
Masa ABG adalah masa yang kompleks. Saat menghadapi perubahan fisik dan mental, baru mulai menyadari pesona lawan jenis, serta kewaspadaan terhadap orang lain. Semuanya bersumber pada kompetisi dan tekanan yang berpusat pada diri sendiri.
Ternyata peer pressure juga terjadi pada wanita yang sudah memiliki anak. Bedanya kalo sekarang persaingan berfokus pada anak. Apakah anaknya gemuk ato ga, anaknya udah tumbuh gigi belum, udah bisa jalan umur setahun ato belum, rambutnya banyak ato ga, kepalanya peyang ato bulet, gampang deket sama orang lain ato ga, pinteran mana sama bayi lain, dll.
Peer pressure ada 2 sisi, menjadi superior ato inferior. Saya pernah mengalami keduanya. Pada bulan2 awal kelahirannya, berat Nafisa lumayan tinggi, walo ga gemuk2 amat. Nah, kalo ketemu ibu2 yang anaknya lebih tua tapi beratnya lebih kecil, nah mulai deh ga enak. Di satu sisi, seneng karena anak sehat, di sisi lain ga enak sama ibu itu karena mukanya udah cembetut aja.
Trus tadi juga di ruang menyusui, basa-basi sama orang yang nemenin ibu2 yang lagi nyusuin anaknya. Ditanya umur Nafisa berapa? saya jawab 1 tahun.
“Wah tinggi ya, ini aja 14 bulan cuma segini” kata ibu itu sambil nunjuk bayi yang lagi disusui temannya. “kirain udah 2 tahun” sambungnya.
Saya senyum aja, sempet lirik ibu si anak, tampangnya ga enak diliat. ya iyalah, ibu mana yang suka kalo anaknya dijadiin inferior sama anak lain.
Itu sebabnya sekarang kalo misalnya dalam kondisi kaya gitu, saya harus inget untuk balik muji anaknya. Misalnya, ibu2 di tempat bermain yang bilang anaknya “ini baru bisa jalan umur 18 bulan, lama ya?” pertanyaan retoris itu disampaikan sang ibu dengan tampang “please make me feel good, i am not happy with this” maka direspon dengan “tapi ngomongnya udah banyak ya, Bu”. Maka sayapun bisa berlalu tanpa harus merasa bersalah sama ibu2 itu karena membuatnya merasa sedih mengenai anaknya. Fiuh… being married and mom is sometime tough, terlebih bagi orang yang ga hobi basa-basi macem saya ini.
Lebih berat lagi karena saya tau gimana pedihnya jadi inferior. Jadi, ceritanya pada suatu acara saya lagi mangku Nafisa, trus dateng seorang nenek bawa cucunya yang masih 4 bulan, gendut banget. Trus dideketin ke Nafisa sambil bilang “Ayo, adu-aduan gendut mana, ayo mana yang lebih gendut”. Ga itu aja, di depan saya, Nafisa dibilang kurus, coba.
Just, FYI, walo sekarang di kalangan ibu2 intelektual (halah) gemuk =! sehat (gemuk tidak sama sehat), tetep aja, di milis dan grup ibu2 yang dibahas gimana caranya buat naikin berat badan anak. Belum kalo ada yang curhat kalo orang tua dan mertua dari si ibu, mindsetnya gemuk=sehat. Anak itu harus gemuk. Asi ga cukup harus minum susu formula. Sementara dikalangan para ibu2 intelektual (halah) bisa memberikan ASI adalah suatu kehormatan dan prestasi besar bagi seorang ibu. But, bentrokan kepentingan memperburuk situasi.
Begitulah, sepanjang acara yang sangat menyiksa saya itu karena Nafisa terus menerus dicerca kurus dengen membanding2kannya dengan bayi yang lebih gemuk itu, belakangan saya tau bayi gemuk itu minum susu formula. O gosh, betapa kata2 pedas serangan balasan udah di ujung lidah, tapi saya ga bisa, ga boleh, membalasnya. Seandainya orang-orang itu bisa menelan kata-katanya sendiri, mereka akan merasakan betapa pahitnya kata2 mereka.
Nah, begitulah, kisah peer pressure menjadi seorang ibu. Ini keluhan? benar. Curhat? absolutely. Tapi lebih kepada pembekalan (cieh.. bahasanya) bagi para calon ibu. Being mom is tough. Saat saya menyadari kenyataan itu, sementara karakter konkrit saya tidak sanggup diredakan dengan kata2 idealis seperti betapa mulianya menjadi seorang ibu, ternyata hanya perlu satu pernyataan sederhana: being mom is tough, terima itu dan lanjutkan hidup.

