Bumi Kita Indah…

Sumatera Barat memang tidak terkenal dengan timahnya, dengan minyaknya ataupun emas melimpah ruah. Namun, Sumatera Barat menyajikan pemandangan alam yang memikat. Saat kita menginjakkan kaki di Bandara International Minangkabau di Ketaping, mata akan langsung disuguhi nuansa hijau. Tidak banyak bangunan besar selain bangunan utama bandara tersebut. Hanya pepohonan diselingi rumah2 penduduk.

Di perjalanan ke Bukittinggi, kita akan menjumpai area persawahan, terkadang menguning, terkadang hijau, tergantung masanya. Sungai-sungai berkelok-kelok. Menopang kehidupan sawah-sawah. Di pagi hari akan kita temui embun atau kabut (seperti yang pernah disinggung Kemal).

Memasuki daerah Padang Pariaman, kita akan berdecak kagum, bertasbih memuji Sang Pencipta. Tidak akan ada manusia yang bisa menciptakan keindahan seperti ini. Begitu alami, dan kukuh. Jalan raya terletak di pinggang perbukitan. Setelah pagar pengaman, ada sungai berbatu-batu besar, jernih mengalir. Beriak menggoda. Suaranya akan menenangkan keresahan. Hilang ketegangan kantor, terror deadline, hanya kedamaian. Sampai disini, kita akan tergoda untuk berenang, merasakan kesejukan airnya. Tapi sayangnya sungai itu jauh di bawah sana, terhalang pagar pengaman. Tapi tenang, lebih dekat ke Bukittinggi ada tempat kita bisa berhenti, merendam kaki dan membiarkan bocah-bocah bermain air kegirangan.

Namun, sebelum itu, jangan lewatkan air terjun Lembah Anai. Air terjun ini terletak persis di tepi jalan, sehingga kalau mau kita tidak perlu turun kendaraan untuk melihatnya. Tapi kalo mau berhenti dan bermain air ya monggo, bisa saja.

Di belakang sungai tadi, ada perbukitan dengan pepohonan yang masih perawan. Pepohonan terus sampai batas cakrawala. Kadang bertanya-tanya ada apa saja di hutan lindung ini. Dulu ada harimau yang masih berkeliaran sampai ke jalan, sekarang tidak ada lagi. Mungkin jauh di hutan itu, masih ada harimau di puncak rantai makanan.

Memasuki kota Padang Panjang, salah satu kota favorit saya. Kota serambi mekah ini sejuk, lega, damai. Padang Panjang memiliki pesantran dan SMA yang disebut-sebut sebagai SMA terbaik di Sumatera Barat. Jadi ingin berdendang,

Suasana di kota santri

Asyik tenangkan hatii….

Keluar Padang Panjang, ada danau buatan di kaki gunung Singgalang. Gunung Merapi duduk mendampingi Singgalang. Bagai mawar merah, cantik namun berbahaya, berpotensi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya sewaktu-waktu.

Bumi kita indah ya. Indah sekali. Saya belum bercerita tentang Lembah Harau di Payakumbuh yang seakan air terjun alami dimana-mana, Manisnya panorama Danau Maninjau di Puncak Lawang, Danau Singkarak. Pun yang sudah diceritakan, tidak tergambarkan keindahannya secara sempurna, terbatasi kemampuan menulis saya. Ini baru di Sumatera Barat, belum di Kalimantan, Sulawesi, Irian, Nusa Tenggara, lebih jauh lagi ke Skotlandia, New Zealand dll.

Bumi kita indah. Indah sekali. Namun, disana-sini mulai terdesak oleh makhluk melata yang menginang padanya. Hutan, sang penyeimbang, dibabat, dijadikan komoditas ekonomi dan politik. Seperti peralihan fungsi hutan Bintan, penuh suap dan saling tuding. Inilah wajah hutan kita sekarang… :(

Papan peringatan ini hanya seonggok besi tua…

Perairan, sumber kehidupan, dikontaminasi dengan limbah pabrik dan limbah rumah tangga. Perusahaan pencemar lingkungan akan masuk daftar hitam dan seharusnya ditutup, namun masiiiih saja beroperasi. Perusahaan hitam itu bisa melenggang dengan leluasa, antara lain berkat kekuatan uang. Mereka sanggup membiayai penelitian tandingan demi memoles citra, memperbaiki rapor maupun mementahkan tuduhan.

Mari menengadah ke langit dan lihat ozon bumi kita berlubang dimana-mana seperti baju usang yang digerigiti tikus. Panas yang terjebak di bumi dan tidak bisa kembali ke angkasa luar karena terhalang CO2 dan uap air.

Bumi kita indah. Indah sekali. Namun, sayang, anak dan cucu kita kebagian sisa-sisa kerusakannya. Saat kita bercerita tentang beruang kutub, penguin, elang ekor merah, kita hanya akan memperlihatkan gambar kepada mereka. Karena beruang kutub terkena banjir dan mati kelelahan saat berenang mencari daratan untuk mereka tinggali.

Bumi kita indah. Indah sekali. Namun, akankah beberapa generasi setelah kita berpendapat sama?

Mudah-mudahan. Hanya jika kita mulai bergerak meninggalkan ketidakacuhan kita. Saat kita mulai mengurangi konsumsi plastik, saat kita bergerak melakukan pengoptimalan peralatan rumah seperti saran-saran bagus disini, saat kita sudi mengurangi pemakaian kendaraan donatur gas rumah kaca dan beralih ke bike to campus and work. Tidak perlu terlalu ekstrim, sederhana saja, karena Thousand miles journey begins with a single step.

Bumi kita indah. Indah sekali.

:)

26 Responses to this post.

  1. suatu kali, mungkin, saya ingin jalan-jalan ke tempat seperti itu sendirian saja. tempat yang jauh dari keramaian tanpa diganggu telepon genggam, komputer apalagi internet. tapi kapan ya? :roll:

    btw, tiba-tiba jadi kepikiran. backpacking ke daerah sana asyik kali ya? :mrgreen:

    ~sedang sangat bosan
    ~berurusan dengan komputer :(

    Reply

  2. MasyaAllah…
    Jadi inget kampung halaman, Pulang kampung ah,,, heh

    Reply

  3. Posted by Meri on July 31, 2008 at 9:18 am

    @yud1: he-eh, saya juga menginginkannya. jauh dari komputer dan K*… :mrgreen:

    Reply

  4. Posted by Meri on July 31, 2008 at 9:19 am

    @ikpoe: sukabumi juga bagus…
    pengen kesana kapan2..

    Reply

  5. Kayaknya pernah baca di sini :smile: .

    Reply

  6. Posted by almushfi on August 2, 2008 at 3:47 pm

    Bumi ini memang indah…tapi tidak hanya bumi ini yang indah. Alam semesta di luar sana pun sangat indah…”begitu indah”…
    Tapi “Hidup tak selamanya indah”….oleh karena itu “biarkan semua wajar adanya”…
    hahaha….

    Reply

  7. Posted by Meri on August 3, 2008 at 10:18 am

    @Agung: wah ada situs blogger Padang… makasih Gung
    memang mirip …

    Reply

  8. Oooo… ini oleh2 mudiknya ya…

    Kalau yang seperti itu sih TIDAK indah

    tapi SANGAT INDAH… :)

    Reply

  9. Jadi semakin ingin pergi ke Sumbar.
    Sejak tinggal di asrama (dulu), saya dah g sabar pingin jalan2 ke Aceh (setelah dengar cerita Aulia). Pingin ke Sumbar karena dengar cerita perang2an dari Rian (masih inget Maulia Petrian?). :grin:

    ~~kerindua seseorang yang lahir, tumbuh, besar, sekolah, kuliah di “kota”. :sad:

    Btw, avatar ganti ya…?

    Reply

  10. Posted by Meri on August 4, 2008 at 7:04 am

    @suharjono S.Kom: dan itu episode 1, insya Allah masih akan ada episode berikutnya…

    Reply

  11. Posted by Meri on August 4, 2008 at 7:05 am

    @Agung: mudah2an suatu saat nanti bisa backpacking ke sana…

    he-eh ganti…

    Reply

  12. Posted by yanssp on August 4, 2008 at 9:49 pm

    Senang sekali saat ini saya dberi kesempatan hidup di kota depok. Jadi, bisa lebih senang kalo lihat tempat2 indah spt itu. Jd inget kota kelahiran… :-)

    eh, gambar di avatar itu… ternyata meri sudah… :-)

    Reply

  13. Posted by Meri on August 6, 2008 at 2:31 am

    @yans: he-eh, keindahan itu baru berasa lebih, waktu udah jauh, saat masih disana berasa biasa saja.

    “eh, gambar di avatar itu… ternyata meri sudah… :-)

    iya, yans :D

    Reply

  14. Posted by ikhsan on August 7, 2008 at 4:17 am

    Nice post :D
    Our hometown is really beautiful
    Good good

    Reply

  15. Posted by izzul047 on August 9, 2008 at 4:23 pm

    ASS.

    Reply

  16. Posted by izzul047 on August 9, 2008 at 4:26 pm

    ASS.
    Wah ternyata org rantau ya di ui, awak kampuang di bkt….
    anyway,,, mungkin nanti bisa g’ qta berkerjasama, saya lihat meri menjabat di bem ui ya. sama dg sama di bem fmipa unand di dept informasi. mungkin nanti qta bisa share. harap dukungannya utk kejayaan bangsa

    Reply

  17. @Imairi Eitiveni, S.Kom*: Wah S.Kom nya ndak usah ditulis lah Ni.. Kan malu… hehe.. :)

    *Insya Allah setahun lagi.. (ya kan..?)

    Reply

  18. ditunggu episode2 selanjutnya deh..

    Reply

  19. Posted by Meri on August 15, 2008 at 8:07 am

    @ikhsan: absolutely…. :)

    @izzul047: iya, kebetulan salah seorang pengurus BEM Fakultas Ilmu Komputer UI.
    Sip, kerjasamanya saya tunggu… :)

    @suharjono: iya, rencananya gitu, insya Allah. episode 2 udah keluar tuh.

    insya Allah ada episode tiga dan empat (serta mungkin lima).
    mudah2an ga bosen..

    Reply

  20. [...] Perjalanan Ke Bukittinggi (cerita ini ditulis berdasarkan informasi perjalanan yang ada di blog ini) [...]

    Reply

  21. Posted by Cybex on October 21, 2008 at 4:22 pm

    beatiful land. thanks god

    Reply

  22. Posted by hyakken on January 6, 2009 at 7:00 am

    Sayang orang sumbar sekarang sepertinya tidak lagi ’sealim’ dan sebaik dulu. Waktu mudik 2008 kemarin, dalam perjalanan solok-bukittinggi setiap singgah di masjid/musholla tempat wudhunya+toiletnya kotor2 :( Pengelolaan tempat wisatanya juga kurang baik (lembah anai, singkarak, dll). Ada apa dengan orang2 sumbar sekarang… (walau saya lahir dijakarta)

    Reply

  23. Posted by Meri on January 28, 2009 at 8:04 am

    @cybex: yap, absolutely :)

    @hyakken: urang awak kah?
    Ya, memang memprihatinkan. :’(
    Sebagai generasi muda yang baik dan benar, mari kita mulai dari diri sendiri. Gerakan siram toilet sehabis dipakai ….

    Reply

  24. [...] ini indah. Itu yang selalu saya imani. Cerita2 sebelumnya, Bukittinggi, Teluk Kuantan, Payakumbuh, lalu [...]

    Reply

  25. Posted by Reny andreaningsih on October 4, 2009 at 3:18 pm

    kapan ya bs pergi ke sumbar???pengenn bgtt ke padang pariaman nyusulin abang hehe…..

    Reply

Respond to this post