RSS

Category Archives: renungan

Bidadari-Bidadari Surga

Pada kesempatan ngeblog kali ini, saya akan meresensi sebuah buku karya Tere Liye. Nama Tere Liye memang identik dengan buku-buku mengharukan. Siapa yang tidak menitikkan air mata saat membaca Hafalan Shalat Delisa, kisah tentang seorang gadis kecil periang yang menjadi cacat karena tsunami Aceh. Juga ada buku Moga Bunda Disayang Allah, yang ini saya belum baca, pinjem dunk.. :D

Kali ini buku yang mo saya bahas adalah Bidadari-Bidadari Surga. Wuah.. ngomongin bidadari, pasti yang cowo pada seneng nih. Langsung kebayang sosok ideal layar kaca yang bening, licin, dan wangi.

Adalah Laisa, sulung dari 5 bersaudara. Laisa bertubuh gemuk, gempal, dan pendek. Lebih pendek dari orang kebanyakan, tubuhnya memang tidak akan tumbuh lagi sejak kecil. Kulitnya hitam dan rambutnya gimbal. Laisa berhenti sekolah kelas 4 SD dan bekerja di ladang membantu ibunya mencari uang untuk membiayai sekolah adik2nya, karena ayah mereka meninggal diterkam harimau.

Laisa mengorbankan dirinya demi keempat adiknya agar bisa sekolah. Laisa mempermalukan dirinya hanya agar adiknya tidak malu. Bahkan Laisa rela menukar nyawanya diterkam harimau gunung, pengganti nyawa adiknya.

Laisa tidak pernah tamat SD, fisiknya juga jauh dari cantik, sementara keempat adik2nya tampan2 dan cantik. Tidak ada pria yang mau meminangnya saat umurnya sudah lebih dari dua puluh tahun (di kampungnya wanita menikah umur 18), pun juga saat Laisa sudah kepala tiga, kepala empat. Setiap pria yang melihatnya akan mundur teratur, bahkan dengan kasar setelah melihatnya. Lalu, apakah Laisa pernah merasa keberatan dengan takdir kehidupannya? Menarik untuk disimak, percakapan Laisa dan Dalimunte, adiknya, mengenai kesendirian Laisa.

“Kakak tidak pernah merasa kesepian, Dali. Bagaimana mungkin kakak akan kesepian dengan kehidupan seindah ini… Kau benar, aku juga sering memikirkan umur. Sekarang usiaku tiga puluh empat tahun. Tapi apa yang kakak harus lakukan? Itu semua ada di tangan Allah. Yang lebih penting aku pikirkan, dengan sisa waktu yang mungkin tinggal sedikit lagi, apakah masih berkesempatan melakukan banyak hal di lembah ini, berkesempatan melihat kalian melakukan hal2 yg hebat di luar sana. Berkesempatan membuat mamak riang dengan keseharian di perkebunan”

Sesederhana itu. Laisa tidak pernah memikirkan dirinya sendiri. Baginya, adik-adiknya jauh lebih penting.

Ada berbagai kisah mengharukan di buku ini. Alurnya yang maju mundur, namun bukannya membingungkan, malah memperjelas, kenangan ini milik bagian mana, bagian masa lalu ini berdampak pada babak ini. Alurnya menjaga gairah membaca sampai akhir.

Kalimat dalam buku ini sederhana namun menyentuh. Buku yang saya rekomendasikan untuk memperkaya jiwa, untuk menumbuhkan kesyukuran dan kesadaran bahwa betapa beruntungnya kita. Terkadang betapa kita telah menjadi begitu materalistis, berlebihan mencintai materi dan tampilan luar. Lewat sosok Laisa, kita akan belajar arti ketulusan, kasih sayang dan pengorbanan, secara sederhana. Sebuah buku yang indah dengan akhir yang memotivasi.

 
2 Comments

Posted by on June 30, 2010 in Pelajaran moral, renungan

 

Pelajaran Moral #3

Hari ini diingetin lagi: harus banyak2 senyum karena baginda Nabi adalah orang yg paling cerah mukanya, bersinar dengan cahaya, senantiasa tersenyum.

Setiap orang perlu merasa penting, jadi dengarkan mereka kalo ngomong, pasang paras yg perhatian, beri respon yg tepat. Kenapa? karena begitulah yg dicontohkan baginda Nabi. Masih perlu alasan lain?

Nop. I knew it. I just forgot. See, you got a reminder. Alhamdulillah. :)

 
10 Comments

Posted by on May 26, 2009 in renungan, Uncategorized

 

Time

Time is series of opportunity..

Time is line of chances..

as well as sword…

Jlep…

ukh..ukh… (batuk darah)

Rabbi..

hhhh….

TIme is a sword..

just because such a very tiny thing….

 
14 Comments

Posted by on October 8, 2008 in renungan

 

Stunned….

Selama ini denger di sekeliling, orang2 buat rencana 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan. i have done some, tapi ya begitulah…. masih berasa “ah teori….”

dan begitu liat, sebuah perencanaan yg detail dan tinggi sekali targetannya,

I am amazed,
I am stunned…

ga nyangka,

ah betapa manusia begitu sulit ditebak. bener2 air tenang menghanyutkan…
betapa manusia adalah fasilitas yang sangat menarik buat dipelajari…

subhanallah…

 
6 Comments

Posted by on October 6, 2008 in renungan

 

Bumi Kita Indah…

Sumatera Barat memang tidak terkenal dengan timahnya, dengan minyaknya ataupun emas melimpah ruah. Namun, Sumatera Barat menyajikan pemandangan alam yang memikat. Saat kita menginjakkan kaki di Bandara International Minangkabau di Ketaping, mata akan langsung disuguhi nuansa hijau. Tidak banyak bangunan besar selain bangunan utama bandara tersebut. Hanya pepohonan diselingi rumah2 penduduk.

Di perjalanan ke Bukittinggi, kita akan menjumpai area persawahan, terkadang menguning, terkadang hijau, tergantung masanya. Sungai-sungai berkelok-kelok. Menopang kehidupan sawah-sawah. Di pagi hari akan kita temui embun atau kabut (seperti yang pernah disinggung Kemal).

Memasuki daerah Padang Pariaman, kita akan berdecak kagum, bertasbih memuji Sang Pencipta. Tidak akan ada manusia yang bisa menciptakan keindahan seperti ini. Begitu alami, dan kukuh. Jalan raya terletak di pinggang perbukitan. Setelah pagar pengaman, ada sungai berbatu-batu besar, jernih mengalir. Beriak menggoda. Suaranya akan menenangkan keresahan. Hilang ketegangan kantor, terror deadline, hanya kedamaian. Sampai disini, kita akan tergoda untuk berenang, merasakan kesejukan airnya. Tapi sayangnya sungai itu jauh di bawah sana, terhalang pagar pengaman. Tapi tenang, lebih dekat ke Bukittinggi ada tempat kita bisa berhenti, merendam kaki dan membiarkan bocah-bocah bermain air kegirangan.

Namun, sebelum itu, jangan lewatkan air terjun Lembah Anai. Air terjun ini terletak persis di tepi jalan, sehingga kalau mau kita tidak perlu turun kendaraan untuk melihatnya. Tapi kalo mau berhenti dan bermain air ya monggo, bisa saja.

Di belakang sungai tadi, ada perbukitan dengan pepohonan yang masih perawan. Pepohonan terus sampai batas cakrawala. Kadang bertanya-tanya ada apa saja di hutan lindung ini. Dulu ada harimau yang masih berkeliaran sampai ke jalan, sekarang tidak ada lagi. Mungkin jauh di hutan itu, masih ada harimau di puncak rantai makanan.

Memasuki kota Padang Panjang, salah satu kota favorit saya. Kota serambi mekah ini sejuk, lega, damai. Padang Panjang memiliki pesantran dan SMA yang disebut-sebut sebagai SMA terbaik di Sumatera Barat. Jadi ingin berdendang,

Suasana di kota santri

Asyik tenangkan hatii….

Keluar Padang Panjang, ada danau buatan di kaki gunung Singgalang. Gunung Merapi duduk mendampingi Singgalang. Bagai mawar merah, cantik namun berbahaya, berpotensi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya sewaktu-waktu.

Bumi kita indah ya. Indah sekali. Saya belum bercerita tentang Lembah Harau di Payakumbuh yang seakan air terjun alami dimana-mana, Manisnya panorama Danau Maninjau di Puncak Lawang, Danau Singkarak. Pun yang sudah diceritakan, tidak tergambarkan keindahannya secara sempurna, terbatasi kemampuan menulis saya. Ini baru di Sumatera Barat, belum di Kalimantan, Sulawesi, Irian, Nusa Tenggara, lebih jauh lagi ke Skotlandia, New Zealand dll.

Bumi kita indah. Indah sekali. Namun, disana-sini mulai terdesak oleh makhluk melata yang menginang padanya. Hutan, sang penyeimbang, dibabat, dijadikan komoditas ekonomi dan politik. Seperti peralihan fungsi hutan Bintan, penuh suap dan saling tuding. Inilah wajah hutan kita sekarang… :(

Papan peringatan ini hanya seonggok besi tua…

Perairan, sumber kehidupan, dikontaminasi dengan limbah pabrik dan limbah rumah tangga. Perusahaan pencemar lingkungan akan masuk daftar hitam dan seharusnya ditutup, namun masiiiih saja beroperasi. Perusahaan hitam itu bisa melenggang dengan leluasa, antara lain berkat kekuatan uang. Mereka sanggup membiayai penelitian tandingan demi memoles citra, memperbaiki rapor maupun mementahkan tuduhan.

Mari menengadah ke langit dan lihat ozon bumi kita berlubang dimana-mana seperti baju usang yang digerigiti tikus. Panas yang terjebak di bumi dan tidak bisa kembali ke angkasa luar karena terhalang CO2 dan uap air.

Bumi kita indah. Indah sekali. Namun, sayang, anak dan cucu kita kebagian sisa-sisa kerusakannya. Saat kita bercerita tentang beruang kutub, penguin, elang ekor merah, kita hanya akan memperlihatkan gambar kepada mereka. Karena beruang kutub terkena banjir dan mati kelelahan saat berenang mencari daratan untuk mereka tinggali.

Bumi kita indah. Indah sekali. Namun, akankah beberapa generasi setelah kita berpendapat sama?

Mudah-mudahan. Hanya jika kita mulai bergerak meninggalkan ketidakacuhan kita. Saat kita mulai mengurangi konsumsi plastik, saat kita bergerak melakukan pengoptimalan peralatan rumah seperti saran-saran bagus disini, saat kita sudi mengurangi pemakaian kendaraan donatur gas rumah kaca dan beralih ke bike to campus and work. Tidak perlu terlalu ekstrim, sederhana saja, karena Thousand miles journey begins with a single step.

Bumi kita indah. Indah sekali.

:)

 
27 Comments

Posted by on July 30, 2008 in renungan

 

Tags:

finally

Finally. I. Understand. Why. You. Guys. Want. To. Be. Enterpreneur.

 
18 Comments

Posted by on July 11, 2008 in renungan

 

Dia juga…

Mungkin memang fitrah bahwa seseorang ingin terlihat hebat di hadapan orang lain. Ingin terlihat eksis. Ingin dipuji. Berharap pada manusia lainnya. Ingin dikagumi. Padahal apa yg bisa dilakukan orang itu. Dia bahkan ga bisa menumbuhkan sebutir bijipun dengan kuasanya. Orang yg membuat kita merasa terintimidasi bisa ketimpa pohon setiap saat, bisa ditabrak mobil seketika bahkan pada saat setelah menoleh say hi ke kita. Ga ada seorang manusiapun yg kembali ke Penciptanya kecuali dengan berstatus sebagai Hamba.

Pasca kuliah CIS tentang fingerprints, fakta bahwa semua orang di dunia ini tidak ada yg punya sidik jari yg persis sama, bahkan kembar identik sekalipun yg tercipta melalui telur yg sama. Dari 6,665,901,967* jiwa  penduduk dunia, ga ada satupun yg guratan jarinya sama.

Pria tampan yg ingin kita dikaguminya, dia bahkan tidak berperan sedikitpun dalam pembentukan hidungnya. Ruhnya di assign ke raga ini. Pergunakan baik2, begitu pesan penciptanya, nanti Kuambil lagi. Dia hanyalah kreasi indah ciptaan Yang Segala Maha.  La hawla wala kuwwata illa billah.

Mungkin ada perasaan bangga. Tapi lebih besar peluang kecewanya saat individu yg kita berharap padanya untuk mengagumi kita malah melenggang begitu saja.

It’s my life. I don’t  want to be burdened by thinking about their opinion. Memuaskan semua orang adalah hal yg mustahil. So as long as Dia bilang OK, just do it. Berharap pada makhluk hanya akan membuat kita kecewa. Toh nanti penghisaban juga secara individu.

 

~tulisan ini terutama sekali ditujukan untuk diri penulis.

* Referensi :  http://xist.org/default1.aspx

 
11 Comments

Posted by on May 7, 2008 in renungan

 

si katak

tersebutlah seekor katak. menjalani kehidupannya yang tidak melulu cerah tapi juga ditingkahi warna kelabu. hari-harinya yang berwarna-warni. hidupnya normal saja. dilimpahi kasih sayang keluarga, konflik masa remaja, dan kecemasan akademis biasa.

tiba saatnya si katak meninggalkan zona nyamannya, daerah jajahannya. menuju komunitas yang sama sekali asing. yah.. untuk sesuatu yg sepadanlah.

hari-hari pertama, si katak masih mencoba beradaptasi. proses berjalan, perlahan-lahan tempurung si katak terbuka. dunia begitu luas ternyata. sesuatu yang dia anggap hebat, sulit dicari bandingannya, ternyata bukan apa2 disini. masih banyak yang jauh melebihi. begitu tempurungnya terbuka, si katak merasa begitu hidup. ada begitu banyak hal. ada begitu banyak individu baru.

si katak merasa settle dengan dunianya yang baru. segera dia menemukan tempatnya dan definisi kebahagiannya sendiri. periode ini berlangsung cukup lama.

pada hari yang biasa saja, si katak nyemplung ke kolam yang baru. tidak ada firasat, ada suatu skenario menunggunya. si katak berenang, dan mendarat di sisi lain kolam. sembari mengeringkan badan, si katak mengamati tempatnya yang baru. kehidupan yang baru, individu baru, tantangan baru. si katak mengalami deja vu.si katak bertemu individu2 yang begitu hebat, individu2 yang mementahkan parameternya tentang hebat yang bercokol hitungan tahun dan tentu saja teman2 barunya yg baik hati:AR, H, D, AF, NY, SR, AM, VT, MR dll. it was a really really good times with them. serta hal2 lainnya. dan untuk kedua kalinya tempurung di katak terbuka lagi…

fabiayyi alaa i rabbikuma tukadzdzibaan…

“Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? “Ar Rahman 13

 
16 Comments

Posted by on April 22, 2008 in renungan

 

Pengikat Hati

pernah khilaf? khilaf yg menebas seseorang tepat di hatinya. walaupun udah minta maaf, tapi hubungan kita tidak pernah seperti dulu lagi?
merasa ada yg mengganjal karena dia memaafkan tapi tidak melupakan. saat senyumnya hanyalah senyum prasyarat, bukan senyum sayang seperti dulu lagi.

nah, itulah saat yg tepat untuk memberi hadiah. saat kata2 ga mampu mengungkapkan penyesalan, saat maaf ga mampu mengembalikan kita ke tempat kita sebelumnya berada di hatinya. sebuah kado mungil cantik / ganteng insya Allah dapat meluluhkan hatinya. dan senyum itu hadir lagi.

Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tahaadu Tahaabbu”. saling memberi hadiahlah kamu maka kamu akan saling menyayangi.

gimana perasaaan kita kalo di kasih hadiah? seneng kan? walo cuma sebungkus Beng-Beng. Hadiah walo kecil adalah pengikat hati.

pengen baikan sama orang, tapi gengsi minta maaf ? kasih hadiah aja, trust me, it works. :)

 
13 Comments

Posted by on April 16, 2008 in renungan

 

Orik Growable

sesuatu baru terasa berharga bila ia tiada.

kata2 itu selalu saya imani (bukan rukun iman yg ketujuh ya). Hal-hal biasa yg selalu ada, rutinitas harian, seakan jadi yah.. just like that.. just exist. seperti iklan lampu : gunakan dan lupakan.

malam ini, seperti biasa bongkar tas parsial dan naruh barang2. biasanya selalu Orik Growable yg pertama saya taruh di tempatnya di kamar. tapi dia kog ga ada. bongkar tas total dan si Orik tetep ga ada. waduh… orik dimana engkau? sepuluh menit berlalu, si Orik tetep ga tau rimbanya.

usut punya usut, ternyata Orik ketinggalan di MUI. satpam MUI yg nemuin. waduh Jazakallah banget de, Pak. salut sama bapaknya, jujur. kalo sama orang lain, ga tau deh. udah dijual kali.

ada yg bisa nebak, Orik Growable itu apa? saya kasih satu Beng-beng buat yang bisa nebak.. :P

membayangkan hidup tanpa Orik, susah pastinya. saat itulah quote yg diatas terngiang2 lagi…

betapa sesuatu baru terasa berharga bila ia tiada. saat kita bisa make kompie kapan aja kita mau. saat besok ada ujian ato deadline, mati lampu. nah, baru berasa banget, keberhargaan si kompie.

saat kita bisa ketawa2 dan bersenang2 bersama seseorang. suatu saat kita khilaf, lidah menyabet, telak di hatinya. dia terluka. seperti mobil yang berlobang, ditambal, dicat tetep aja lobang itu berbekas. sama seperti hati orang itu. hubungan kita dengannya tak pernah sama lagi.

saat di SMA, setiap selesai sekolah, bisa langsung pulang ke rumah. nonton TV, tidur siang, ato kalo lagi kesel, orang rumah senantiasa be there to listen. kalo laper, tinggal buka tudung saji, ambil nasi sepuasnya, mo nambah juga monggo. ga perlu bayar, ga perlu khawatir masakannya kebanyakan vetsin ato ga sesuai selera. kalo lagi deketin papa, pijit2 bahunya dan papa yang sudah 20 tahun lebih menjadi papa anak2nya, langsung berujar “wah, ada maunya nih…”
tinggal nyengir deh :P . wish the time to stop. just wanna spend forever like this.

saat itu semua seolah ada. just be there. siap siaga.

namun, saat itu semua jauh. baru kerasa how much it’s priceless.

 
15 Comments

Posted by on April 15, 2008 in renungan

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.