RSS

Category Archives: fenomena

Pentingnya Koneksi

Hari ini ngurus surat pindah. Jadi saya mo bikin kartu keluarga baru biar gampang ngurus akte kelahiran dedenya nanti. Jadi, siapa tahu perlu, berikut saya ceritakan alurnya.

Dokumen yang diperlukan: KK asli, KTP asli, pas foto 2 buah ukuran apa aja.

Berikut prosesnya:
1. Dateng ke kantor kelurahan untuk ambil formulir.
2. Formulir yang sudah diisi, dibawa ke ketua RT untuk ditanda tangani
3. Formulir yang sama dibawa ke ketua RW untuk ditanda tangani dan distempel.
4. Balik lagi ke kantor kelurahan bawa formulir tersebut dan bayar biaya leges (?) sejenis materai untuk biaya restribusi sebesar Rp. 5000.
5. Dokumen yang dikasih kelurahan bawa ke kantor kecamatan untuk ditanda-tangani camat. Disini ga ada pungutan apa-apa.
6. Pergi ke kantor Kependudukan dan Catatan Sipil. Disinilah surat pindah didapatkan, lagi-lagi ga ada biaya apapun.

Masalah biaya, walaupun tidak ada tarif resmi, kadang-kadang pemohon memberikan uang sukarela. Namanya juga sukarela jadi suka-suka si pemohon mo ngasih berapa atau ngasih atau tidak. Tapi menurut saya, Pemkot udah susah membersihkan diri kaya gitu, kenapa kita masyarakat malah menggoda mereka dengan ngasih duit?

Yak, begitu alur permohonan surat pindah. Nah, yang mau saya ceritakan disini intinya bukan itu. Jadi, kebetulan ketua RT, Ketua RW, lurah, camat, dan staf di kantor capil semuanya temen papa. Jadi pas ngurusnya, pas liat KK pak RW berseru “Oo.. iko (ini) si Meri anak Pak B**” langsung deh tanda tangan tanpa banyak basa-basi lagi. I love my dad for sure but ga bangga juga sih dikenal sebagai anak Pak B**, secara saya menganut prinsip Ali bin Abi Thalib, bukanlah pemuda yang mengatakan inilah ayahku, tapi dialah pemuda yang mengatakan inilah diriku. Tapi memang begitulah keadaan saat ini.

Saya liat begitu gampangnya urusan saat ada koneksi. Kebetulan ada masalah dengan KK yaitu nama saya ga ada di sana lagi karena saat datang petugas kerumah mendata, saya udah ga di rumah karena udah nikah dan tinggal di depok (tapi belum buat KK). Nah, saya ga termasuk KK mana-mana dunk. Itulah masalahnya, mo ngurus surat pindah, pindah dari mana?

Dengan adanya kenalan, urusan ini jadi gampang. Di kantor kelurahan dan capil yang ngurus detil, langsung diurus aja sama pegawai disana. Coba kalo ga kenal, mesti ngurus KK baru lagi, ke kelurahan lagi, RW lagi dll. Ribet aja -.-”

Itulah pelajaran berharga hari ini. Saya yang ga begitu suka keramaian dan lebih suka sendirian, jadi terbuka matanya betapa pentingnya memiliki kenalan. Harus lebih menjaga silaturahmi. Bukankah silaturahmi adalah jalan menuju rezeki? Cobalah bergaul baik dengan banyak orang.

Keuntungan koneksi tidak hanya kali ini saja yang saya alami. Saat ngurus nikahan dulu, dapet kemudahan dan kemurahan saat ngurus tenda, florist, KUA dll. Malah florist dapet gratis dan tenda dimurahin, karena kenalan. Juga pas ngurus ke penghulunya, harusnya calon penganten pria dan wanita menghadap ke penghulu sekitar seminggu atau agak lama sebelum hari akad untuk verifikasi data dan mendengerkan beberapa petunjuk, wejangan, dan arahan dari penghulunya. Karena calon pengantin pria jauh, maka kita ketemu penghulunya hanya beberapa jam sebelum akad. Karena kenalan.

Begitulah, koneksi itu penting. Bergaullah secara baik dengan banyak orang dan jangan ambil hak mereka.

 
6 Comments

Posted by on July 8, 2010 in fenomena

 

Robot shalat

lucu…. :D

 
8 Comments

Posted by on November 10, 2008 in fenomena

 

Obama menang

I am wondering, apa dampaknya buat bangsa Indonesia dan umat Islam?

 
9 Comments

Posted by on November 5, 2008 in fenomena

 

Jembatan Penyebrangan itu

sumber anakUI.com.

“Senin kemarin aku menggunakan jembatan penyeberangan yang ada di depan wira makara UI, jembatan itu terlihat sudah mulai keropos ada lubang di tangga naik-turunnya dan samping kiri-kanannya tidak tertutup. Tapi hal yang paling menjadi perhatianku adalah adanya tukang-tukang ojek yang menjadikan bagian naik-turun tangga sebagai tempat mereka berkerumun. Aku berpikir pasti kalau ada perempuan yang menggunakan rok dan menggunakan tangga itu pasti ada ‘oknum’ tukang ojek itu yang tertarik untuk mengintip melalui sela naik-turun tangga yang memang berlubang, dan ternyata hal itu memang terjadi aku menyaksikan sendiri ketika ada perempuan yang menggunakan rok menaiki tangga jembatan penyeberangan itu terdapat ‘oknum’ tukang ojek yang dengan seksama menatap ke arah perempuan tersebut. Untuk itu bagi para pengguna jembatan penyeberangan itu terutamanya dari kalangan perempuan akan lebih baik bila menggunakan celana panjang atau celana tambahan di dalam rok untuk menghindari situasi yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi ketika menggunakan jembatan penyeberangan tersebut.”

sobat, hati2 yah. pake rok panjang + celana panjang.

Betapa saya benci pengintip…

 
4 Comments

Posted by on November 3, 2008 in fenomena

 

oh, great

I. Hate. Bureaucracy.

 
7 Comments

Posted by on October 21, 2008 in fenomena

 

Kungfu Panda

Kungfu Panda bener2 film animasi yg bagus banget..

beberapa quote yg berkesan :

“there is no such an accident” Master Oogway

“yesterday is a history, tomorrow is a mistery, but today is a gift, that’s why it’s called a present” still Master Oogway

“to make something special, you have to believe it’s special” Po’s father (seekor bangau ajaib yg punya anak panda, keren juga.., gimana caranya ya?)

“you just have to believe” Master Oogway

 
4 Comments

Posted by on September 26, 2008 in fenomena

 

Pelajaran hari ini

Segala sesuatu ada trade off nya, bayar lebih untuk dapet sesuatu yg lebih.

walo mungkin ga berlaku untuk semua hal, namun, hari ini bener2 jomplang banget fasilitas gratisan sama bayaran. ya, seimbanglah sama harga yg dikeluarin. Harusnya begitu seorang dokter dan perawat.  Menentramkan dan ramah banget.

suka deh… :)

 
6 Comments

Posted by on September 26, 2008 in fenomena

 

This is Where I Belong

Bukittinggi. Bukittinggi hanyalah kota kecil pada ketinggian 909-941 m dari permukaan laut, sehingga udaranya sejuk sekali. Dan karena diapit oleh tiga gunung yaitu Gunung Singgalang, Gunung Merapi dan Gunung Sago, Bukittinggi dijuluki kota Tri Arga. Teksturnya yang berbukit-bukit dan berlembah2 menjadi asset pariwisata yang potensial, menjelaskan kenapa Bukittinggi terkenal sebagai Kota Wisata.

Ini adalah jalan kenangan. Kalo pulang sekolah, SMP dan SMA, hampir selalu lewat sini. Liat pohon-pohon rindangnya. Kalo sore, akan banyak jualan lewat sana, sandwich/roti bakar, sate, somay, pisang molen, dll. Udaranya sejuk. Kadang lewat para pelari sore, mereka memakai jaket parasut dan celana panjang. Emang ga panas ya? Menurut kabar burung, katanya itu para petinju yang lagi nurunin berat badan, ya olahraga pake jaket parasut efektif buat membakar lemak. Hmmm…..

Ini jalan Sudirman Bukittinggi. Di ujung belokan sana adalah SMA 2 Bukittinggi. Pohon-pohon rindang ini yang melindungi kulit dari sengatan mentari saat pulang jam 13.45 untuk masuk sekolah sore jam 14.30. ada yang Bike to work tuh….

Terus berjalan akan sampai di Lapangan Wirabraja, atau yang lebih dikenal dengan nama Lapangan Kantin. Denger-denger nama itu karena dulu ada sebuah kantin disana trus tutup. Hah, cerita yang tidak bertanggungjawab :P . Lapangan rakyat ini sore akan dipenuhi anak muda yang main basket di lapangan sudut, yang berlari di track atletik, ataupun orang-orang yang agak tua yang memilih berjalan saja, serta yang main bola di lapangan rumput.

Shalat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, juga diadakan disini. Upacara 17an, dan upacara membosankan lainnya juga sering diadakan disini. Waktu SMA dan SMP sering olahraga disini, dan saya liat teman2 saya ngeceng. Yah, namanya juga anak muda :D . Saya inget dulu main tolak peluru, ujian atletik, main kasti, lempar cakram, main bola kaki, main bola tangan, main kejar-kejaran disini. Waktu SMP, lomba drumband disini, mempertaruhkan nama baik dan perang mendarah daging antara SMP 1 dengan SMP Xaverius. Tapi hanya untuk soal drumband saja.

Di sudut kanan ada jembatan refleksi. Dulu pada awal-awal baru dibangun, jembatan ini jadi primadona, bahkan sampai dari luar kota. Sedemikian populernya jembatan ini sampai dibangun satu lagi, di depan SD 43 Belakang Balok, SD saya. Layaknya popularitas selebritis, lambat laun pudar, jembatan ini lama kelamaan sepi peminat, mudah-mudahan karena memang yang dulu aktif menggunakannya sudah pada sembuh. Ya mudah-mudahan begitu.

Ternyata sudah ada pemisahan sampah. Kecil saja dulu, sampah kering dan sampah basah. Mudah-mudahan di tempat pengumpulannya nanti sudah ditindaklanjuti.

Jangan2 pemda Bukittinggi baca postingan saya yang ini :P , hehe ga deng. Tong sampahnya udah lama, postingannya baru seumur jagung. Yehee.. bolehlah ge-er daripada minder. :mrgreen:

Ini adalah tugu Tuanku Imam Bonjol, da’i melawan kaum adat yang waktu itu suka berjudi. Belanda menunggangi Kaum adat ini sehingga baru bisa menaklukkan Tuanku Imam Bonjol dengan cara licik usulan Kompeni. Diajak berunding, tapi sesampai disana ditangkap, dibuang dan akhirnya wafat di pengasingan. Perilaku yang tidak asing, bukan?

Finally, inilah dia jantung hati Bukittinggi. Jam Gadang!!

Ini adalah gambar kota yang baru dibasuh hujan. Di bawah jam gadang ada taman kota. Tempat piknik keluarga, mungkin berkeinginan mampir di Plaza Bukittinggi yang baru berdiri. Saya kurang suka adanya mall atau plaza di Bukittinggi. Plaza ini menandai dituntunnya masyarakat untuk bersikap konsumtif dan menghabiskan banyak waktu berputar-putar disana. Walaupun tidak bisa ditampik, plaza ini membuka banyak lapangan kerja.

Belum cape kan? Mari jalan-jalan agak jauh sedikit ke Garegeh, ke Balaikota Bukittinggi. Pada keempat sisi Balaikota ini terdapat pintu masuk dengan atap bergonjong khas Minangkabau. Udah pada tau kan kenapa atap bergonjong dijadikan simbol kebanggaan masyarakat Minang?

Balaikota terletak di tempat yang lebih tinggi dari perumahan sekitar. Tempat ini salah satu alternatif warga buat jalan-jalan sore. Karena dari sana akan terlihat pemandangan kota Bukittinggi.

Masih di dalam komplek Balaikota ada Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Bukittinggi begitu bangga pada tokoh nasional ini sehingga setidaknya ada empat situs Bung Hatta, yaitu perpustakaan Bung Hatta, Monumen Bung Hatta, rumah kelahiran Bung Hatta dan Istana / Balai Sidang Bung Hatta. Di padang ada Universitas Bung Hatta disingkat UBH.

Angkatan yang sedang merayakan kelulusan akan merasa bangga sekali dan terangkat gengsinya bila mengadakan perpisahan di Istana Bung Hatta. dulu Bung Hatta pernah tinggal disini makanya dinamakan istana Bung Hatta.

Lalu ada kompleks pasar atas. Kalau mau barang bagus, carilah di Pasar atas, kalo mau barang murah carilah di Pasar Aur Kuning. Yah, trade off untuk pasar atas yang relative lebih nyaman. Di kaki lima akan ditawarkan benda-benda kerajinan setempat: modifikasi sandal khas anak daro (mempelai perempuan) warna-warni macam-macam model, tas dari tempurung kelapa, gantungan kunci rumah gadang, pigura dan tempat pulpen dengan hiasan rumah gadang, hiasan rumah gadang beraneka ukuran dan bahan dan masih banyak lagi yang lain, termasuk kaos bercirikan Minang.

Di lantai dua ada kerajinan tekstil, seperti mukena (harganya bisa sampe jutaan, fiuhh…., tapi sepadanlah kalo denger proses pembuatan bordirannya yg bisa makan waktu berbulan2), songket, kebaya, kain bahan, hasil tenunan Pandai Sikek, hiasan dinding dll. Lantai tiga adalah Niagara, tempat ngabisin duit di arena permainan dan food court.

Disebut Pasar Atas karena ada Pasar Bawah. Beda dengan pasar atas yang merupakan pasar turis, pasar bawah untuk beli kebutuhan masak harian seperti belut, daging, ayam potong dll. Dari pasar atas terlihat sebagian kota Bukittinggi.

Turun dari Pasar Atas ada tugu untuk mengenang perjuangan melawan penjajah, dan papan peringatan ini.

Di depannya ada taman monument Bung Hatta.

Lanjut turun menyusuri jalan Sudirman, ketemu SMPN 1 Bukittinggi, SMP saya.. :)

Selain itu ada Benteng Fort De Cock, Kebun Binatang Kinantan, Kampung Cina, Panorama, Lubang Jepang, Ngarai Sianok, Jenjang Seribu yang belum sempat saya kunjungi liburan kemaren, jadi ga ada fotonya. Mungkin teman2 saja yang cerita dan majang fotonya kalo berkenan mengunjungi kota kecil ini.

Sungguh menyenangkan punya tempat yang bisa kita sebut Rumah. Itulah Bukittinggi, kota kecilku yang sejuk.

Here I stand in the northern rain

And I can’t believe I am home again

And I can’t believe how’s nothing change

I am finding my way

Old park bench where I carved my name

Now it doesn’t stand alone

Now the trees all over grown

Many roads that I’ve travelled

Lead me astray

Here’s where my heart gonna stay

This is where I Belong

This is where I come from

All of the land I’ve roamed

Memories of my home

They keep beating strong

Coz this is where I belong…

~oleh Boyzone

Bagian kedua dari sebuah tetralogi.. (direncanakan begitu, mungkin juga pentalogi)

Senang, akhirnya bisa posting juga bagian ini. :)

 
29 Comments

Posted by on August 15, 2008 in fenomena

 

Corruption, why not?

Few days ago, Papa came to Depok. We shared news, about my activities here and he told me the condition in our home town. One of the topics was about corruptor arrest. Papa told me about someone who was suspected to be a corruptor. He was in jail. But many of us believed that he was just in the wrong time, in the wrong place.

He was a member of a negotiator team to buy an area related with local development plan. One ordinary day, might be someone just said, “Sir, this document need to be signed”, and he signed it, thought it was just a routine. Or probably he refused to receive the money, or the other member of the team didn’t tell him about that money. One thing we know that he was innocent. it was stated by those who involved in this case. Probably.

Wallahu’alam. The point here is about not everyone in jail are guilty. But the society’s point of view, have judged that everyone who in jail are all guilty. let’s concern about the negative impact. May be he will be proven not guilty, but how about the time he have wasted in jail, about the social punishment.

I think the biggest impact fell upon his family. His only son was a bright student, he was the top rank student in his school, He ever joined national mathematic competition. Now, that elementary school kid had no more bravery to go to school. He was punished by the society as a corruptor’s son. He couldn’t go to school. Poor bright child. What is his mistake so everyone think they have right to get him wrong for what his dad (probably) did?

Have those corruptor think about the impact to their family before taking that money?

In other side, based on news published in Kompas, December 6th, 2007, research held by transparency international Indonesia (TII) stated that police department, parliament, law institution and political party are on top rank as the most corrupt institution in Indonesia. Police and prosecutors arrest people, but who will arrest them? Who will judge them? (in this world, I mean, there is no doubt that there will be a Judgment Day) KPK? Can KPK reach this local corruptor?

Once upon a time, I needed SKKB (Surat Keterangan Kelakuan Baik) for scholarship. There was a long queue. While giving me my SKKB, they asked for money!! They had received salary, right? It was their responsibility to serve citizen, and they had been paid for that. And still, they asked for more.

 
13 Comments

Posted by on July 7, 2008 in fenomena

 

“Ga pake plastik, Mas”

Seperti yang pernah kita bahas di SMA bahwa plastik butuh 200-400 tahun supaya terurai. Ortu, pas kita baru lahir, syukuran dengan kubur sampah plastik di tanah, trus misalkan kita punya anak umur 25, punya cucu umur 50, looping deh tiap 25 tahun, sampah plastik itu baru terurai setelah delapan generasi. Fiuhh….lama juga.

Alah…. Bakar sajalah, gitu aja kog repot. :evil:

Eh…eh.. jangan sembarangan bakar. Hasil pembakaran plastik ini menghasilkan zat-zat beracun yang masuk ke udara yang kita hirup dan bisa menimbulkan akibat serius pada kesehatan seperti melemahnya kekebalan tubuh dan kanker paru-paru. Hah, ironis sekali bertahan hidup dengan membakar sampah hanya untuk mati karena kanker paru-paru.

Kalo kita lewat FHUI ada banyak banget tong sampah sesuai dengan jenis sampahnya dengan kata2 seperti: “don’t pretend like you don’t see me”. Two thumbs up buat FH. :)

Meneladani Jepang yang memilah sampah sesuai dengan jenisnya: sampah basah dan sampah kering, mulai dari setiap rumah warga. Sampah yang telah dipilah ini, akan diolah sesuai jenisnya. Gerakan ini dikuatkan Undang-undang dan ditunjang dengan pencerdasan masyarakat kenapa pemilahan sampah penting.

Dari sana, kertas bekas sobekan karcis, koran bekas, bekas pembungkus komputer dll, bisa diolah jadi pulp untuk dibuat jadi tisu toilet, kertas pembungkus lagi atau kertas daur ulang yg cantik itu. Plastik dijadikan serpihan plastik daur ulang untuk kemudian diolah jadi barang plastik generasi baru. Jadi, ga ada cerita dikubur atau dibakar.

Itu kan di Jepang? Disini kan belum ada…

Kita kan mahasiswa, siapa lagi yang akan melakukan pencerdasan kalo bukan kita? Mulai dari mengurangi konsumsi plastik seperti kalau jajan sebisa mungkin ga usah pake plastik, bawa tas kain dan cara-cara yang lebih kreatif.

Kalau kita bisa mengurangi konsumsi 1 plastik setiap hari, ada 365 plastik yang dihemat setiap tahun. Itu baru 1 orang, kalo 100, 10.000, 1000.000 ? Apalagi diperkirakan tahun 2012, (4 tahun lagi), jumlah penduduk dunia tembus 7 miliar jiwa. 7 miliar plastik yang terbuang tiap hari atau 7 miliar plastik yg dihemat tiap hari?

So saat belanja jangan pernah ragu bilang, “ga pake plastik, Mas”.

NB :

Selamat buat Mba Farania Gama Fasilkom UI 2003 :)

Semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah.. :)

 
16 Comments

Posted by on June 25, 2008 in fenomena, lingkungan

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.