RSS

Category Archives: Islam

Keutamaan Seorang Ibu dan Istri dalam Islam

Rasulullah saw bersabda : “ sampaikanlah kepada perempuan-perempuan yang kamu jumpai bahwasanya :

  • Taat kepada suami dengan penuh kesadaran, maka pahalanya seimbang dengan pahala para pembela agama Allah swt, tetapi sedikit sekali dari kamu sekalian yang mau menjalankannya.
  • Sungguh memintakan ampun untuk seorang istri yang berbakti kepada suaminya yaitu : burung di udara, malaikat dilangit, selama ia senantiasa dalam keridhaan suaminya.
  • Siapa saja istri yang meninggal dunia sedang suaminya ridha terhadap kepergiannya, maka ia akan masuk ke surga.
  • Bila seorang suami pulang ke rumah dengan perasaan gelisah dan istrinya menghiburnya, maka istri mendapatkan 10 pahala jihad.
  • Bila seorang wanita mengerjakan dan menjaga shalatnya, berpuasa pada bulan Ramadhan, menjaga amanah suaminya dan mentaati suaminya, Allah swt akan memberikan izin padanya untuk memasuki surga dari pintu mana saja yang dia sukai.
  • Bila seorang wanita tidak dapat tidur pada tengah malam dikarenakan terganggu oleh anaknya, maka Allah swt akan memberikan pahala kebaikan membebaskan 20 orang budak.
  • Bila seorang wanita tidak dapat tidur karena sakit dan menyusui anaknya, maka Allah swt akan mengampuni seluruh dosa-dosanya dan mendapatkan 12 tahun pahala ibadah.
  • Bila seorang wanita mulai menyiapkan makanan dan memasak dengan memulai bismillah, maka Allah swt akan memberikan berkah di dalam nafkah mereka di dalam rumah tersebut.
  • Bila seorang wanita menyapu rumahnya sambil berdzikir, maka Allah swt akan memberikan pahala menyapu Ka`bah, yang mana melakukan 1 kebaikan di Masjidil Haram ganjarannya adalah 10.000 kebaikan.
  • Bila seorang anak menangis pada malam hari dan ibunya tidak marah tapi malah membujuknya dengan kasih sayang, maka ia akan mendapatkan pahala 1 tahun ibadah.
  • Allah swt akan memberikan pahala 1000 ibadah haji dan umrah dan 1000 malaikat akan memohonkan ampunan baginya hingga hari kiamat karena ia telah melahirkan anaknya dengan sabar dan ikhlash.
  • Wanita yang menyusui anaknya, maka setiap tetesan air susu tersebut akan mendapatkan 1 pahala dan apabila cukup 2 tahun menyusui, maka malaikat-malaikat di langit akan mengabarkan berita bahwa surga wajib baginya.
  • Wanita yang menjaga anaknya yang sakit di waktu malam hari pahalanya seperti membebaskan 20 orang hamba sahaya dan akan mendapat 12 tahun pahala ibadah bila dia menghibur anaknya.
  • Wanita yang mencuci pakaian suami dan anak-anaknya akan mendapat 1000 kebaikan dan akan diampuni kesalahannya, bahkan segala sesuatu yang disinari matahari meminta ampun baginya serta Allah swt mengangkat 1000 derjat baginya.
  • Wanita yang paling besar berkahnya bagi suaminya ialah wanita yang ringan nafkahnya. (H.R Ahmad)
  • Bila seorang wanita hamil, shalatnya 2 rakaat adalah lebih baik daripada 80 rakaat shalatnya wanita yang tidak hamil.
  •  Bila seorang wanita hamil sampai melahirkan, maka Allah swt akan memberikan padanya pahala bagaikan ia selalu berpuasa pada siang hari dan shalat sepanjang malam selama masa ia hamil itu.
  • Bila seorang wanita hamil ia akan mendapatkan pahala 70 tahun shalat nafil 70 tahun puasa
  • Bila seorang wanita ketika hendak melahirkan, untuk setiap 1 sakit yang dideritanya akan mendapatkan pahala para mujahid.
  • Bila seorang wanita maninggal diantara 40 hari setelah melahirkan ia akan mendapat pahala mati syahid.
  • Bila seorang suami pulang ke rumahnya kemudian bersalaman dengan istri yang menyambutnya, maka dosa-dosa mereka berdua akan berguguran sebelum kedua tangan itu berpisah.”

Referensi

 

 
6 Comments

Posted by on July 21, 2011 in Ilmu, Islam

 

Telaga Jernih dan Bangkai Anjing

Alkisah di sebuah desa, terdapat sebuah telaga. Air telaga tersebut sangat jernih, bening, dan segar rasanya. Penduduk desa sangat bergantung pada telaga tersebut; minum, mencuci, berwudhu, mandi, mengairi tanaman dll. Namun, pada suatu hari, penduduk mendapati bangkai anjing terapung-apung di telaga sumber penghidupan mereka. Warna, rasa, bau air telaga sudah berubah, ternajisi oleh bangkai anjing tersebut. Penduduk tercenung.  Di desa tersebut tidak ada lagi sumber air lain.

Pendudukpun berembuk dan mereka sepakat menemui kiyai di kampung mereka. Setelah memahami dan mempelajari berbagai kitab, kiyai itu menyarankan agar membuang lima puluh ember air dari telaga tersebut.

“Insya Allah airnya akan kembali bersih”, saran sang kiyai.

Penduduk bergegas membuang lima puluh ember air dari telaga. Namun, air telaga itu masih tetap busuk, kotor, dan najis seperti sebelumnya.

Tergopoh-gopoh, mereka kembali bertanya pada sang kiyai.

“Tidak mungkin, semua kitab-kitab ini rata-rata berpendapat sama bahwa air telaga itu akan kembali suci setelah dibuang lima puluh ember airnya”, tegasnya sambil membolak-balik berbagai kitab. “Cobalah sekali lagi, buang lima puluh ember airnya.”

Penduduk kembali bergegas menuju telaga, namun baru beberapa langkah mereka beranjak, sang kiyai bertanya, “Maaf, apakah kalian sudah menyingkirkan bangkai anjing dari telaga?”

“Tidak, Kiyai. Bukankah kiyai hanya menyuruh kami membuang airnya?” jawab salah seorang penduduk dengan lugunya.

“Aduh, kalian benar-benar bebal. Sudah tau yang menjadi sumber najisnya adalah bangkai anjing, kenapa tidak bangkai itu yang dahulu kalian buang. Sana, buang dulu bangkai anjingnya.”

Pendudukpun membuang bangkai anjing itu jauh-jauh dan mengeluarkan lima puluh ember air. Benar saja, setelah lima puluh ember air, telaga tersebut kembali memancarkan air yang bersih dan jernih. Tidak kotor sedikitpun. Penduduk kampungpun bersukaria, karena telaga yang menjadi sumber penghidupan mereka sudah bisa dinikmati lagi.

Begitulah keadaan hati kita. Hati kita dasarnya suci, bagai selembar kertas putih yang tidak ternoda sedikitpun. Namun, hati kita sudah ternajisi oleh bangkai hubbud dunya, cinta dunia. Sumber kebeningan masih tetap mengalir dari mata air fitrah di dasar sanubari kita, namun ternajisi oleh penyakit hubbud dunya tersebut, sehingga apapun yang keluar dari hati kita tidak lain sudah terkontaminasi.

“Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS. Ali Imran 185)

Sholat fardhu terasa bagai beban dan dilakukan hanya sekedar melepas utang, puasa sangat menyiksa, berzikir sungguh membosankan, sangat berat mengeluarkan infak dan sedekah. Sementara itu, menonton acara gossip, berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram, memelototi aurat perempuan menjadi hal yang sangat nikmat.

“Ketahuilah bahwa dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila segumpal daging itu baik, maka akan menjadi baik semuanya, dan apabila segumpal daging itu jelek, maka akan jeleklah semuanya, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bila hati sudah terkotori, maka sudah pasti apa yang keluar dari mulut, yang menjadi tindakan, dan keseharian kita juga tidak bersih. Inilah yang menjadi penyebab kerusakan moral di dunia saat ini. Setiap orang sibuk mengejar dunia, seakan akan hidup selamanya. Setiap orang menjunjung nafsunya. Bisnis maksiat meraup sukses. Sebab hubbud dunya-lah yang mewarnai hati, jiwa, dan pemikiran.

Bila telaga hati kita bersih dan jernih, maka beribadah akan menjadi kenikmatan tiada tara. Dikisahkan dalam suatu peperangan, kaki Ali bin Abi Thalib tertusuk panah. Saat dikeluarkan, Ali berteriak kesakitan. Ali berkata, “biarkan aku shalat dua rakaat dan cabutlah saat aku sedang khusyuk.”

Ali shalat dua rakaat dan saat wajahnya terlihat sangat khusyuk, sahabat mencabut panah yang menembus kaki Ali. Ali tidak merasakan apa-apa, tetap khusyuk sholat.

Begitu juga khalifah Umar bin Khattab. Pada saat beliau mengimami shalat berjamaah, musuh yang bersembunyi di balik mimbar menerjang dan menusuk beliau. Umar tidak bergeming dan tetap melanjutkan shalatnya, baru setelah selesai, beliau rebah ke tanah.  Itulah keteladanan para sahabat.

Lalu bagaimana menghilangkan hubbud dunya dari hati kita?

Hubbud dunya hanya bisa dihilangkan dengan hubbullah (keyakinan dan kecintaan kepada Allah SWT). Saat hati meyakini bahwa hanya Allah SWT-lah sumber kebahagiaan, kekuatan, dan perlindungan, saat hati merasakan kebesaranNya, ke-MahaAgung-anNya, kekuatanNya, dunia akan terlihat remeh. Kita tidak akan menuhankan makhluk tuhan lagi.

Bagaimana menumbuhkan hubbullah di dalam hati kita?

Dengan menghayati muraqobatullah, yaitu keyakinan dalam hati kita bahwa Allah SWT senantiasa melihat dan menilai perbuatan kita. Dia yang lebih dekat dari urat leher, bisa mendengar bisikan hati kita, bisa melihat keburukan yang kita perbuat. Bila kita bisa menghayati penglihatan Allah selalu meliputi kita setiap saat, kita akan urung melakukan dosa dan maksiat.

Jika ini telah hidup di dalam hati kita, niscaya hubbud dunya akan sirna dengan sendirinya. Dunia akan terasa kecil dan hina. Makhluk Allah yang kita sangka adalah sumber rezeki, kebahagiaan, perlindungan,  akan terasa lemah dan tidak berarti. Hanya Allah SWT sumber kebahagiaan dan kekuatan kita. Pada saat itu, sholat kita, sedekah kita, puasa kita, zikir kita, semua ibadah kita akan terasa nikmat.

Namun, bayangkan mencabut perban penutup luka, akan terasa sakit bukan? Apalagi hubbud dunya yang telah melekat erat di hati kita bertahun-tahun lamanya. Proses tersebut adalah proses overhaul, proses besar-besaran yang menyakitkan. Hanya mereka yang rela berkorban dan berusaha saja yang berhasil melewati proses ini.

Tapi jangan khawatir, adanya Ar-Rahman (Maha Pengasih) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang), sebagai asmaul husna pertama yang disebut, bukan tanpa alasan. Allah SWT menjadikan manusia sebagai pencurahan kasih sayangnya. Dia menjadikan musibah dan cobaan sebagai proses overhaul untuk membantu manusia membersihkan telaga hatinya dan kembali pada fitrahnya, kembali pada kebahagiaan hakiki.

~Diilhami dari  buku My Dad, My Pious Dad (Ayahku, Ayah yang Saleh), karya Arsil Ibrahim, semoga menjadi pengingat bagi penulis dan kita semua.

~juga terdapat di ukhuwah.or.id

~sumber gambar

http://1.bp.blogspot.com/_h467TBZYS4M/S1kBxtS7uSI/AAAAAAAACq0/8CgwVWKGWrI/s800/solat.bmp
 
5 Comments

Posted by on June 6, 2010 in Islam

 

Erami telurmu

Rasulullah SAW bersabda “Apabila kamu melewati taman surga, maka bersenang-senanglah kamu”. Sahabat bertanya “Wahai Rasullullah, apakah kebun surga itu?” Beliau menjawab “yaitu tempat-tempat mencari ilmu” (HR Thabrani)

Setiap majelis yang mempelajari, mendiskusikan dan mengembangkan ilmu adalah taman surga yang penuh kenikmatan. Setiap kalimahnya bernilai sama dengan satu kebajikan. Bayangkan, banyaknya kebajikan yang didapat berbanding lurus dengan banyaknya perkataan yang disampaikan, dan setiap kebajikan tidak kurang ganjarannya adalah kenikmatan surga.

Islam sangat menjunjung tinggi ilmu. Hamba-hamba Allah SWT yang berilmu akan ditinggikan beberapa derajat. [QS 58:11] Bahkan tinta para ulama pun lebih berat timbangannya dari darah para syuhada. Baginda Nabi juga berujar bahwa meninggalnya satu kampung lebih ringan daripada meninggalnya seorang ulama [1]. Itulah, sobat, keutamaan menuntut ilmu. Dengan menuntut ilmu, Allah SWT memudahkan jalan kita menuju surga [HR Muslim].

Masa perkuliahan kita insya Allah berada di Sabilillah, jalan Allah. Periode yang telah lewat, jangankan kembali, menolehpun dia tidak sudi. Layaknya orang Inggris berkata “Waktu ibarat kikir yang terkikis tanpa suara”. Sungguh, hanya waktu yang kita miliki, bahkan orang yang tidak punya apapun, memiliki waktu.

Allah SWT, Sang Khalik, tahu sepenuhnya kecendrungan kita untuk menyia-nyiakan waktu. Kata “sungguh” yang mengikuti “Demi Masa” itu adalah suatu kata “pasti”, bahwa “pasti” kita, manusia, berada dalam kerugian. Sungguh, Dia Yang Maha Mengetahui menjamin pasti kita berada dalam kerugian. Kecuali orang yang beriman dan beramal soleh, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Beramal soleh, saling menasehati, semuanya tentang tindakan. Hanya agar tidak merugi. [Q.S 103:1-3]

Marilah kuceritakan padamu, sobat, sebuah cerita tentang seorang gadis kecil dan telur ayam.

Seorang gadis kecil sedang bermain di pertanian orang tuanya. Tiba-tiba dia melihat rombongan ayam melintas. Dia mengikuti ayam-ayam tersebut dan tiba di sebuah lumbung dengan lebih banyak ayam. Dia memainkan telur-telur yang ada disana. Bertanyalah dia, “Ibu, apakah ini?”.

“Ini adalah telur ayam, Sayang. Di dalamnya ada anak ayam yang akan memecah telur itu, bila ia menetas”.

Esoknya sang gadis kecil kembali, menyentuh telur-telur itu, dan kecewa mendapati rasanya masih sama. Esoknya, ia datang lagi, masih sama. Demikian juga hari berikutnya. Akhirnya di hari kelima, dia memutuskan telur itu harus menetas. Saat ia hampir membanting telur itu, Ibunya datang, “Sayang, apa yang kamu lakukan dengan telur-telur itu?”

“Anak ayam itu sudah terlalu lama di dalam, aku akan mengeluarkannya”

Dengan penuh sayang, ibunya mengelus rambut si gadis kecil dan berkata, “Sayang, kita akan mendapatkan anak ayamnya bila ia siap menetas, bukan dengan membanting telur”.

Deq, kalimat terakhir si Ibu sangat mengena, bukan? Kita akan mendapatkan anak ayamnya bila ia siap menetas, bukan dengan membantingnya. Aku termenung, pernahkah aku sangat menginginkan ayam, namun yang kulakukan adalah membanting telurnya? Berapa banyakkah telur yang kupecahkan sekian tahun ini? Berapa banyak telur yang berhasil kutetaskan?

Tak usahlah dipikirkan masalah telur, apalagi menanyakan mana yang lebih dulu telur atau ayam. UAS di ambang pintu!! Sobat, setujukah engkau bila kukatakan masa UAS kita adalah masa kita mengerami telur-telur? Bukan hanya UAS, kuliah juga. Hidup kita adalah saat-saat mengerami telur-telur. Sobat, manakah yang engkau mau, melihat anak-anak ayam berlari riang atau gumpalan putih kuning lengket di lantai? Manapun pilihanmu, aku percaya, engkau akan memilih dengan bijak. Ciap! Ciap!!

Selamat menempuh ujian akhir semester. :)

Rabbi dzidni ilman, warzuqni fahman

Referensi:

- Bakar , A. Zabrina. 2007. Satu Tiket ke Surga. Ufuk

- [1] Kitab Ihya Uluumuddiin susunan Imam Al Ghazali, www.media-islam.or.id

 
6 Comments

Posted by on December 15, 2008 in Ilmu, Islam

 

Take and Give

Baginda Nabi menganjurkan agar sering memberi hadiah, “saling memberi hadiahlah kamu maka kamu akan saling menyayangi”.

Kalo kita diberi hadiah, kita disunnahkan untuk membalasnya dengan yang lebih baik, minimal yang setara. Kalo ga punya apa2 untuk membalasnya, setidaknya balaslah dengan doa.

Aa Gym menyitir salah satu dialog pada film laskar pelangi tentang hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya. Kenapa? Karena semakin sering menerima semakin rendah derajatnya. Semakin sering memberi, semakin tinggi derajatnya. Kita sangat familiar dengan “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”, kan?

Itulah sekelumit ceramah Aa Gym di mesjid Al Fauzien 20 Oktober 2008 yang lalu. Insya Allah malam ini, Senin 3 November 2008 abis isya ada lagi kajian Makrifatullah. Dikit banget, ya? Sorry deh. :P

 
7 Comments

Posted by on November 3, 2008 in Islam

 

Cara Menggandakan Kekayaan

Kata siapa sedekah bikin miskin?

Kata Setan, of course, seperti termaktub di dalam kitab sudi Al Qur’an, surat Al Baqarah 268:

“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kemiskinan kepadamu dan menyuruh kamu berbuat keji (kikir), sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karuniaNya kepadamu. Dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui”.

Nyatanya ga tuh. Kan jelas bahwa :

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui” (Al Baqarah 261)

700 kali lipat!!!

1.000*700 = 700.000

1.000.000 * 700 = 700.000.000.

Apresiasi untuk NHI (Nasehat Hari Ini) FUKI yang bercerita tentang Abdurrahman Bin Auf, salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau ibarat Raja Midas. Saking kayanya, kontradiksi banget sama orang susah banget nyari duit, sedangkan dia seolah-olah angkat batu aja, nemu emas. Ckckck….. itu karena dia punya hobi yang mendatangkan uang. Ya itu… sedekah. Hhhh…. Sungguh beruntung orang yang djaga dari sifat kikir.

Secara harta hanya titipan, bisa diambil setiap saat, Mukesh and Anil Ambani pun bisa jatuh bangkrut setiap saat (ampun, bukannya doain). Hanya orang-orang beruntung yang dipercaya olehNya, untuk menjadi penyalur rezeki orang lain. Ada banyak salurannya, kaya kotak amal di musolla, kotak amal Palestine, Badan Amil Zakat Infak Sedekah (AZIS), nyumbang buku buat perpus mosholla, nyumbang mukena ato sandal jepit buat wudhu. Ya, setidaknya satu sisi kita ada yang melindungi kalo malaikat penyiksa mendekat di alam kubur. Hii…

Postingan kali ini ga akan panjang2, cuma mo ngulang kalo sedekah ga akan bikin miskin. Sebaliknya, malah mungkin kamu akan takut sendiri megang uang sedemikian banyak yang datengnya ga disangka2 dari arah mana aja (oh, benarkah ini uangku?).

 
7 Comments

Posted by on September 22, 2008 in Islam

 

kau aman bersamaku…

Seorang salesman menghampiri seorang wanita yang sedang menyapu halaman di sebuah rumah mewah.

“Bi, tuan rumahnya ada?”

“BIBI, BIBI !! Saya tuan rumahnya..”

“alaahh.. bibi jangan ngaku2 deh..”

“saya nyonya disini!!”

“udahlah, Bi. Saya tahu bibi pengen punya rumah kaya gini, tapi jangan ngaku2 lah. Ayo tolong panggilin tuan rumahnya… ayo…”

“eh..dibilangin SAYA TUAN RUMAHNYA!!”

“ah.. udahlah saya ga mau lagi… ”

Sang Salesman cabut.

Cerita itu didongengkan Aa Gym dengan sangat kocak Senin 30 Juni 2008 lalu di Mesjid Al Fauzien, Gema Pesona Depok. Haha… asli kocak banget meraninnya.

Jadi, Aa Gym membahas bahwa terkadang kita ketinggian menilai diri sendiri. Disangka Bibi marah, padahal apa salahnya. Itu karena si nyonyah menganggap tinggi dirinya. Kalo udah tahu dosa2 dan aib kita, ga ada lagi perasaan ingin dihormati. Padahal bisa jadi si Bibi lebih mulia dari nyonyanya. Sangat “beruntung” pembantu RT yang dapet nyonya galak. Misalkan si Nyonya baru balik Haji, pulang2 ngomel2 sama pembantunya.

“KAMU INI KERJA GA BECUS” wah, ngalir tuh pahala tawaf ke bibi.

“BLAH BLAH !!” ngalir lagi pahala sa’i.

Sang Pembantu dengan sabarnya bilang “wah.. terus, Nyah, terus..”

Jadi, nanti di hari Pembalasan, akan ada sesi pertanggung jawaban ke sesama manusia. Saat giliran si nyonya akan ditanya “siapa yang sewaktu dunia pernah dizalimi sama orang ini?”

Maju sang Bibi.

Semua penderitaan yang dialami si bibik, diganti sama pahala si nyonya, kalo ga cukup sebagian dosa si bibik dipindah ke si nyonyah. Waduh, nanggung dosa sendiri aja belum tentu kuat, ditambah lagi sama dosa orang lain. Bayangkan aja berapa banyak orang yang pernah kita zalimi, dimintai pertanggungjawabannya satu2. udah amal dikit, kadang masih bercampur riya, dipreteli lagi. :cry: . Temen2 yang pernah terzalimi oleh saya, mohon maaf ya. kalo sempat, tolong diingetin.

(btw, ini ceramah Aa Gym, ada bagian yang saya agak ga ngerti disini, kapan2 deh dibahas).

Kalo kita menzalimi orang lain, berarti kita sedang mempersiapkan zalim ke diri sendiri. Jika menyelamatkan orang lain, maka kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri. Salah satu sarana menzalimi orang lain adalah saat marah. Trus gimana nahan marah? Ga tahan aja bawaannya.

trus gimana dunk? :idea:

Diam dan pindah posisi. Kalo berdiri, duduk, kalo duduk, baringan. Tapi jangan baringan di tengah pasar ya, kalo tersinggung sama penjual. :P

diam? mmm… :?

Sebab kalo kita ngomong, masalah sejengkal jadi sedepa, sedepa jadi sehasta, sehasta jadi sekilo, diincrement sendiri ya. Kalo menghadapi orang marah, ya diam saja sambil zikir dalam hati. :)

ini tips dari Aa Gym:

  1. Kalo ga bisa berbuat baik, jangan berbuat buruk. Jangan ganggu orang.

Ingat 3A : aku aman bagimu, aku nyaman bagimu, aku bermanfaat bagimu. :)

  1. Kalo berani, Tanyakan kesalahan ke orang2 terdekat dan hisab diri sendiri sebelum dikerik sama Allah SWT dengan cobaan dan ujian (buat meluruhkan noda2 jiwa).
  2. Luangkan waktu I’tikaf di mesjid, dan koreksi diri. Pas sudah memasuki bulan Rajab, sebentar lagi Sya’ban akhirnya Ramadhan. (btw, bulan rajab banyak keutamaannya ya, puasa yuu, yuu mari…)

Asmaul Husna yang dibahas adalah As Salam yang artinya Maha Penyelamat. Implementasinya, saat kehadiran kita bisa berkata “kau aman bersamaku…”

Ya, jadi sekian saja sedikit liputan. Kajian selanjutnya tanggal 21 Juli 2008, setelah isya. Sayang, insya Allah, saya lagi di Bukittinggi, yang datang, tolong transfer ilmunya ya. Wallahu’alam bishowab.

 
16 Comments

Posted by on July 7, 2008 in Islam

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.