May 26, 2008...7:40 am

orang2 hebat

Jump to Comments

   

Sudah menghabiskan 21 tahun jatah hidupku. Sisa berapa ya? 21 tahun yang berwarna-warni. Bertemu dengan bermacam-macam orang yang menginspirasi.

 

Adalah dia yang begitu tawadhu, begitu rendah hati, dan bersahaja. Seorang yang pendiam. Seorang yang tidak menimbulkan ancaman bagi orang di sekitarnya. Seorang yang biasa saja. Bagaimana dia tidak menuhankan pendapat orang lain terhadapnya. Dia bekerja dalam diam. Melihatnya, hidup bisa jadi begitu normal.

 

Ada lagi orang ini yang begitu bersemangat menjalankan amanahnya. Bergerak terus. Senantiasa memberikan manfaat dan contoh pada orang di sekelilingnya. Orang ini menjadi inspirasi bagiku. Setiap kali bermalas2an, ingat bahwa orang ini sedang mengerjakan pekerjaan X, sedang mengikuti majelis ilmu Y, atau sedang belajar sesuatu yg baru, cukup menggerakkan untuk mengeluarkan ikhtiar terbaik. Kalau Muhammad Fathi Farhat mengatakan bahwa hasratnya adalah surga, orang ini hasratnya adalah ilmu. Namanya (yang diencrypt) kutulis di kamar, sebagai salah satu pendorong.

 

Mereka bukan tanpa cela, tapi ada sisi pada mereka yang menjadi inspirasi dan pembangkit semangat bagi orang lain. Di sisi itu, mereka hebat sekali.

 

 

11 Comments

  • Assalamu’alaykum.

    ehem2… ternyata punya idola juga niy? hehe..

    Dasar gua-nya yang suka mikir sendiri. Gua malah sering cemburu or iri kalo liat orang lain lebay dari gua.. hehe.. jadi lebih sedikit belajar dari orang lain. Gua malah lebih semangat kalo ada orang yang mau nemenin bukan cuma ngomng aja, tapi ikut bareng2 ngalamin aktifitas ama gua.. itu aja dah bikin gua semangat. Dan gua gak peduli dia orangnya lebih jago dari gua apa ngga.. tapi yang penting enak diajak bercanda dan kalo perlu enak diajak debat or berantem ringan.. hihi.. seru juga tuh.

    Muhammad Fathi Farhat.. bom syahid? (mudah2an)

    Hm.. gak terlalu inspiring buat gua. Orang bisa membunuh dirinya dan orang lain dengan bom.. hm… Justru untuk tetep berjuang dan hidup itu lebih sulit ketimbang mati. Gua emang gak tau kayak apa di palestin sono, n pemahaman gua tentang agama masih kurang. Tapi apa iya dengan bom syahid kedamaian dan kemenangan yang dicita-citakan akan tercapai? justeru animo buruk akan muncul (IMO).

    Malah mungkin seorang pembunuh yang menyelamatkan kucing yang akan ditabrak mobil di jalan, lalu di mati.. mungkin itulah yang dinamakan syahid.. Wallahu’alam..

    Hm.. ada yang pernah nonton Gundam Seed.. (penggemar anime) itu film itu bikin gua inspired..hehe..

    Wassalamu’alaykum..

  • @ dodol : waalaykumussalam,

    “Justru untuk tetep berjuang dan hidup itu lebih sulit ketimbang mati”

    setiap hari kita bangun, siap2 ke kampus, ato ke kantor. di tempat kerja, menghadapi masalah dengan bos ato teman, ato deadline tugas.

    sementara di sana, bahkan pada saat lari pagipun bisa kena peluru “nyasar” (bisa nyasar bisa ga). orang ini menyongsong kematiannya dengan senyum. justru hal seperti itu yg membutuhkan keberanian lebih daripada hidup dengan menghadapi resiko deadline tugas atau pacar selingkuh.

    salam hormat untuk mas Fathi Farhat.

  • Sebaiknya dikaji ulang… coba baca http://wahonot.wordpress.com/2007/06/22/bom-syahid-atau-bom-bunuh-diri/

    Dan yang ingin saya kutip di sini adalah “Dan tidaklah setiap orang yang mati dalam jihad melawan orang kafir dinamakan syahid. Al-Imam BUKHARI membawakan sebuah bab dalam SHAHIH-nya (3/1061): Bab TIDAK BOLEH MENGATAKAN FULAN SYAHID. Kemudian beliau membawakan hadits seorang yang berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hebatnya sehingga orang-orang banyak memujinya, tetapi ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Dia adalah penghuni Neraka”. Ketika orang ini terluka parah dalam suatu peperangan melawan orang kafir, maka ternyata dia tidak tahan terhadap sakitnya dan menusukkan pedang ke dadanya hingga mati.Di dalam hadits di atas disebutkan bahwa orang ini berjihad tetapi dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai ahli neraka, dan ternyata dia bunuh diri dalam suatu peperangan. Renungkanlah hal ini wahai saudara-saudaraku! Maka jihad yang diterima di sisi Allah adalah jihad yang sesuai syar’i, yaitu yang memakai aturan-aturan Islam. ”

    Dan satu lagi “Adapun aksi bom bunuh diri di negeri-negeri kaum muslimin (contohnya Indonesia- ), maka hukumnya adalah haram, karena akan menyebabkan melayangnya jiwa-jiwa yang tidak berdosa dari kaum muslimin.”

    Saya tidak tahu balasan apa yang Allah Ta’ala berikan kepada Muhammad Fathi Farhat.. tp janganlah terburu-buru mengatakan Beliau syahid..

    ~hanya menyampaikan apa yang saya ketahui benar
    ~tidak ada yang lebih ku idolakan selain Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam :)

  • @ onlYne : ya, masalah balasan diluar kuasa kita. postingan ini hanya tentang sisi manusia yg bisa dijadikan inspirasi, mereka bukannya tanpa cela.

    dan idola, teuteup: Rasulullah.

  • Tertarik dengan diskusi antara Meri dan onlYne.

    Bom syahid (begitu Dr. Yusuf Qordhowi menyebutnya) adalah salah satu cara dalam berperang. Tujuan “membunuh diri” dengan cara ini berbeda dengan kisah Sahabat Rosulullah yang onlYne ceritakan.

    Jadi menurut saya (tolong benarkan jika saya salah, saya hanya orang yang menyampaikan pendapat karena ingin mencari kebenaran) strategi bom syahid tidak bisa dihukumi sama dengan kisah sahabat tadi.

    Mengenai siapa sasaran dan korban serangan, hal itu dikembalikan lagi pada prinsip serangan itu sendiri. Tanpa bom bunuh diri pun, serangan dalam perang bisa mengorbankan orang yang tidak tepat. Saya tidak sedang membenarkan pembunuhan terhadap manusia yang tidak berdosa. Tetapi saya mencoba untuk menjelaskan bahwa strategi Bom Syahid hanya strategi dalam berperang. Bisa sederajat dengan strategi berperang yang lain.

    Pada masa kekhalifahan Sultan Muhammad Al Fatih, strategi sejenis Bom Syahid (yang mengorbankan diri seseorang) pernah dilakukan. Seorang prajurit rela mengorbankan dirinya dilempar kedalam benteng Byzantium (tentu yang penuh dengan tentara Byzantium) untuk membuka gerbang benteng dari dalam. Peristiwa ini menjadi salah satu faktor penting kemenangan pasukan muslim terhadap imperium Byzantium.

    Tolong benarkan jika salah.
    ~maaf Mer, tulisan saya jadi panjang….

  • @agung: hmm perspektif yg menarik. saya sependapat. makasih…

  • bom bunuh diri di Indonesia sendiri berbeda konteks dari bom syahid M. Fathi Farhat. Karena di Indonesia kan tidak dalam kondisi perang. Jadi tidak bisa dipukul rata.

    ~Cuma menambahkan

  • Hadits yang saya kutip bukan untuk menyamakan kisah Muhammad Fathi Farhat dengan Sahabat tersebut, tetapi untuk menekankan tidak bolehnya mengatakan seseorang telah syahid, seperti yang terjadi sekarang, banyak sekali mengatakan si fulan syahid… Hanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang boleh mengatakan itu karena Beliau mendapat wahyu dari Allah kalau seseorang syahid. Jika kita memberi kesaksian bagi pribadi tertentu bahwa ia syahid, maka dengan itu kita berarti telah memberinya kesaksian bahwa ia akan masuk surga.

    Sedangkan apakah boleh atau tidaknya tentang bom bunuh diri di palestine, para ulama punya pendapat-pendapat terhadap itu yang bisa dibaca di link yang saya berikan. Sedangkan yang Agung berikan salah satu pendapat, dari Dr. Yusuf Qordhowi.

    Kalau strategi yang dipakai pada masa kekhalifahan Sultan Muhammad Al Fatih, saya tidak bisa memberi komentar… Yang bisa dijadikan sunnah adalah sunnah Khulafa ur Rasyidin seperti dalam hadits diperintahkan mengikuti sunnah Rasulullah dan sunnah khulafa ur rasyidin.

    Untuk Jono, sepertinya juga salah menafsirkan tujuan saya mengutip hadits tersebut, memang tidak dipukul rata, silahkan baca link tersebut.

  • Assalamualaikum wr wb
    Wah, onlYne, saya semakin tertarik belajar dari Anda.

    Memang benar, bahwa pendapat tentang bom syahid yang saya tuliskan tersebut adalah salah satu pendapat (tentu saja, wong saya hanya menyampaikan satu pendapat :grin: ).

    Seorang yang syahid di medan perang, tidak perlu dimandikan sebelum dikubur. Syuhada tersebut dikubur dengan pakaiannya, lengkap dengan luka dan darahnya. Kata Rosul SAW, itu semua akan menjadi saksi bagi syuhada tersebut.

    Nah, saya ingin bertanya. Apakah setelah Rosul SAW wafat, bagaimanakah para pejuang Islam-yang membela agama Allah-yang gugur di medan perang dimakamkan? Apakah tidak perlu dimandikan? Kalau tidak perlu, berarti beliau adalah syuhada (tanpa adanya Rosul, orang-orang di sekitarnya menganggap beliau adalah syuhada).

    Kalau memang tak satupun dari kita, tanpa adanya Rosulullah SAW tidak boleh menghukumi seseorang sebagai syuhada,maka semua orang yang gugur di medan jihad tetap harus dimandikan jenazahnya? Kalau hal ini benar, maka Khulafaur Rasyidin, seluruh pejuang yang gugur di medan jihad harus dimandikan sebelum dikubur. Benarkah kenyataannya seperti itu?

    -Agung…, maaf Meri, blog mu jadi tempat diskusi. Moga-moga jadi ilmu yang bermanfaat.

  • [onlYne]

    wa’alaykumussalam wa rahmatullaahi wa barakaatuh

    Pertanyaan yang bagus, Gung..

    Ini dari suatu artikel yang disalin dari buku Majmu’ Arkanil Islam, edisi Indonesia Majmu Fatawa Solusi
    Problematika Umat Islam Seputar Akidah dan Ibadah, Bab Aqidah, hal. 208-210
    Pustaka Arafah:APA HUKUM PERKATAAN FULAN SYAHID ?

    –cut—

    Akan tetapi orang yang secara dhahirnya baik, maka kami berharap dia syahid.
    Kami tidak bersaksi atas syahidnya dia dan juga tidak berburuk sangka
    kepadanya. Raja’ (berharap) itu satu posisi di antara dua posisi (bersaksi
    dan buruk sangka), akan tetapi kita memperlakukannya di dunia dengan
    hukum-hukum syahid, jika ia terbunuh dalam jihad fi sabilillah. Ia dikubur
    dengan darah di bajunya tanpa menshalatinya. Dan untuk syuhada’ yang lain,
    dimandikan, dikafani dan dishalati.

    –cut—

  • @agung, onlyne, dan jono : jadi seru diskusinya. Makasih opininya

Leave a Reply