RSS

Category Archives: USA

Wawancara IELSP

`Kali ini saya akan bercerita lebih detil tentang wawancara ielsp, menanggapi permintaan beberapa org teman yg akan berjuang minggu2 ini.

So, seperti yg disinggung disini, saya datangnya mepet bgt, kaki menginjak anak tangga terakhir, langsung dipanggil, sempet ragu. Alhamdulillah, coba telat 5 detik lagi saja.

So, di lantai 2/3 FIB UI itu dibagi menjadi beberapa ruangan wawancara. Setiap kandidat akan diwawancarai sekitar 15 menit.

Sebelumnya saya sempat gagal ikut pertukaran pelajar karena telat ngurus aplikasi. Padahal, i was quite confident that i could make it.  But, belum rejeki, so aplikasi kali ini saya urus sepenuh hati, jiwa raga. Berhubung baru tahu ada wawancara tengah malam sebelumnya, perlu usaha ekstra keras untuk meyakinkan hati. But in fact, I wasn’t well prepared. Mana datengnya hampir telat lagi. Lengkap sudah. Hanya bisa pasrah dengan persiapan seadanya pasca acara di bogor, saya masuk ke ruang penentuan. Bismillah.

Begitu masuk ruangan, tanpa mengalihkan wajahnya dari file- yang belakangan ngintip adalah aplikasi saya- pewawancara saya menegur, “why are you so late, dear”

Terengah2 saya jelaskan alasan keterlambatan saya. mengangguk-angguk, menerima alasan saya, wawancarapun dimulai. Pewawancara saya adalah ibu Anna Wardana, seorang ibu setengah baya berwajah ramah. Pertanyaan dimulai, dengan perkenalan diri. Ibu Anna meneliti aplikasi saya sambil bertanya, “what is your major?”

“My major is computer science, ma’am, in university of Indonesia”

Kenyataan ini nampaknya mengejutkan bu Anna, berpaling dari aplikasi saya, bertanya dengan mata memaku mata saya, mencari kebenaran – dan keadilan, halah xp-”computer science? Ilmu komputer?”

“yes, Ma’am”

Dari raut wajah beliau terlihat, entahlah mungkin salah, kekaguman!! saya si muka datar, hanya mengangkat alis melihat beliau begitu terkesan dengan “computer science”. biasa aja kog, bu.

Berikutnya, ketakutan saya sirna sama sekali. ini mah bukan wawancara, ini NGOBROL!! :D

Misalnya ibu Anna nanya tentang pendapat saya tentang masalah paling besar di negeri ini. saya jawab dengan keprihatinan saya mengenai perusakan lingkungan yg sangat menggila, didukung dengan fakta-fakta yg memang menarik, sebagian besar berisi ini. Angin sejuk sedang bertiup ke arah saya, saat menceritakan bagaimana indonesia berada di peringkat ketiga sebagai negara yg paling berkontribusi pada terjadinya pemanasan global karena pembakaran hutannya, dengan penuh penghayatan. That’s what you need guys, show them that you really care about what you say, not only words.

Lalu ada pertanyaan tentang rencana di masa depan. Kandidat juga harus meyakinkan pewawancara bahwa mereka pantas terpilih sebagai grantee, bahwa mereka akan menjadi duta bangsa Indonesia yg baik, yg ga malu-maluin. Ini bukannya membesar-besarkan. Atribut Indonesian akan terus melengket kepada kita, segala tindakan kita akan mempengaruhi penilaian dunia tentang indonesia secara general. Misalnya, apakah kamu suka nyelak antrian, nah itu akan menjadi image org Indonesia secara keseluruhan. Khusus yg berjilbab, American sudah cukup “ngeh” bahwa yg berjilbab adalah muslim. Ini yg paling berat bagi saya. I don’t really care kalo yg berbuat salah atau malu2in adalah “Meri” tapi kalo sampai yg ditiban image buruk adalah sebagai orang Indonesia apalagi muslim, wah bagaimana pertanggungjawabannya nih? Inilah yg menanti para grantee.

Kembali ke wawancara aka ngobrol, bu Anna juga banyak cerita mengenai pendapatnya tentang berbagai hal. Begitu tau saya dari Bukittinggi aka Padang (yeah, it’s different, but demi kemudahan dan kenyamanan semua pihak, kadang saya iyain aja kalo dibilang dari Padang), beliau cerita suaminya pernah ngajar di Unand Padang. Bener deh, momen itu memperkuat keyakinan saya bahwa saya lebih cocok dengan ibu2 setengah baya daripada umur lainnya. :D

Selain itu, ada pertanyaan-pertanyaan umum seperti kegiatan sehari-hari seperti organisasi atau prestasi, apa yg diketahui tentang Amerika, dan pertanyaan2 lainnya.

Intinya, show that you deserve to be one of the grantees. Enjoy…
Good luck.
v^_^

 
4 Comments

Posted by on November 29, 2009 in USA

 

I Love You Because of Allah

“Mer, bule yg di sana moto kamu” kata temenku sambil menunjuk seorang bule di belakangku dengan lirikan matanya. Saat itu kami lagi ngantri wahana Firehawks di Kings Island, Cincinnatti.

“Biar sajalah” sahutku cuek, sempat kepikiran mo nawarin foto bareng sekalian :D :cool:

Bukan tanpa alasan bule itu moto saya. Bukan, bukan. Bukan karena mereka nyangka saya Angelina Jolie yg lagi nyamar atau alien yg membunuh, mengambil kulit dan menyaru sebagai manusia untuk menguasai dunia atau siluman kera yg sedang mencari kitab suci. Tapi karena saya salah kostum. Hehe.. iya salah kostum. Di hari yg terik dan membuat dehidrasi, dimana semua manusia lainnya berprinsip minimalis dalam berpakaian, dengan pedenya saya pakai rok panjang, baju item plus jilbab yg juga item, bawa2 jaket lagi. Hebat sekali, bukan? Sigh, (-_-‘)

Begitulah. Itu bukan satu2nya pengalaman saya tentang pakaian di negeri Paman Sam. Sebelum berangkat, sempet khawatir tentang jilbab. Untunglah, seorang temen dengan baiknya nenangin saya dengan bilang, “susah lho jadi muslimah berjilbab di Amrik”. Saya tersenyum pait. :?

Salah satu tantangan terbesar menjadi seorang muslim/ah di negera nonmuslim adalah makanannya. Sekitar lima kali saya sempet terambil makanan yg ada porknya. Pork adalah varian makanan olahan dari daging babi, selain ham dan bacon.

Saat makan pertama kali dianter sama guide dari OPIE[1], Joshua. Joshua paling depan, dan saya, si orang desa, yg bingung liat makanan segitu banyak dan ga enak2 lama2 mikir milih2 karena banyak yg ngantri, berinisiatif bilang ke penjaganya, “sama kayak yg diambil Joshua”. Dikasihlah roti yg disiram kuah daging.

Joshua bilang, “it’s pork. All of you are muslim, right? So, it’s pork”. Dibalikinlah.

Sebulan kemudian. Makan di Boyd Dining Hall, nanya ke penjaganya, “is it beef (sapi)?” Penjaganya mikir sejenak dan bilang yes. Ok, saya ambil. Saat nyerahin, ada penjaga kantin lainnya yg lebih tua bilang ke saya,

“it’s pork”

dan ke rekannya dia bilang, “she doesn’t eat pork”. Gosh, hampiiir aja kemakan babi :(

Itu tentang makanan. Pernah di suatu pagi yg normal saja, para mahasiswa berjalan tergesa2 mengejar kelas berikutnya. Tiba-tiba seorang bule perempuan menyapa saya dengan ucapan “Assalamu’alaykum” sambil tersenyum. Mungkin di Indonesia biasa, but itu sungguh mengagetkan. Efeknya, saya berjalan ke kelas sambil tersenyum bahagia. :D :oops:

Waktu baru sampe di US, di bandara liat ada pria kulit hitam, tinggi besar, serem, dari jauh. Dia jalan dengan tegak, angkuh, lurus menatap ke depan tidak berkedip. Saya teringat gangster2 di kota New York.

Pas papasan sama dia, tiba2 terdengar suara dari alam ghoib “Assalamu’alaykum, sister”. SAYA SHOCK. :shock: :shock: Liat ke belakang, dia ga noleh, tetep aja jalan dengan angkuhnya. Oh, gosh, baru disalamin sama pria kulit hitam tinggi gede serem. Jadi terharu. :oops:

Ga itu aja. Sering papasan sama pria2 Arab atau muslimah berjilbab dan mereka menyapa, “Assalamu’alaykum, sister”. Kalo ini mah ga kaget lagi, malah kadang duluan nyalamin. Suka deh dipanggil sister, daripada ukhti. Lebih berasa bener2 jadi sisternya. :D

Lain lagi cerita saat ke Colombus Zoo. Waktu tinggal satu jam lagi untuk menjelajahi zoo #1 di USA itu. Bertekad menjelajah semua bagiannya, setengah berlari mencari bagian berikutnya. Sampai di persimpangan, bingung ambil yg mana. Lurus udah pasti ke bagian selanjutnya, tujuan saya. Belok kanan, Cuma danau dan toko2 kosong.

Entah kenapa, ada dorongan yg kuat ke kanan. Akal bilang , “hey, itu hanya danau dan toko2 kosong, kita harus lurus :mad: ” But, my heart said “ke kanan bentar”.

Bertempurlah mereka berdua, sementara saya nonton. Hati menang dengan jurus pemungkas, “mintalah fatwa pada hatimu[2]” :cool:

Di kanan, cuma ada toko2 kosong dan tempat duduk di pinggir danau. Saya hampir pergi lagi, nyesel kenapa tadi kesini, saat ekor mata menangkap dua orang pria sedang solat di teras toko yg tutup itu.

Ternyata ini sebabnya kenapa hati bersikeras kesini. Saya belum solat zuhur, astaghfirullahaladzhim. Selama disana, waktu solat bener2 harus dijaga karena ga ada azan dan jadwal solatnya beda.

Pasca wudhu, saya ketemu dua orang pria tadi. Salah satunya nyapa, “do you wanna pray, Sister?” saya ngangguk. “Qiblah is that way” katanya sambil nunjuk timur laut [3] ke arah mana.

Abis solat, pria kulit hitam yg sama bilang , “I am glad to see you care about your praying. Most of people don’t, they just simply ignore it. You know, when a muslim loves his brother or sister, he has to say it. Now I want to tell you that I love you because of Allah… ”

[To be continued]

1. Ohio Program of Intensive English

2. HR Ahmad

3. di Ohio, arah kiblat adalah timur laut/northwest.

 
22 Comments

Posted by on June 13, 2009 in USA

 

Alarm Kebakaran…

Saat nafas menyesak di kerongkongan,..

Oh no, almost midnight, tiba2 fire alarm meraung-raung. Memekakkan telinga. Kebakaran!! what should I do? Langsung melesat ke bawah menyelamatkan diri, untung cuma lantai 4, coba lantai 19. Di bawah, udah rame.

Ga papa, kapan lagi?

Yeah, ke empat kalinya dalam lima minggu.

Yang mengesankan adalah, hanya berselang tidak kurang dari 5 menit fire rescue sudah mendarat di TKP. Polisi tidak ketinggalan. Sementara mereka ke atas, saya merenung, mengingat tragedi kebakaran di negeri sendiri. There is no use to curse or complain, tapi alangkah indahnya kalo pemadam kebakaran di Indonesia juga setanggap ini. Bayangkan betapa banyak nyawa bisa terselamatkan. Harta benda yg tidak terkorbankan sia2.

Tentang datang segera di lokasi. Kenapa butuh waktu hingga 2 jam untuk sampai di lokasi. Macetkah? Mungkin. Atau sedang tidak available? Atau … entahlah.

Ada uang, ada fasilitas. Amerika Serikat memang punya uang, karenanya punya fasilitas yahud. I am just impressed.

Btw, back to fire alarm, kejadian fire alarm pertama yg saya alami adalah malam kedua di Athens. Diiinnnggin banget. Itu terjadi lagi enak2 tidur, ada bunyi keras. Awalnya cuek aja, mo tidur, ga tau itu apa. But lama2 mengganggu juga. Keluar liat roommate melenggang santai sembari berkata, “fire alarm…”. Turun ke bawah. Papasan sama Fire rescue di tangga.

Fire alarm kedua, dini hari. Setelah meraung-raung sekitar 5 menit, akhirnya berhasil merebut kesadaran saya dari alam mimpi. Turunlah ke bawah. Dan you know what. Itu adalah pertama kalinya saya merasakan seolah-olah nafas menyesak di kerongkongan.

Nafas menyesak di kerongkongan. Identik dengan perumpamaan kematian. Fir’aun yg bertobat saat napas menyesak di kerongkongan.

Saya bertanya2, apakah saya setakut ini sampai napas menyesak seperti ini. Tenang saja, itu cuma orang bakar popcorn lagi. Entah kenapa, tetap saja.

Dan tiba2 saya menyadari, itu bukan rasa takut setengah mati. Saya menggigil kedinginan!! FYI, saya dibesarkan di Bukittinggi, kota di dataran tinggi, terbiasa dengan rasa dingin. Namun, itu benar2 pertama kali menggigil, benar2 menggigil. Apakah begini rasanya nafas menyesak di kerongkongan yg dirasakan Fir’aun saat nyaris tenggelam?

Taukah kamu, apa sebabnya?

Korsleting? hubungan arus pendek? beban berlebih pada stop kontak?

No.. no.. no..

Ada yg bakar popcorn. Ya, popcorn. Bangun tengah malam, menggigil kedinginan, hanya karena popcorn. Hebat bukan? Belum tau penyebab fire alarm malam ini, mudah2an bukan karena popcorn lagi ato orang iseng yg berpikir akan sangat lucu nekan tombol alarm.

Peristiwa fire alarm sangat impresif, lampu nyala warna-warni, bunyi memekakan telinga, fire rescue dan polisi. Malam ini saya mendapatkan pengalaman berharga, yaitu lain kali kalo ada fire alarm lagi, harus inget bawa kamera.

 
10 Comments

Posted by on May 8, 2009 in USA

 

3 Hal tentang American

“Saat saya harus menyebrangi Margonda, akan sangat merindui berada di Amerika”

Apa yg kita tau tentang orang Amerika? Bagaimana gambaran kita tentang warga negera adidaya itu?

Individualis? Pergaulan bebas? Kebebasan berpendapat? Diskriminasi?

Well, sebulan di Ohio, dengan segala keterbatasannya berikut disajikan 3 hal tentang American yg saya tangkap.

Pertama, yes, mereka individualis. Prinsip “mind your own bussiness” mereka pegang erat2 (kaya balon). Mereka tidak mau mengganggu urusan orang lain. Mereka percaya terhadap kebebasan dalam segala hal selama hal itu tidak mengganggu orang lain. Termasuk kebebasan beribadah.

Baker Center adalah salah satu sentral kegiatan mahasiswa, ada cafe, pusat pelayanan teknologi, bioskop, meja biliar dan Foosball (I love this one :D ), cek kesehatan, pusat organisasi mahasiswa, ballroom, tempat santai, dan banyak lagi.

Ini adalah lantai 4. Bisa bersantai, ngerjain tugas bahkan tidur disini. Siapapun yg tidur tidak akan diganggu. Siapapun, baik wanita maupun pria.

Bagi mereka yang cenderung soliter akan bahagia hidup disini.

Walaupun individualis, American adalah orang yg ramah dan gentle. Setiap ketemu, akan saling menyapa,
“Hi, how are you?”
“good” or “I am great” while smiling.

Setiap kali keluar masuk pintu buat publik (kaya perpus, gedung kuliah, dining hall dll), mereka akan melihat ke belakang dan menahan pintu untuk orang yg akan lewat. Kecil memang.

Mereka terbiasa mengucapkan maaf bahkan untuk hal-hal kecil. Nyenggol dikit, agak menghalangi jalan, for any unappropriate thing, mereka akan bilang “sorry”.

Ucapan terima kasih juga seakan jadi kalimat wajib.

Dan satu lagi, mereka TERTIB!!!

Saat berjalan kaki ato nyetir mobil pasti selalu di kanan. Ga ada cerita kagok saat papasan sama orang lain, kita mo ke kiri dia ke kanan, dia ke kiri kita ikutan ke kanan, ga jalan2 deh. Disini, saat papasan sama orang lain, setiap orang otomatis akan mengambil sisi kanan (keep right).

Jadi ingat sama Margonda, bahkan terkadang butuh satuan menit untuk menyeberang. Saat lampu merah, dan mobil paling depan telat ngegas beberapa detik, pasti diklaksonin.

Di USA (setidaknya di Ohio), para pejalan kaki adalah raja (dan ratu). Setiap kali para pejalan kaki mau menyeberang, mobil akan berhenti dan membiarkan lewat. Pernah suatu kali, saya dan teman2 secara tidak sadar memblokir jalan, ternyata di belakang ada mobil mo lewat, dia nunggu sampai kami sadar atau ga ngalangin jalan lagi. Di Indonesia, wuidih udah diklaksonin sampe jantungan tuh (plus bonus “dikira jalan nenek moyang lo apa!!”).

Untuk saat ini, sekian dulu laporan dari Athens, Ohio, USA. Maaph baru ngapdet lagi. Insya Allah masih akan dilaporkan lagi untuk para pembaca budiman, untuk bareng2 kita petik pelajarannya.

~Ditulis saat pas tinggal 4 minggu lagi berada disini. Amerika bukan surga, I miss Indonesia but I will miss this place for sure.

 
11 Comments

Posted by on May 4, 2009 in USA

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.