa hal yg saya baru tau.

    1. Tentang sejarah lapangan kantin disebut “cerita tak bertanggung jawab”, apakah karena cerita itu bohong? ada yang tau sejarah sebenarnya ga?

    2. Kenapa atap bergonjong dijadikan simbol kebanggaan masyarakat Minang?

    thanks sebelumnya

     
  23. novia rahman

    March 4, 2009 at 2:49 am

    it the best BUKITTINGGI MANG OK

     
  24. nova

    May 8, 2009 at 7:52 am

    yah, mang bukittinggi kota yang sangat bagus sebagai tempat tinggal.
    jadi kangen (taragak maksudnyo) buat pulang kampung. tapi sayang rejeki masihbrada diatas, blom turun ketangan kita. kawasan agam gai lah yang diposting mbk mer.

     
  25. themask

    May 8, 2009 at 10:39 am

    tfs..
    Bukitttinggi..i’m coming..

     
  26. Ahmad Fajar Firdaus

    June 29, 2009 at 1:39 am

    hmm.. kembali menemukan tipe penulis yang pandai [ato lebay🙂 ] dalam menggambarkan bukit tinggi.. Dari SD saya dah penasaran ke sana.. Luky temen SD ku klo cerita Bukit tinggi kesannya okeee banget..

    Menginjak SMP cita-cita ke bukit tinggi terlupakan..

    Menginjak SMA cita-cita tumbuh lagi.. Baca novel-novel Pipiet Senja, Asma Nadia (terutama yg judulnya Pingkan-klo ga salah], Helvi Tiana Rossa.. bikin ngehayalin lagi bukit tinggi..

    Sekarang di akhir masa kuliah ketemu sang anak petakilan [yang pinter gambarin bukit tinggi lewat tulisan], jadi penasaran lagi sama bukit tinggi…

    Kapan ya saya bisa ke sana..?

     
  27. Meri

    June 29, 2009 at 4:19 am

    @hyakken: seinget saya, dari dulu memang warnanya krem gitu..
    wah belum pernah naik ke puncak jam gadang malah😀
    mudah2an udah diperbaiki.

    @Fikri: tentang asal nama lapangan kantin, cerita itu ga jelas sanadnya atau asal-usulnya, pernah denger aja.
    atap bagonjong berasal dari sebuah cerita pada zaman dahulu kala, saat datang orang2 asing ke ranah Minang. orang asing ini ingin menduduki ranah minang. mereka sangat kuat.

    Pemuka Minang waktu itu berembuk dan mengadakan perjanjian dengan orang2 asing tersebut. Akan diadakan pertarungan kerbau antara orang asing dan orang MInang. Kerbau siapa yg menang, maka dia yang berhak atas ranah Minang.

    Orang2 asing tersebut mempunyai kerbau yg sangat besar dan kuat. hampir mustahil mengalahkannya. bagaimana ini, apakah minang akan berada dalam penjajahan?

    tibalah hari pertandingan itu. kerbau orang Minang berhasil mengalahkan kerbau orang asing tersebut. bagaimana caranya?

    hahaha… rahasia…😀
    dengan akal cerdik tentu saja

    sejak saat itu, tanduk kerbau dijadikan simbol kebanggaan rakyat MInang, untuk mengingatkan mereka untuk menggunakan akal dalam menghadapi berbagai persoalan.

    @novia; that’s for sure.😀

    @nova: belum ada bahannya, Ni.😀

    @themask: sure. please visit Bukittinggi…

    @Fajar: mudah2an suatu saat bisa kesana

     
  28. bakpau

    June 9, 2010 at 2:52 am

    indah nyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: